Satgas Baru Kemenko PMK: Menyambung Riset dengan Dunia Nyata

Navaswara.com – Indonesia tidak kekurangan peneliti hebat, tetapi masih banyak hasil riset yang berhenti di meja laboratorium atau jurnal ilmiah. Inilah tantangan besar yang coba dijawab oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) melalui langkah baru: pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Koordinasi Riset, Inovasi, dan Kemitraan Industri.

Langkah ini bukan sekadar birokrasi baru, tetapi upaya konkret untuk memastikan hasil penelitian benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat dan dunia usaha. “Selama ini, hanya 10–15 persen hasil riset yang dimanfaatkan industri. Selebihnya berhenti di publikasi. Satgas ini diharapkan menjadi jembatan antara peneliti, kampus, dan dunia industri,” ujar Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan Kemenko PMK, Ojat Darojat, dalam rapat koordinasi di Jakarta, Rabu (22/10/2025).

Satgas ini dirancang dengan empat pilar utama: Satu Data Aksi, Satu Jejaring Aksi, Satu Transformasi Regulasi, dan Satu Orkestrasi Aksi. Di atas kertas, konsep ini sederhana. Namun di baliknya tersimpan ambisi besar: menyatukan langkah lintas kementerian, lembaga riset, dan pelaku industri agar hasil inovasi tidak berhenti pada tataran wacana.

Katiman, Asisten Deputi Riset, Teknologi, dan Kemitraan Industri Kemenko PMK, menyebut Satgas ini sebagai “titik temu antara laboratorium dan pabrik, antara ide dan pasar.” Melalui koordinasi lintas sektor, ia berharap ada percepatan nyata dalam hilirisasi inovasi yang berkelanjutan.

Gagasan ini mendapat sambutan hangat dari dunia akademik dan industri. Dirjen Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, menilai Satgas akan membawa arah baru bagi ekosistem riset Indonesia. “Dengan koordinasi yang kuat, riset akan lebih mudah diimplementasikan dan hasilnya bisa langsung dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Sementara dari kalangan dunia usaha, Wakil Ketua Kadin Bidang Ketenagakerjaan, Adi Mahfudz, menegaskan dukungan penuh Kadin. “Kami siap membantu menghubungkan peneliti dengan industri agar hasil riset sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan,” katanya.

Kemenko PMK memastikan Satgas ini tidak akan berjalan sendiri. Dukungan datang dari BRIN, LPDP, Kementerian Perindustrian, Bappenas, dan Kadin Indonesia yang akan bergabung melalui Kadin Indonesia Institute.

Pada akhirnya, inisiatif ini mencerminkan semangat baru: menjadikan riset bukan sekadar ilmu, tetapi sumber solusi dan kesejahteraan. Karena sebagaimana ditegaskan Katiman, “Tujuan akhirnya sederhana, tetapi bermakna agar riset tidak berhenti di ruang baca, melainkan hidup di tengah masyarakat.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *