Navaswara.com – Diselenggarakan di Omah Budoyo, Yogyakarta, Pameran seni bertajuk “Sedulur Watu” menghadirkan sebuah refleksi tentang hubungan manusia dengan alam melalui simbol batu yang selama ini dianggap sebagai benda mati. Pameran duo A. Sebastianus dan Marten Bayuaji ini berlangsung pada 14 Juni hingga 14 Juli 2026.
Melalui rangkaian karya seni kontemporer, keduanya mengajak kita memandang batu sebagai medium yang menyimpan sejarah, ingatan, spiritualitas, dan perjalanan panjang peradaban manusia. Batu tidak lagi dipahami sekadar material dengan permukaan keras, tapi juga menjadi saksi bisu yang merekam jejak kehidupan dari masa ke masa.
Judul pameran ini sendiri diambil dari bahasa Jawa, di mana “sedulur” berarti saudara dan “watu” berarti batu. Pemilihan nama tersebut bukan tanpa alasan.
Kedua seniman memandang Batu sebagai simbol keteguhan, kedekatan, serta hubungan yang tidak terpisahkan antara manusia dan bumi. Dalam berbagai tradisi Nusantara, khususnya budaya Jawa, batu juga memiliki makna spiritual sebagai tempat menyimpan energi, penanda ruang sakral, hingga penghubung antara manusia dengan leluhur mereka.
Dalam pameran ini, A. Sebastianus menghadirkan eksplorasi mengenai batu melalui berbagai medium, mulai dari instalasi, arsip visual, hingga eksperimen material. Karya-karya seperti Constellation of Belonging II, Fragmenta, After Majaphit #4, dan seri Lithic memperlihatkan bagaimana batu dapat menjadi metafora bagi ingatan kolektif, identitas, serta perjalanan waktu yang terus bergerak.
Di sisi lain, Marten Bayuaji menawarkan pendekatan yang lebih puitis melalui karya-karya seperti Sekar Semayam, Layang, Separuh Liman, dan Yang Tersisa Dari Doa; Asta. Karyanya berbicara mengenai kehilangan, doa, harapan, dan relasi spiritual manusia dengan alam.
Tak hanya itu, Sedulur Watu juga menawarkan pengalaman yang lebih dari sekadar menikmati karya seni. Pameran ini mengajak setiap pengunjung berhenti sejenak dari ritme kehidupan modern yang serba cepat untuk kembali merenungkan akar budaya dan kedekatan manusia dengan bumi.
Kedua seniman ingin kita menyadari bahwa Batu yang selama ini mungkin luput dari perhatian ternyata menyimpan begitu banyak cerita tentang perjalanan waktu, perubahan peradaban, hingga nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.
