Navaswara.com – Banyak orang masih menganggap urusan belajar anak adalah wilayah ibu, sementara ayah cukup memastikan kebutuhan sekolah terpenuhi. Padahal, riset psikologi anak justru menunjukkan sebaliknya. Kehadiran ayah saat menemani anak belajar membawa pengaruh yang jauh lebih dalam daripada sebatas mengawasi pekerjaan rumah selesai tepat waktu.
Berikut lima alasan mengapa momen sederhana ini layak mendapat tempat khusus dalam rutinitas keluarga.
1. Anak jadi lebih percaya diri menghadapi kesulitan belajar
Ketika ayah meluangkan waktu untuk duduk bersama anak mengerjakan tugas, anak menangkap pesan bahwa dirinya berharga dan layak diperhatikan. Rasa berharga ini yang kemudian tumbuh menjadi kepercayaan diri, termasuk keberanian mencoba soal sulit tanpa takut gagal. Anak yang mendapat cukup perhatian dari ayah cenderung punya kondisi emosional yang lebih stabil dan lebih berani mengeksplorasi hal baru, termasuk materi pelajaran yang awalnya terasa menantang.
2. Gaya interaksi ayah melatih anak menghadapi tekanan
Ayah biasanya membawa cara berkomunikasi yang lebih santai dan interaksi fisik yang berbeda dari ibu. Saat menemani anak belajar, gaya ini membantu anak memahami cara mengekspresikan rasa frustrasi atau bosan dengan sehat, bukan dengan menutup diri atau marah. Ketahanan mental yang terbentuk dari pola interaksi semacam ini terbawa hingga anak menghadapi tekanan hidup yang lebih besar di masa dewasa.
3. Ayah jadi sosok panutan cara menyelesaikan masalah
Anak cenderung mengamati dan meniru cara ayahnya bersikap saat menghadapi kesulitan. Jika ayah sabar menuntun anak menemukan jawaban sendiri alih-alih langsung memarahi kesalahan, anak belajar bahwa kesulitan bukan hal yang perlu dihadapi dengan agresi atau rasa malu. Psikolog Sukmadiarti menjelaskan bahwa anak laki-laki perlu melihat sosok ayah yang aman dan berdaya, sehingga ia tidak merasa harus membuktikan kelelakiannya lewat cara yang keras.
4. Waktu bersama membantu ayah mengenali bakat anak yang sesungguhnya
Sesi belajar bersama bukan cuma soal menyelesaikan tugas sekolah. Momen ini memberi ayah kesempatan mengamati langsung di bidang apa anak sebenarnya menonjol dan di bagian mana ia butuh cara penanganan berbeda. Tanpa waktu yang cukup, orang tua berisiko salah arah dalam mendorong minat anak, bahkan memaksakan bidang yang sebenarnya tidak disukai anak sama sekali.
5. Kedekatan ini membentuk motivasi belajar jangka panjang
Riset menunjukkan anak yang punya hubungan baik dengan ayah cenderung mencatatkan prestasi akademik yang lebih baik. Efeknya tidak instan. Ikatan yang terbentuk sejak masa belajar di rumah ikut membekali anak dengan kemampuan mengelola stres yang lebih matang saat ia dewasa nanti.
Menemani anak belajar memang terdengar sederhana, bahkan mungkin terasa merepotkan di tengah jadwal kerja yang padat. Namun dari lima poin di atas, jelas bahwa yang dibangun bukan hanya nilai rapor, melainkan fondasi karakter dan ketahanan emosional yang akan terus dipakai anak jauh setelah masa sekolahnya usai.

