Haedar Nashir Terima Kartu Wartawan Utama Khusus dari Dewan Pers

Navaswara.com – Kiprah panjang Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, di dunia jurnalistik mendapat apresiasi khusus dari Dewan Pers. Pada Kamis (13/8/2026), Dewan Pers secara resmi menyerahkan Kartu Wartawan Utama Khusus kepada Haedar dalam rangkaian acara Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026 yang digelar di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Tangerang Selatan.

Kartu tersebut diserahkan langsung oleh Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat. Penghargaan ini menjadi bentuk pengakuan atas perjalanan panjang Haedar Nashir dalam dunia pers yang telah berlangsung lebih dari empat dekade, jauh sebelum dirinya dikenal sebagai salah satu tokoh penting Muhammadiyah.

Perjalanan Haedar di dunia jurnalistik berawal ketika masih menjadi mahasiswa pada 1982. Dua tahun kemudian, pada 1984, ia resmi menjadi wartawan di majalah Suara Muhammadiyah. Dari lingkungan media tersebut, kemampuan jurnalistiknya terus berkembang hingga kemudian dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi Suara Muhammadiyah.

Aktivitas jurnalistik Haedar juga tidak berhenti di media internal Muhammadiyah. Ia aktif menuangkan pemikiran melalui tulisan dan kolom di sejumlah media nasional, salah satunya Republika. Dunia jurnalistik menjadi bagian penting dalam perjalanan intelektualnya sekaligus ruang untuk menyampaikan gagasan kepada masyarakat.

Menerima penghargaan tersebut, Haedar mengungkapkan rasa haru dengan mengenang kembali masa-masa awal ketika dirinya belajar menjadi wartawan. Perjalanan itu, menurutnya, tidak selalu berjalan mudah. Ada proses panjang, kritik, bahkan pengalaman yang menguji ketekunan dalam menghasilkan karya jurnalistik.

“Lima tahun saya digojlok di lapangan oleh Pemred SM. Dengan segala dukanya, saya pernah kecewa saat karya tulisan saya disobek. Namun, saya tetap semangat belajar hingga benar-benar menjadi wartawan,” ungkap Haedar.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa menjadi wartawan bukan sekadar kemampuan menulis. Ada proses pembelajaran, kedisiplinan, ketekunan, sekaligus keberanian untuk menerima kritik dan terus memperbaiki kualitas karya.

Di tengah perubahan lanskap media yang semakin cepat, pengalaman panjang Haedar juga menjadi pengingat bahwa jurnalisme memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kualitas informasi publik. Ketika masyarakat menghadapi arus informasi yang begitu deras, kemampuan memilah fakta, menghadirkan informasi yang terverifikasi, dan memberikan perspektif yang mencerahkan menjadi semakin penting.

Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat menekankan bahwa sosok pers yang memiliki reputasi dan integritas semakin dibutuhkan di tengah era banjir informasi. Informasi, menurutnya, telah menjadi kebutuhan mendasar masyarakat sebagaimana udara dan air.

Dalam konteks tersebut, Komaruddin mengapresiasi Muhammadiyah yang dinilai terus menjaga tradisi pemberitaan yang terverifikasi serta berorientasi pada pencerahan publik.

Pemberian Kartu Wartawan Utama Khusus kepada Haedar Nashir sekaligus menjadi penanda bahwa perjalanan panjang di dunia jurnalistik dapat terus memberi arti, bahkan ketika seseorang kemudian menjalani peran yang lebih luas di tengah masyarakat.

Lebih dari sekadar sebuah kartu penghargaan, apresiasi tersebut merekam perjalanan seorang intelektual yang tumbuh melalui tradisi membaca, menulis, berdialog, dan menyampaikan gagasan kepada publik. Di tengah tantangan era digital, nilai-nilai tersebut tetap relevan sebagai fondasi bagi pers yang kredibel dan bertanggung jawab.

Bagi dunia jurnalistik, kisah Haedar menjadi pengingat bahwa kualitas tidak lahir secara instan. Ia dibangun melalui proses panjang, pengalaman di lapangan, keberanian menerima kritik, serta komitmen untuk terus belajar dan menghadirkan karya yang memberi manfaat bagi masyarakat.