Navaswara.com – Pameran seni bertajuk “Semburat Bali” tengah berlangsung di Labyrinth Art Gallery. Berlokasi di Nuanu Creative City, Kabupaten Tabanan, gelaran ini dibuka mulai 7 Februari hingga 22 Maret 2026 mendatang. Dikuratori oleh Samuel David, ada 12 seniman dengan latar belakang dan pendekatan artistik beragam yang memamerkan karyanya.
Meski datang dari individu berbeda latar belakang, namun para seniman bersama-sama mengeksplorasi narasi Bali di luar bingkai pariwisata konvensional. Melalui total 48 karya yang ditampilkan, gelaran “Semburat Bali” berupaya membuka percakapan baru tentang identitas, ruang hidup, tradisi, hingga dinamika sosial masyarakat Bali saat ini.
Tema “Semburat Bali” memiliki makna tentang bias cahaya, kilasan warna, atau pantulan yang tidak selalu terlihat. Kata “semburat” merujuk pada sesuatu yang samar namun kuat, seperti cahaya senja yang memantul di permukaan laut atau rona tipis di langit setelah hujan. Dalam konteks pameran ini, semburat dimaknai sebagai lapisan-lapisan pengalaman yang kerap luput dari perhatian. Jika selama ini Bali identik dengan pantai yang indah, upacara adat nan megah, serta keramahan atau arsitektur yang dikemas untuk konsumsi wisata, maka para seniman dalam pameran ini justru mengajak pengunjung melihat Bali sebagai ruang hidup yang kompleks.
Dua belas seniman yang terlibat dalam pameran ini adalah I Made Arya Pradana, Ni Luh Putu Sari Dewi, I Wayan Agus Suantara, Kadek Mahendra Yasa, Komang Ayu Laksmi, Dewa Gede Arimbawa, Putu Adi Saputra, Luh Made Sintya Wati, Nyoman Sudiarta, Gede Agus Dharmawan, Cokorda Rai Purnama, dan Ayu Tirtayasa. Masing-masing menghadirkan empat karya dengan medium yang beragam, mulai dari lukisan akrilik di atas kanvas, instalasi, fotografi konseptual, hingga karya campuran berbasis material organik.
Salah satu karya yang mencuri perhatian adalah lukisan berjudul “Di Balik Panggung Upacara” karya I Made Arya Pradana. Karya ini menampilkan suasana persiapan upacara adat. Bukan pada momen sakralnya, ia justru memamerkan aktivitas di balik layar. Seperti warga yang bercengkerama, anak-anak yang berlarian, serta tumpukan perlengkapan upacara yang belum tertata. Melalui komposisi yang dinamis dan sapuan warna hangat, I Made Arya Pradana ingin menegaskan bahwa kehidupan sosial di balik seremoni sama pentingnya dengan ritual itu sendiri. Bahwa Bali tidak hanya tentang kemegahan upacara, tetapi juga tentang kebersamaan, kerja kolektif, dan keseharian yang membentuk jati diri masyarakatnya.
Karya lainnya yang tampil di pameran ini adalah instalasi berjudul “Sisa-Sisa Surga” karya Komang Ayu Laksmi. Instalasi ini memadukan pasir, pecahan kaca, potongan papan reklame, serta rekaman suara ombak yang diputar secara berulang. Karya ini merefleksikan paradoks antara citra Bali sebagai surga tropis dengan realitas persoalan lingkungan yang kian nyata. Pecahan kaca dan potongan reklame melambangkan sisa-sisa pembangunan dan komersialisasi. Sementara pasir dan suara ombak menghadirkan memori tentang alam yang terus berubah. Melalui karya ini, Komang Ayu Laksmi mengajak pengunjung merenungkan dampak eksploitasi ruang dan pentingnya menjaga keseimbangan antara ekonomi dan ekologi.
Sang kurator, Samuel David, menempatkan pameran ini bukan sekadar sebagai ajang presentasi karya, melainkan sebagai medium untuk merayakan keberanian seniman dalam menyuarakan perspektif personal tentang Bali. Dengan pendekatan yang hangat, kritis, dan puitis, para seniman menghadirkan Bali sebagai entitas yang hidup dan terus bergerak.
