Navaswara.com — Pemerintah terus mendorong transformasi pendidikan vokasi agar tidak tertinggal dari perubahan dunia kerja yang bergerak cepat. Namun, arah perubahan itu tidak hanya bertumpu pada teknologi, melainkan juga pada kekuatan yang sudah lama dimiliki Indonesia: budaya dan kekayaan alam.
Pesan itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, saat membuka kegiatan Aksi Nyata Revitalisasi Pendidikan Vokasi dan Pelatihan Vokasi di Jawa Barat 2026 di Gedung Pakuan, Rabu (22/4/2026).

Ia mengingatkan bahwa dunia kerja saat ini sedang mengalami pergeseran besar. Banyak jenis pekerjaan lama yang perlahan hilang, sementara pekerjaan baru terus bermunculan dengan karakter yang berbeda. Dalam situasi seperti ini, pendidikan tidak boleh berjalan di tempat.
“Kita menyadari disrupsi terjadi di mana-mana. Jenis pekerjaan berubah, banyak yang hilang. Jangan sampai pendidikan kita justru mengajarkan keterampilan yang sudah tidak relevan,” ujarnya.
Namun menurutnya, munculnya peluang kerja baru tidak selalu identik dengan kemajuan teknologi. Justru di Indonesia, banyak peluang lahir dari sesuatu yang lebih mendasar: identitas dan keunikan bangsa.

“Job gain tidak selalu terkait dengan teknologi baru. Banyak peluang kerja muncul dari orisinalitas kita, dari budaya kita sendiri,” tegasnya.
Perubahan preferensi global menjadi salah satu penandanya. Di tengah kehidupan kota besar yang serba cepat, banyak orang mulai mencari pengalaman yang lebih autentik—kembali ke alam, kembali ke budaya. Di titik ini, Indonesia memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak negara lain.
Karena itu, pendidikan vokasi dinilai perlu membaca arah ini dengan jernih. Bukan hanya menyiapkan tenaga kerja untuk industri berbasis teknologi, tetapi juga membuka ruang bagi sektor-sektor yang tumbuh dari kekuatan lokal.
“Pendidikan harus menyambut ekonomi baru dan pekerjaan masa depan. Tidak lagi mendidik untuk pekerjaan yang hilang, tetapi untuk peluang baru. Dan di Indonesia, banyak peluang itu justru lahir dari back to culture dan nature,” jelasnya.

Sektor pariwisata menjadi contoh paling nyata. Selain berbasis budaya dan alam, sektor ini juga memiliki dampak langsung terhadap masyarakat di daerah.
“Keunggulan pariwisata itu sederhana tapi penting. Uang masuk ke desa, bukan keluar dari desa. Kita kembali ke alam, kembali ke budaya, tentu tetap dengan dukungan teknologi,” ujarnya.
Dalam mendorong transformasi ini, pemerintah menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Keterkaitan antara dunia pendidikan dan dunia kerja harus diperkuat, agar lulusan vokasi tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang.
Salah satu langkah yang didorong adalah penguatan Tim Koordinasi Daerah Vokasi (TKDV), sebagai wadah sinergi antara pemerintah daerah, dunia pendidikan, industri, dan pemangku kepentingan lainnya. Hingga saat ini, TKDV telah terbentuk di 33 dari 38 provinsi di Indonesia.
Di tingkat kabupaten/kota, jumlahnya juga terus bertambah. Dengan penandatanganan tujuh Surat Keputusan baru di Jawa Barat, total TKDV kini mencapai 48 dari 514 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

Sebagai bagian dari penguatan kebijakan, pemerintah juga telah menerbitkan Peraturan Menko PMK Nomor 2 Tahun 2024 yang menjadi pedoman pembentukan kelompok kerja komite sektoral vokasi. Melalui skema ini, berbagai kementerian teknis, termasuk sektor pariwisata, didorong untuk bekerja bersama dengan dunia industri, akademisi, dan asosiasi profesi.
Dalam kesempatan yang sama, turut hadir Widiyanti Putri Wardhana, Dedi Mulyadi, serta Syamsi Hari bersama para kepala daerah se-Jawa Barat.
Acara ini juga ditandai dengan peluncuran 483 skema okupasi nasional di bidang pariwisata oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), sekaligus penyerahan kepada Kementerian Pariwisata. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat standar kompetensi dan kesiapan tenaga kerja vokasi di sektor yang terus berkembang tersebut.
Bagi pemerintah, penguatan pendidikan vokasi bukan sekadar soal menyiapkan tenaga kerja, tetapi tentang memastikan Indonesia mampu berdiri dengan kekuatannya sendiri. Di tengah perubahan global, budaya dan alam bukan hanya warisan, tetapi juga masa depan.
