Navaswara.com – Perfilman Indonesia kembali menorehkan prestasi gemilang di kancah internasional. Karya terbaru sutradara Wregas Bhanuteja berjudul Para Perasuk bersiap menyapa penikmat sinema di Tanah Air pada 23 April 2026 mendatang. Membawa premis segar mengenai tradisi kerasukan sebagai medium hiburan, film ini memadukan elemen spiritual, kritik sosial, dan fantasi supranatural secara elegan.
Melalui proses syuting yang dirampungkan pada bulan Oktober 2024 dan tahap pasca-produksi intensif sepanjang 2025, karya sinematik ini dipastikan menjanjikan kualitas visual dan penceritaan yang matang. Berikut adalah deretan fakta menarik dan ulasan mengenai film Para Perasuk.

1. Mengangkat Tradisi Sambetan yang Magis dan Sureal
Film ini berlatar di sebuah desa terpencil bernama Desa Latas. Warga desa memiliki tradisi unik bernama sambetan, sebuah pesta kerasukan massal yang melibatkan roh binatang. Masyarakat setempat secara sukarela membiarkan diri mereka dirasuki sekitar dua puluh roh hewan seperti bulus, kerbau, kodok, semut, hingga lintah. Wregas menyoroti elemen kerasukan pada karya ini secara lebih mendalam sebagai sarana hiburan spiritual komunal ketimbang sebuah pertunjukan mistis eksotis yang menakutkan.
Ini adalah momen keseharian ketika orang-orang keluar dari rutinitas demi melepaskan stres dari realitas hidup. Di alam sambetan tersebut, mereka mengalami sensasi sureal yang dipenuhi keindahan bunga dan keharuman wangi.
2. Perjuangan Lintas Dimensi Demi Menyelamatkan Desa
Fokus cerita berada pada sosok pemuda berusia dua puluh tahun bernama Bayu. Ia berambisi menjadi perasuk utama melalui sayembara yang diadakan oleh Guru Asri, berupaya menjadi penyalur roh menggunakan sebuah seruling istimewa. Namun, impian ini berbenturan dengan krisis saat sumber mata air desa terancam dibeli oleh sebuah perusahaan besar untuk pembangunan hotel.
Menghadapi ancaman penggusuran tersebut, Bayu bertekad mengumpulkan dana penebusan lahan lewat penyelenggaraan pesta sambetan terbesar. Dalam prosesnya, Bayu menyadari bahwa ambisi saja tidak cukup. Ia harus menghadapi keraguan diri, menentang keserakahan penguasa, serta bersaing ketat dengan pelamun lain bernama Ananto yang juga mengincar posisi pemimpin pesta.

3. Ansambel Bintang Papan Atas dan Debut Layar Lebar Anggun
Jajaran pemeran film ini diisi oleh talenta luar biasa. Angga Yunanda tampil memukau sebagai pemeran utama Bayu, didampingi oleh Maudy Ayunda yang memerankan karakter Laksmi. Tidak hanya berakting, Maudy Ayunda juga dipercaya untuk menyumbangkan suara emasnya dalam musik orisinal film ini.
Kejutan paling istimewa hadir lewat penampilan diva internasional Anggun C. Sasmi sebagai Guru Asri, yang sekaligus menandai debut perdananya di layar lebar. Penceritaan semakin kokoh berkat dukungan aktor berbakat lainnya, seperti Bryan Domani sebagai Ananto, Chicco Kurniawan sebagai Pawit, Indra Birowo sebagai ayah Bayu, dan Ganindra Bimo sebagai Fahri.
4. Inspirasi Personal Sang Sutradara dan Makna Simbolis yang Kuat
Skenario yang digarap Wregas Bhanuteja bersama Defi Mahendra dan Alicia Angelina rupanya berangkat dari pengalaman personal sang sutradara. Wregas membagikan bahwa konsep film ini terinspirasi dari fase kehidupannya saat masa sekolah menengah dan kuliah. Obsesi kuat terhadap cita-cita sering kali membuatnya merasa seolah sedang “terasuki”. Ruang tipis antara alam sadar dan ketidaksadaran itulah yang menjadi fondasi utama penulisan cerita.
Esensi tradisi ini tergambar sangat indah lewat dialog di dalam film, “Sambetan tuh kan bikin kita ngerasain yang kagak bisa kita rasain di dunia nyata. Bisa bikin orang yang sedih jadi baean gitu.” Ada pula seruan kuat mengenai semangat gotong royong warga desa lewat kutipan, “Pesta sabetan itu kita senang bareng-bareng jagain kampung latas kudu bareng-bareng juga.”

5. Prestasi Global dan Kolaborasi Produksi Lintas Negara
Para Perasuk merupakan hasil co-produksi ambisius lintas negara antara Indonesia melalui Rekata Studio, Singapura, Prancis, dan Taiwan. Proses produksi yang digawangi oleh produser Siera Tamihardja, Iman Usman, dan Amalia Rusdi ini telah membuahkan apresiasi luar biasa di kancah global. Proyek ini sukses menyabet Penghargaan CJ ENM di Asian Project Market pada ajang Busan International Film Festival 2024.
Puncaknya, “Para Perasuk” menorehkan sejarah dengan terpilih untuk tayang perdana secara global di Sundance Film Festival pada tanggal 24 Januari 2026. Film kebanggaan Tanah Air ini melaju ke ajang tersebut untuk bersaing di kategori bergengsi World Cinema Dramatic Competition, berhasil menembus seleksi ketat dari belasan ribu submisi dari seluruh dunia.
Film Para Perasuk tidak hanya menyajikan hiburan visual, tetapi juga menawarkan kritik sosial tajam mengenai benturan antara upaya pelestarian tradisi lokal melawan arus modernisasi korporat. Kehadiran film ini di layar perak tentu menjadi salah satu agenda sinema yang paling diantisipasi pada tahun ini. Siap menyaksikan?
