Navaswara.com — Memulai bisnis kuliner di tengah persaingan restoran cepat saji membutuhkan keberanian membaca peluang sekaligus ketelitian mengelola usaha. Perjalanan Rocket Chicken menjadi salah satu gambaran bagaimana bisnis yang berangkat dari satu gerai dapat berkembang menjadi jaringan restoran dengan ribuan karyawan dan jangkauan pasar yang luas.
Didirikan pada Februari 2010 oleh Nurul Atik, Rocket Chicken memulai operasionalnya dari sebuah gerai di Semarang, Jawa Tengah. Mengusung konsep waralaba (franchise) dengan harga terjangkau, bisnis ayam goreng tersebut kini telah berkembang menjadi lebih dari 1.450 gerai di 90 kota di Indonesia.
Atik mengungkapkan, sejak awal dirinya membidik konsumen kelas menengah ke bawah yang memiliki potensi pasar luas. Strategi tersebut diwujudkan melalui harga yang ramah di kantong, pilihan menu beragam, serta ekspansi gerai secara bertahap.
“Di awal, kami fokus membuat gerai ramai dan mengenalkan produk kepada konsumen dulu. Walaupun awalnya belum untung, yang penting ramai dulu. Setelah berjalan, kami mengevaluasi biaya dan harga agar usaha tetap sehat. Kami juga belajar bahwa pengembangan wilayah harus dilakukan dengan perhitungan, tidak sekadar membuka gerai di banyak kota,” ujar Atik saat ditemui di kediamannya di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Nama Rocket Chicken sendiri lahir dari harapan Atik agar bisnisnya terus meroket. Dari tujuh karyawan saat pertama berdiri, perusahaan kini mempekerjakan sekitar 13.000 orang. Pertumbuhan tersebut turut membawa tantangan baru, terutama dalam mengelola keuangan, administrasi, dan pembayaran gaji karyawan yang tersebar di berbagai wilayah.
Dukungan Layanan Perbankan untuk Ekspansi Usaha
Seiring perkembangan bisnis, Rocket Chicken memanfaatkan layanan perbankan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) untuk mendukung kebutuhan transaksi dan operasional. Atik mengaku telah menggunakan layanan BCA sejak usahanya mulai menghasilkan pendapatan.
“Pelayanan menjadi pertimbangan penting karena dalam menjalankan usaha, kemudahan bertransaksi dan mengelola keuangan sangat dibutuhkan,” tuturnya.
Selain layanan transaksi, BCA turut memberikan fasilitas pembiayaan untuk pengembangan bisnis serta pelatihan bagi tim manajemen Rocket Chicken. Perusahaan juga menggunakan layanan payroll BCA Bisnis untuk mengelola pembayaran gaji secara terprogram.
“Untuk penggajian, sekarang prosesnya lebih mudah karena sudah terprogram. Kami bisa memantau apakah gaji karyawan sudah masuk sehingga pengelolaannya lebih praktis,” kata Atik.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, pertumbuhan Rocket Chicken menggambarkan pentingnya akses pembiayaan dan layanan perbankan bagi pelaku usaha yang ingin memperluas bisnis.
Hingga September 2026, kredit UKM BCA tercatat mencapai Rp149,2 triliun atau tumbuh 15,4 persen secara tahunan (year-on-year). Angka tersebut menjadi bagian dari pertumbuhan kredit produktif BCA sebesar 17,2 persen menjadi Rp831 triliun.
BCA juga memperluas dukungan bagi UMKM melalui berbagai program, termasuk BCA Expo 2026 dan BCA UMKM Fest 2026 yang melibatkan lebih dari 1.600 pelaku usaha. Ada pula penawaran Kredit Multiguna Usaha (KMU) Hari UMKM 2026 dengan suku bunga mulai 5,81 persen efektif per tahun.
Kisah Rocket Chicken memperlihatkan bahwa pertumbuhan bisnis kuliner membutuhkan perhitungan yang matang, mulai dari mengenali konsumen, menjaga kesehatan keuangan, hingga menyiapkan sistem operasional yang mampu mengikuti skala usaha. Ketika jumlah gerai dan karyawan terus bertambah, pengelolaan bisnis yang terstruktur menjadi bagian penting agar ekspansi dapat berjalan berkelanjutan.

