Ayah Tak Lagi Sekadar Suami Siaga, Pemerintah Dorong Gerakan Ayah Siaga Cegah Stunting

Navaswara.com – Seorang ayah tidak cukup hanya hadir ketika anak lahir. Sejak masa kehamilan hingga anak melewati usia dua tahun, keterlibatan ayah dalam menjaga kesehatan, gizi, dan tumbuh kembang anak menjadi bagian penting dari investasi masa depan keluarga.

Pesan tersebut disampaikan Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI Dante Saksono Harbuwono saat melakukan kunjungan kerja di Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat (28/8/2026). Dalam kunjungan tersebut, Wamenkes meninjau pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) Anak Sekolah sekaligus program 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Dante menegaskan, keberhasilan program 1.000 HPK untuk mencegah stunting dan menekan angka kematian ibu serta bayi tidak dapat hanya dibebankan kepada ibu. Keterlibatan ayah dan keluarga diperlukan sejak sebelum kehamilan hingga anak berusia di bawah dua tahun.

“Kalau dulu kita kenal Suami Siaga saat persalinan, nanti di 1.000 HPK juga ada Ayah Siaga supaya anak-anaknya tumbuh sehat,” ujar Dante.

Menurut Dante, periode 1.000 HPK merupakan fase penting dalam kehidupan anak, yang berlangsung sejak sekitar 270 hari masa kehamilan hingga 730 hari setelah kelahiran atau ketika anak berusia di bawah dua tahun.

Pada periode tersebut, perkembangan otak anak berlangsung sangat pesat sehingga pemenuhan gizi, kesehatan, imunisasi, serta stimulasi tumbuh kembang menjadi faktor penting dalam menentukan kualitas anak pada masa mendatang.

Karena itu, pemerintah menetapkan empat target intervensi utama dalam program 1.000 HPK.

Pertama, intervensi sebelum kehamilan yang mencakup peningkatan kesehatan remaja putri serta skrining calon pengantin agar pasangan yang akan membangun keluarga berada dalam kondisi fisik yang baik.

Kedua, intervensi pada masa kehamilan, persalinan, dan bayi baru lahir, antara lain melalui pemeriksaan kehamilan dengan ultrasonografi (USG) serta memastikan proses persalinan berlangsung di fasilitas kesehatan yang aman.

Ketiga, intervensi pada periode anak di bawah dua tahun atau baduta dengan fokus pada pemberian ASI eksklusif, pemenuhan kebutuhan gizi, imunisasi, serta pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak.

Keempat, penguatan layanan kesehatan dengan memastikan puskesmas dan rumah sakit memiliki kesiapan fasilitas maupun pembiayaan untuk mendukung pelayanan kesehatan ibu dan anak.

Dante mengatakan, rangkaian intervensi tersebut harus berjalan bersama dengan dukungan keluarga. Pemerintah pun mendorong Fatherhood Movement atau Gerakan Keayahan sebagai bagian dari upaya meningkatkan keterlibatan ayah dalam pemenuhan kesehatan anak.

“Perkembangan otak justru terjadi paling besar itu di usia 0 sampai 2 tahun. Oleh karena itu, investasi early years ini sangat penting. Kita juga menginisiasi gerakan Fatherhood Movement agar ayah terlibat aktif dalam pemenuhan kesehatan anak,” kata Dante.

Menurutnya, perubahan peran ayah dalam keluarga menjadi penting seiring meningkatnya perhatian pemerintah terhadap investasi pada masa awal kehidupan anak.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Wamen PPPA) Veronica Tan menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor hingga tingkat keluarga.

Veronica mengatakan, program kesehatan dan pendidikan tidak akan memberikan hasil optimal apabila tidak diterjemahkan menjadi kebiasaan baik di dalam rumah.

“Kualitas pendidikan dan kesehatan sangat bergantung pada fondasi keluarga. Terkadang orang tua sibuk, anak juga sibuk. Maka yang terpenting adalah membangun quality time antara bapak, ibu, dan anak,” ujar Veronica.

Ia juga mendorong keluarga untuk kembali membangun kebiasaan makan makanan rumahan sebagai bagian dari pola hidup sehat.

“Kembalikan lagi kebiasaan makan masakan rumah, bukan makanan instan, sebagai fondasi hidup sehat yang kuat,” lanjutnya.

Kunjungan kerja lintas sektor tersebut turut dihadiri Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza, Sekretaris Menteri Koordinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan Imam Machdi, serta Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Kepresidenan Ade Kadarisman.

Sebelum mengikuti dialog interaktif bersama para pemangku kepentingan, rombongan melakukan peninjauan langsung terhadap sejumlah layanan kesehatan dan pendidikan di Kota Bogor.

Kunjungan diawali di Puskesmas Tanah Sareal untuk melihat pelayanan pemeriksaan rutin ibu hamil atau Antenatal Care (ANC), pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak baduta, serta pelayanan imunisasi bayi.

Rombongan kemudian meninjau tes kebugaran siswa dan pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis di ruang kelas SMPN 5 Kota Bogor.

Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa upaya mencegah stunting tidak berhenti pada layanan kesehatan. Intervensi sejak remaja, persiapan calon pengantin, kesehatan ibu hamil, pemenuhan gizi anak hingga keterlibatan ayah menjadi mata rantai yang saling berkaitan.

Pada akhirnya, gerakan Ayah Siaga bukan semata tentang membantu ibu merawat anak. Lebih dari itu, keterlibatan ayah sejak awal kehidupan menjadi bagian dari upaya membangun keluarga yang sehat dan menyiapkan generasi Indonesia yang tumbuh optimal.

Ikuti terus berita kesehatan, keluarga, pembangunan manusia, dan berbagai kisah inspiratif Nusantara hanya di Navaswara.com.