Pameran Hiroshi Sugimoto: Form Is Emptiness Ajak Kita Jelajahi Batas antara Bentuk, Waktu, dan Kekosongan

Navaswara.com — Dengan deretan karya yang memikat, pameran bertajuk “Hiroshi Sugimoto: Form Is Emptiness” menyajikan perjalanan panjang seorang seniman yang selama lebih dari lima dekade terus mempertanyakan cara manusia melihat waktu, ruang, realitas, dan keberadaan.

Digelar di Singapore Art Museum (SAM) pada 29 Mei hingga 4 Oktober 2026 mendatang, gelaran ini menjadi pameran besar pertama Sugimoto di Asia Tenggara. Sebanyak 63 karya dari 11 seri ditampilkan bersama 14 fosil dari koleksi pribadi sang seniman.

Judul pameran ini mengambil gagasan dari Heart Sutra, salah satu teks penting dalam tradisi Buddhisme. “Form is emptiness” merujuk pada pemahaman bahwa tidak ada sesuatu yang sepenuhnya berdiri sendiri. Di mana segala sesuatu yang biasanya dianggap sebagai realitas juga turut dipengaruhi oleh cara manusia mendefinisikan dan memandang dunia.

Salah satu yang menarik perhatian adalah karya berjudul “Seascapes”. Dalam karyanya ini, Sugimoto menghadirkan lanskap laut dan langit dengan garis cakrawala yang sederhana. Tanpa penanda geografis yang jelas, setiap gambar terasa seperti potongan ruang yang dapat berada di mana saja dan kapan saja.

Sementara karya bertajuk “Sea of Buddha” menampilkan deretan patung Guanyin yang seakan berulang tanpa akhir. Potret ini menciptakan pengalaman visual yang meditatif dan menenangkan.

Menariknya, pengalaman mengunjungi pameran ini dirancang seperti sebuah mandala. Jalur yang bercabang, berputar, dan kembali terhubung membuat kita tidak harus mengikuti satu arah tertentu.

Konsep tersebut sejalan dengan gagasan Sugimoto bahwa pemahaman tidak selalu hadir melalui penjelasan yang telah ditentukan, tapi dapat tumbuh melalui pengalaman melihat dan bergerak.