Peduli Hak Anak Disabilitas, Prof. Reda dan Kajati Jateng Bagikan 1.000 Sepatu di Semarang

Navaswara.com –Sepatu mungkin barang biasa. Namun ketika niatnya adalah menguatkan, sepasang alas kaki bisa berubah menjadi penopang harapan. Pesan itulah yang terasa mengaliri ruang acara di Semarang, Jawa Tengah (29/9). Hari itu, Jaksa Agung Muda Intelijen (Jamintel) Prof. Dr. Reda Manthovani didampingi Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah Teguh Subroto, membagikan 1.000 pasang sepatu kepada siswa-siswi Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri se-Semarang Raya.

Tak tampak sekat birokrasi yang kaku. Di hadapan anak-anak istimewa tersebut, jajaran petinggi hukum, termasuk para Asisten Kejati Jateng, Kepala Kejaksaan Negeri se-Semarang, pengurus Ikatan Adhyaksa Dharmakarini (IAD), hingga jajaran ABPEDNAS dan ASLINMAS, melebur dalam satu ruang yang sama, yakni ruang kemanusiaan.

Bagi Prof. Reda, kegiatan ini bukan seremoni serah terima barang semata. Ia melihatnya sebagai injeksi semangat. “Seribu pasang sepatu, seribu harapan baru. Sebuah langkah kecil yang didedikasikan untuk anak-anak istimewa di seluruh SLB se-Semarang,” ujar Prof. Reda. Ia meyakini, setiap anak memiliki hak penuh untuk menjemput masa depannya dengan pijakan yang yakin.

Ada yang menarik dari cara Prof. Reda memandang konsep filantropi. Berlatar belakang telisik intelijen, sang Profesor rupanya membawa prinsip “presisi” ke dalam urusan kepedulian sosial. Membantu, menurutnya, tidak bisa dilakukan secara sembarangan atau sekadar jor-joran demi terlihat hebat.

“Dalam memberikan bantuan, harus diupayakan pada orang yang tepat dan waktu yang tepat. Dua hal ini yang harus dipikirkan secara matang,” tegas Prof. Reda.

Ia mengibaratkannya bak sebuah penyelidikan; sebelum menyalurkan bantuan, perlu ada riset untuk mengetahui apa yang benar-benar menjadi kebutuhan esensial masyarakat. Saat kepedulian itu jatuh di waktu dan orang yang tepat, kata Reda, nilainya tak lagi sekadar kebaikan, melainkan berubah wujud menjadi harapan yang konkret.

Inisiatif pembagian alas kaki ini pun memantik kebanggaan tersendiri bagi Jamintel. Ia melihat ada “virus” empati yang sukses menular dan berkembang di tubuh Korps Adhyaksa Jawa Tengah.

“Saya selalu tekankan kepada teman-teman Kejaksaan, dan alhamdulillah, apa yang saya getok tularkan kini menjadi lebih maju. Saya sebelumnya belum pernah membagikan sepatu, tapi ide (dari Kejati Jateng) ini sangat bagus. Sepatu adalah kebutuhan esensial untuk mereka beraktivitas dan pergi ke sekolah,” tuturnya, mengapresiasi jajaran di bawah komando Teguh Subroto.

Menjelang akhir acara, di hadapan ratusan pasang mata anak-anak disabilitas yang menggenggam sepatu baru mereka, Reda menitipkan sebuah pesan penutup yang menghangatkan ruang. Ia ingin memastikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah vonis untuk menyerah pada mimpi.

“Intinya, saya mendoakan dan mengharapkan adik-adik semua di sini memiliki masa depan yang lebih baik. Ingat, kita semua sama. Kita punya harapan yang sama untuk hidup yang lebih baik,” pungkasnya.