Pegadaian dan PSMTI Hadirkan Jembatan ke-270, Buka Akses Warga Pelosok Jember

Navaswara.com – Sebuah jembatan sepanjang 60 meter membentang di atas aliran Sungai Bedadung, menghubungkan dua dusun yang selama ini membutuhkan akses penghubung yang lebih aman. Jembatan Lembung Lanceng di Kabupaten Jember menjadi salah satu wujud kolaborasi pemerintah dan masyarakat dalam membuka akses hingga ke pelosok desa.

Jembatan yang berada di Kecamatan Jelbuk tersebut diresmikan pada Jumat (28/8/2026) sebagai bagian dari Ekspedisi Seribu Jembatan Gantung untuk Indonesia. Dengan panjang 60 meter dan lebar 1,2 meter, Jembatan Lembung Lanceng tercatat sebagai jembatan gantung ke-270 dalam ekspedisi tersebut.

Jembatan ini menjadi akses utama yang menghubungkan Dusun Rejep, Desa Sukowiryo, dengan Dusun Leces 1, Desa Sukojember, Kecamatan Jelbuk. Kehadirannya diharapkan mempermudah mobilitas masyarakat sekaligus memperkuat konektivitas antarwilayah di kawasan pedesaan.

Peresmian dihadiri Bupati Jember Muhammad Fawait, Komisaris Utama PT Pegadaian sekaligus Dewan Kehormatan Perhimpunan Sosial Keturunan Tionghoa Indonesia (PSMTI) Letnan Jenderal TNI (Purn.) A.M. Putranto, serta Sekretaris Umum PSMTI Peng Suyoto.

Pembangunan dua jembatan gantung di Jember merupakan bagian dari kolaborasi yang melibatkan Pemerintah Kabupaten Jember, PT Pegadaian, dan PSMTI. Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pembangunan infrastruktur yang dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

Bupati Jember Muhammad Fawait mengatakan percepatan pembangunan daerah tidak dapat hanya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Sinergi lintas sektor dibutuhkan agar pembangunan infrastruktur dapat menjangkau masyarakat hingga wilayah pedesaan.

“Kabupaten Jember tidak bisa dibangun jika hanya bergantung pada APBD semata. Kita harus berkolaborasi dengan seluruh pihak,” ujar Fawait.

Menurutnya, keberadaan dua jembatan tersebut menambah infrastruktur penghubung yang dibutuhkan masyarakat Jember. Pemerintah daerah juga akan terus mendorong pembangunan jembatan yang menghubungkan desa dan dusun di berbagai wilayah.

“Kita sekarang sudah bangun enam jembatan dan kami terus program pemerintah pembangunan jembatan, desa ke desa, di manapun daerah yang memungkinkan kita bersama-sama bekerja sama,” katanya.

Fawait menegaskan pembangunan harus dirasakan secara merata dan tidak berhenti di kawasan perkotaan.

“Saya yakin kalau kolaborasi bersama-sama ini mudah-mudahan bisa membuat Jember baru, Jember maju dan pembangunan merata di Jember, bukan cuma di kota saja, tapi sampai ke dusun-dusun,” ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Pembangunan Jembatan sekaligus Dewan Penasihat PSMTI, Riki Soeharno, mengatakan keterlibatan masyarakat keturunan Tionghoa dalam pembangunan sosial tidak hanya berada pada sektor bisnis. PSMTI, kata dia, juga mendorong kegiatan filantropi yang ditujukan untuk kepentingan publik.

“Marga Tionghoa saat ini tidak hanya menggeluti dunia bisnis, tapi juga bergerak di bidang filantropis, khususnya untuk kepentingan publik guna mendukung pemerintah dalam program pembangunan di daerah,” ujar Riki.

Menurut Riki, pembangunan jembatan di Jember memiliki alasan yang kuat karena akses sebelumnya beberapa kali mengalami kerusakan akibat aliran air. Bahkan, kondisi tersebut pernah menyebabkan korban jiwa.

“Pembangunan hari ini kita sumbang dua jembatan gantung. Apalagi di jembatan ini, karena sejarahnya beberapa kali ada jembatan yang lama sering tersapu oleh air, bahkan pernah ada korban jiwa,” katanya.

Kondisi tersebut mendorong PSMTI untuk terus mengambil bagian dalam pembangunan infrastruktur yang dinilai memiliki manfaat langsung bagi masyarakat.

Kehadiran Jembatan Lembung Lanceng pun tidak hanya memperpendek akses antarwilayah. Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar aliran Sungai Bedadung, jembatan tersebut menjadi bagian penting dari aktivitas sehari-hari, termasuk mobilitas warga dan kegiatan sosial maupun ekonomi.

Infrastruktur seperti jembatan memiliki dampak yang lebih luas ketika berada di wilayah pedesaan. Akses yang lebih baik dapat membantu masyarakat bergerak lebih mudah, memperlancar distribusi barang dan hasil usaha, serta membuka hubungan yang lebih dekat dengan fasilitas pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik.

Ekspedisi Seribu Jembatan Gantung untuk Indonesia menjadi salah satu contoh bagaimana kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan organisasi masyarakat dapat menghadirkan pembangunan yang menyentuh kebutuhan dasar warga.

Bagi PSMTI, kontribusi melalui pembangunan jembatan juga menjadi bagian dari semangat filantropi untuk kepentingan publik. Sementara bagi pemerintah daerah, dukungan lintas sektor menjadi peluang untuk mempercepat pemerataan pembangunan ketika kapasitas APBD memiliki keterbatasan.

Jembatan Lembung Lanceng akhirnya bukan hanya menjadi penghubung antara Dusun Rejep dan Dusun Leces 1. Di atas bentang 60 meter itu, terbuka pula akses bagi masyarakat untuk bergerak, bekerja, bersekolah, dan membangun kehidupan yang lebih baik.

Dari satu jembatan, tumbuh satu jalan baru bagi masyarakat. Ikuti terus kisah pembangunan, kolaborasi sosial, dan kemajuan daerah di Navaswara.com.