Bencana Tak Hentikan Belajar, Maudy Ayunda dan Save the Children Bangun Kelas Sementara di Aceh Tamiang

Navaswara.com— Masa tanggap darurat banjir di wilayah Aceh dan Sumatera mungkin telah berlalu, tetapi proses pemulihan bagi anak-anak terdampak masih berjalan panjang. Salah satu sektor yang paling membutuhkan perhatian serius saat ini adalah akses pendidikan pascabencana.

Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada bulan Februari 2026, sebanyak 4.922 satuan pendidikan di wilayah Sumatera terdampak bencana. Khusus di wilayah Aceh, terdapat 3.120 sekolah yang mengalami kerusakan, mempengaruhi nasib pendidikan bagi lebih dari 707.161 murid dan 59.620 guru. Bencana ini tidak hanya merusak fisik bangunan sekolah, tetapi juga menghentikan roda pembelajaran dan merenggut ketersediaan sarana belajar yang layak bagi para siswa.

Merespons krisis tersebut, Maudy Ayunda Foundation dan Save the Children Indonesia berkolaborasi mendirikan Temporary Learning Space atau Ruang Belajar Sementara di wilayah Aceh Tamiang. Inisiatif infrastruktur ini dibarengi dengan program dukungan literasi untuk membantu anak-anak kembali menjalani rutinitas belajar secara bertahap dalam lingkungan yang aman dan suportif.

Pendiri Maudy Ayunda Foundation, Maudy Ayunda, membagikan pengalamannya saat meninjau langsung dampak kerusakan. Ia menuturkan bahwa bencana boleh saja menghancurkan ruang kelas, tetapi tidak pernah berhasil mematahkan semangat anak-anak untuk menuntut ilmu.

“Sering kali yang kurang bukan lah kemauan dan semangat anak-anak untuk belajar, tetapi akses dan ruang yang memungkinkan bagi mereka untuk terus melanjutkan pendidikan,” ungkap Maudy di Jakarta pada Selasa, 19 Mei 2026.

Maudy menambahkan bahwa ketika akses pendidikan di suatu daerah sudah terbatas sejak awal, bencana dapat membuat kesenjangan kesempatan belajar menjadi semakin lebar. Ia menegaskan bahwa setiap anak berhak atas pendidikan yang layak di tengah situasi tersulit sekalipun, sehingga dukungan infrastruktur pascabencana menjadi pilar yang sangat krusial.

Kebutuhan mendesak akan ruang belajar yang ramah anak ini turut diperkuat oleh hasil Education Rapid Assessment dari Save the Children Indonesia di Aceh Tamiang dan Aceh Utara. Kajian tersebut menemukan fakta bahwa meskipun 90 persen sekolah telah kembali beroperasi, tingkat kehadiran siswa masih sangat rendah. Penurunan tingkat kehadiran yang paling tajam terjadi pada tingkat PAUD dan TK akibat berbagai kendala akses, rusaknya jalur transportasi, serta kekhawatiran orang tua terhadap keamanan lingkungan.

CEO Save the Children Indonesia, Dessy Kurwiany Ukar, menyatakan bahwa pemulihan pendidikan tidak sebatas menyuruh anak kembali beraktivitas secara akademis. Lebih dari itu, anak-anak membutuhkan ruang transisi yang menjamin keamanan fisik serta memulihkan kondisi psikologis mereka.

“Di tengah kehilangan dan perubahan besar yang mereka alami setelah bencana, Ruang Belajar Sementara menjadi tempat bagi anak-anak untuk kembali merasa aman, bertemu teman-temannya, didampingi guru, dan perlahan membangun kembali harapan mereka,” ujar Dessy. Menurutnya, proses kembali belajar adalah wujud nyata keberanian anak-anak untuk pulih dan menatap masa depan.

Sebagai upaya memperluas dampak kebaikan ini, Maudy Ayunda Foundation dan Save the Children Indonesia mengundang partisipasi masyarakat luas. Publik yang ingin berkontribusi langsung dalam mewujudkan Ruang Belajar Sementara bagi anak-anak penyintas banjir di Aceh Tamiang dapat berpartisipasi melalui tautan donasi resmi di support.savethechildren.or.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *