Strategi Pemasaran Madrasah, Profesionalitas dan Nilai Spiritual Jadi Kekuatan

Navaswara.com – Di tengah persaingan lembaga pendidikan di kawasan perkotaan, memasang spanduk dan aktif membuat konten media sosial belum tentu cukup untuk menarik minat masyarakat. Madrasah perlu memahami kebutuhan orang tua, membangun keunggulan yang relevan, serta memastikan kualitas layanan benar-benar dirasakan.

Gagasan tersebut disampaikan praktisi manajemen pemasaran pendidikan, Dr. Moh. Miftahul Arief, setelah dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik Program Doktor UIN Walisongo Semarang. Pengumuman tersebut berlangsung di Aula Prof. Tgk. Ismail Yakub, Semarang, Sabtu (7/11/2026).

Menurut Arief, tantangan pemasaran madrasah di perkotaan tidak semata-mata berkaitan dengan kurangnya promosi. Persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah kemampuan lembaga dalam membaca kebutuhan masyarakat, menentukan segmentasi, serta menunjukkan keunggulan yang membedakannya dari lembaga pendidikan lain.

“Bukan kurang promosi masalahnya, lebih ke madrasah di wilayah urban belum memahami kebutuhan masyarakat, belum memiliki pembeda yang jelas, termasuk belum mampu membuktikan janji melalui program dan pelayanan,” tegas Arief.

Koordinator Bidang Pengembangan Pendidikan Madrasah LP Ma’arif Jateng itu menjelaskan, pemasaran madrasah perlu diawali dengan evaluasi kondisi internal, pemetaan kebutuhan masyarakat, dan penentuan keunggulan yang realistis sesuai kapasitas lembaga.

“Promosi hanya membuat masyarakat urban melihat. Agar mereka memilih atau istilahnya Call-to-Action, lembaga harus mempunyai program yang relevan, pelayanan yang konsisten, dan bukti mutu yang dapat dipercaya,” katanya.

Empat Model Pemasaran Sesuai Karakter Madrasah

Dalam disertasinya, Arief merumuskan Model Resonansi Urban-Spiritual, sebuah pendekatan yang memadukan profesionalitas pengelolaan lembaga dengan kekuatan nilai-nilai keislaman.

Model tersebut menawarkan empat strategi pemasaran yang dapat diterapkan sesuai karakter, kebutuhan masyarakat, dan kemampuan masing-masing madrasah.

“Ada model Professional-Premium, yang mengandalkan program khas, tata kelola profesional, dan fasilitas kuat,” ujar Founder AIO Foundation itu.

Model kedua adalah Balanced-Moderate, yang mengutamakan keseimbangan antara mutu pendidikan, kenyamanan pelayanan, dan keterjangkauan biaya.

Ketiga, Achievement-Inclusive, yakni strategi yang menjadikan prestasi sebagai keunggulan lembaga tanpa menutup akses bagi masyarakat.

Sementara model keempat, Grassroots-Authentic, bertumpu pada biaya pendidikan yang terjangkau, keteladanan guru, kekuatan tokoh, serta kedekatan sosial dengan lingkungan sekitar.

“Yang menarik keempat, Grassroots-Authentic. Model ini tidak mewajibkan lembaga pendidikan menonjol di bangunan modern nan megah, namun bertumpu pada biaya terjangkau, keteladanan guru, kekuatan tokoh, dan kedekatan sosial,” jelasnya.

Arief menegaskan, keempat model tersebut bukan tingkatan yang menunjukkan satu madrasah lebih unggul daripada madrasah lainnya. Setiap lembaga memiliki karakter dan segmen masyarakat yang berbeda.

“Keempatnya bukan peringkat. Madrasah rakyat tidak lebih rendah daripada madrasah premium. Ukurannya adalah kesesuaian strategi dengan kebutuhan masyarakat, kemampuan lembaga, dan mutu yang diberikan,” imbuhnya.

Karena itu, madrasah yang menawarkan program tahfiz, misalnya, perlu mampu menjelaskan metode pembelajaran, target capaian, kompetensi guru, hingga perkembangan peserta didik. Keunggulan tidak cukup disampaikan melalui materi promosi, tetapi harus dapat dirasakan oleh orang tua.

Kepala madrasah tiga periode yang pernah meraih penghargaan Kepala Madrasah Berprestasi dari Kantor Kemenag Kota Semarang itu juga mengingatkan bahwa pemasaran tidak berhenti pada penerimaan peserta didik baru. Reputasi lembaga, pelayanan kepada orang tua, jejaring kemitraan, hingga penggalangan dana turut menjadi bagian dari keberlanjutan pendidikan.

“Fundraising tidak dimulai dengan meminta dana. Lembaga harus lebih dahulu mempunyai program yang jelas, pelaporan yang terbuka, dan pengelolaan yang dipercaya,” katanya.

Peneliti BRIN Tekankan Pentingnya Riset

Pandangan tersebut sejalan dengan penilaian Kepala Pusat Riset Agama dan Kepercayaan (PRAK) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Aji Sofanudin. Ia menilai pemasaran madrasah perlu melampaui aktivitas promosi penerimaan peserta didik baru.

“Strategi pemasaran yang baik harus berbasis pada pemetaan kebutuhan masyarakat dan kemampuan internal lembaga. Madrasah perlu mengetahui keunggulan yang benar-benar dimiliki, kemudian menerjemahkannya menjadi program pendidikan dan pelayanan yang relevan,” ujarnya.

Peneliti yang juga doktor Manajemen Pendidikan tersebut menilai pendekatan yang dikembangkan Arief menarik karena mempertemukan profesionalitas manajemen dengan karakter dan nilai spiritual madrasah.

Menurutnya, tantangan berikutnya adalah menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam praktik pengelolaan yang terukur.

“Ke depan, tantangannya adalah bagaimana gagasan tersebut diterjemahkan menjadi praktik pengelolaan yang terukur. Riset pemasaran pendidikan perlu menjadi dasar bagi madrasah dalam menentukan program unggulan, memperbaiki pelayanan, membangun kepercayaan masyarakat, dan menjaga keberlanjutan lembaga,” katanya.

Pengalaman Lembaga Pendidikan di Grobogan

Pentingnya memahami kebutuhan masyarakat juga terlihat dari perkembangan lembaga pendidikan yang dikelola Misbachul Munir di Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan.

Berawal dari skala kecil, lembaga tersebut kini menaungi berbagai layanan pendidikan, mulai dari penitipan anak, playgroup, taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), hingga Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

“Awalnya kami tidak langsung memiliki banyak unit pendidikan. Lembaga tumbuh bertahap karena kami terus membaca kebutuhan masyarakat dan menyesuaikan layanan. Promosi tetap penting, tetapi masyarakat bertahan dan merekomendasikan lembaga karena merasakan manfaatnya,” kata Munir.

Ia mengaku kerap berdiskusi dengan Arief, yang menjadi konsultan di lembaganya, terkait pengembangan dan strategi pemasaran pendidikan.

“Yang kami bahas bukan sekadar bagaimana membuat masyarakat tertarik, tetapi apa yang harus dibenahi agar lembaga benar-benar layak dipilih. Ketika program kuat, pelayanan baik, dan orang tua percaya, promosi berjalan lebih alami melalui rekomendasi masyarakat,” ujarnya.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pengembangan lembaga pendidikan membutuhkan lebih dari sekadar aktivitas promosi. Program yang relevan, pelayanan berkualitas, tata kelola yang baik, dan kepercayaan orang tua menjadi bagian penting dalam membangun keberlanjutan lembaga.

Bagi madrasah di perkotaan, langkah awalnya adalah mengenali kebutuhan masyarakat dan memastikan keunggulan yang ditawarkan benar-benar diwujudkan dalam layanan pendidikan sehari-hari.

Baca beritanya, dapatkan inspirasinya di Navaswara.com.