Katarak Sebabkan Risiko Kebutaan pada Usia di Atas 50 Tahun, Ini Faktanya

Navaswara.com — Indonesia kini memasuki fase ageing population. Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 Badan Pusat Statistik mencatat, penduduk berusia 60 tahun ke atas mencapai 11,97 persen dari total populasi.

Bertambahnya jumlah penduduk lanjut usia juga membawa perhatian pada kemampuan masyarakat untuk tetap aktif dan mandiri. Salah satu yang berperan besar adalah penglihatan, terlebih ketika aktivitas seperti membaca, bekerja, berkendara, menggunakan perangkat digital, hingga bepergian tetap dilakukan seiring bertambahnya usia.

Katarak menjadi salah satu gangguan mata yang perlu diperhatikan. Kementerian Kesehatan RI mencatat sekitar 600 ribu hingga 650 ribu kasus kebutaan akibat katarak sepanjang 2025. Katarak juga menjadi penyebab utama kebutaan pada penduduk berusia di atas 50 tahun, dengan proporsi mencapai 81,2 persen.

Data Program Cek Kesehatan Gratis turut memperlihatkan besarnya kebutuhan pemeriksaan mata. Dari 23,35 juta orang yang menjalani skrining pada periode 2025–2026, sebanyak 2,95 juta orang ditemukan mengalami gangguan mata.

Persoalan serupa juga terjadi di berbagai negara. World Health Organization (WHO) memperkirakan katarak memengaruhi lebih dari 94 juta orang di dunia. Studi yang dirilis pada 2026 menunjukkan hampir separuh orang yang menghadapi kebutaan akibat katarak masih belum mendapatkan akses terhadap operasi.

Katarak Tidak Hanya Penglihatan Buram

Katarak terjadi ketika lensa alami mata yang semula jernih berubah menjadi keruh. Kondisi tersebut dapat membuat penglihatan buram seperti berkabut, mata lebih mudah silau, maupun warna terlihat berbeda.

Pertambahan usia menjadi faktor risiko utama, tetapi katarak tidak hanya berkaitan dengan usia. Diabetes, riwayat trauma atau operasi mata, penggunaan obat tertentu, serta faktor genetik juga dapat berperan.

“Memang paling sering ditemukan seiring bertambahnya usia, tetapi faktor yang memengaruhinya cukup beragam. Karena itu, pemeriksaan mata penting untuk memahami kondisi setiap pasien secara menyeluruh, bukan hanya melihat faktor usia,” ujar Dr. Milzan Murtadha, SpM, dokter spesialis mata JEC Eye Hospitals and Clinics.

Ketika katarak berkembang, aktivitas sehari-hari dapat ikut terganggu. Membaca menjadi lebih sulit, penglihatan dalam kondisi minim cahaya berkurang, berkendara terasa tidak nyaman, dan kemampuan mengenali lingkungan sekitar dapat menurun.

“Yang perlu diperhatikan bukan hanya ada atau tidaknya katarak, tetapi sejauh mana kondisi tersebut sudah memengaruhi fungsi penglihatan dan aktivitas pasien. Perjalanan katarak dan kebutuhan setiap orang berbeda, sehingga waktu serta pilihan penanganannya juga perlu ditentukan berdasarkan pemeriksaan dan diskusi bersama dokter,” jelas dr. Milzan.

Operasi Katarak dan Kualitas Penglihatan

Operasi katarak dilakukan dengan mengangkat lensa mata yang keruh dan menggantinya dengan lensa intraokular atau intraocular lens (IOL). Perkembangan teknologi membuat dokter memiliki lebih banyak pilihan dalam menentukan tindakan maupun jenis lensa yang digunakan.

Menurut Dr. Milzan, tujuan operasi tidak berhenti pada membuat pandangan kembali lebih jelas. Kualitas penglihatan setelah operasi juga perlu disesuaikan dengan aktivitas pasien.

“Tujuan operasi katarak bukan hanya membuat pasien kembali melihat lebih jelas, tetapi bagaimana kualitas penglihatan tersebut dapat mendukung aktivitas sehari-hari. Karena kondisi mata, kebutuhan visual, dan aktivitas setiap orang berbeda, pemeriksaan dan konsultasi menjadi penting untuk menentukan pilihan operasi serta lensa yang paling sesuai,” ujarnya.

Salah satu teknologi yang tersedia di JEC Eye Hospitals and Clinics adalah Femtosecond Laser-Assisted Cataract Surgery (FLACS). Teknologi tersebut menggunakan laser femtosecond untuk membantu beberapa tahapan operasi katarak, termasuk membuat insisi dan bukaan kapsul lensa secara lebih presisi serta membantu memecah lensa yang keruh sebelum diangkat.

Selain teknologi operasi, pilihan lensa tanam juga menjadi bagian penting dalam perencanaan tindakan. Setiap jenis lensa memiliki karakteristik dan target penglihatan yang berbeda.

Lensa multifokal dapat memberikan fokus pada jarak jauh, menengah, dan dekat sehingga pada kondisi tertentu dapat mengurangi ketergantungan terhadap kacamata untuk berbagai aktivitas.

Lensa EDOF atau Extended Depth of Focus memberikan rentang penglihatan yang lebih luas, terutama untuk jarak jauh dan menengah. Pilihan tersebut dapat menjadi pertimbangan bagi pasien yang banyak melakukan aktivitas seperti bekerja menggunakan komputer atau melihat dashboard kendaraan.

Lensa monofokal memiliki satu titik fokus, umumnya untuk jarak jauh. Setelah operasi, pasien masih dapat membutuhkan kacamata untuk aktivitas pada jarak lain, sesuai target koreksi yang dipilih.

Sementara itu, lensa toric ditujukan untuk membantu mengoreksi astigmatisme atau mata silinder. Lensa tersebut dapat dipadukan dengan jenis lensa tertentu sesuai kondisi mata dan kebutuhan pasien.

“Tidak ada satu jenis lensa yang otomatis paling baik untuk semua pasien. Dokter perlu mempertimbangkan kondisi kornea, retina dan saraf mata, anatomi mata, hasil kalkulasi lensa, pola aktivitas, serta ekspektasi penggunaan kacamata setelah operasi,” kata Dr. Milzan.

Pemeriksaan Menjadi Bagian Penting

Pilihan operasi dan lensa pada akhirnya sangat bergantung pada kondisi mata dan kebutuhan masing-masing orang. Pemeriksaan sebelum tindakan membantu dokter mengetahui kondisi mata secara lebih menyeluruh sekaligus membicarakan target penglihatan yang ingin dicapai pasien.

“Teknologi memberi semakin banyak pilihan, tetapi pusat dari seluruh proses tetap pasien. Yang terpenting adalah bagaimana pasien dapat kembali menggunakan penglihatannya untuk menjalani aktivitas dengan baik sesuai kondisi dan kebutuhannya,” tutur Dr. Milzan.

Bagi masyarakat yang memasuki usia lanjut, menjaga penglihatan bukan hanya soal melihat lebih jelas. Kemampuan melihat dengan baik turut berkaitan dengan aktivitas sehari-hari, mobilitas, dan kemandirian.

Seiring bertambahnya jumlah penduduk lansia di Indonesia, pemeriksaan mata secara berkala menjadi salah satu hal yang layak mendapat perhatian. Terlebih, gangguan penglihatan akibat katarak termasuk kondisi yang dapat ditangani melalui tindakan medis.