Terinspirasi Lagu Tradisional, Roemah Koffie Hadirkan Kopi Gayo dan Temanggung dalam Varian Cublak Suweng

Navaswara.com — Roemah Koffie kembali menghadirkan inovasi unik yang sarat akan nilai warisan budaya Nusantara. Jenama kopi lokal ini secara resmi meluncurkan varian premium terbarunya yang diberi nama Cublak Suweng. Pemilihan nama Cublak Suweng yang unik ini sengaja diangkat untuk merepresentasikan filosofi kerendahan hati melalui harmoni rasa.

Peluncuran varian premium oleh Roemah Koffie yang merupakan bagian dari Royal Agro Industry ini dikemas dalam bentuk roastery beans terbaru. Melalui produk teranyar ini, mereka memadukan keunikan cita rasa biji kopi Gayo asal Aceh dan kopi Temanggung dari Jawa Tengah untuk melestarikan warisan nusantara.

Secara profil rasa, racikan eksklusif ini menghasilkan harmonisasi cita rasa buah-buahan, hazelnut, cokelat, serta karamel yang seimbang. Menggunakan biji kopi pilihan berkualitas high premium grade 1, produk ini sengaja dirancang agar bersifat fleksibel untuk dinikmati oleh berbagai kalangan masyarakat.

Commercial Director Roemah Koffie, Ryo Limijaya, menjelaskan bahwa racikan rasa yang seimbang membuat varian ini mudah diterima pasar luas. “Kopi ini dibuat untuk bisa masuk ke berbagai macam kalangan, baik yang baru mencoba kopi maupun penikmat manual brew,” ujar Ryo.

Ryo menambahkan bahwa keunikan produk premium ini terletak pada fleksibilitas penyajiannya yang luar biasa. “Rasanya sangat balance. Kopi ini sangat cocok disajikan sebagai espresso hitam, filter, hingga dicampur susu dengan gula aren ataupun madu,” kata Ryo menjelaskan karakter produknya.

Peluncuran Cublak Suweng didasari oleh visi besar untuk menaikkan kelas komoditas kopi Indonesia ke tingkat premium. Langkah strategis ini diambil agar produk lokal mampu memenangkan pasar domestik dan tidak kalah bersaing dengan kehadiran berbagai ekspansi jenama asing.

Founder sekaligus CEO Roemah Koffie, Felix TJ, mengungkapkan keengganannya bermain di pasar bawah demi menghindari perang harga. “Indonesia terlalu kaya dan indah untuk tidak diceritakan. Kami ingin menaikkan kopi Indonesia ke tingkat sangat premium lewat seni dan budaya,” tegas Felix.

Melalui standarisasi rasa yang tinggi, Felix optimistis produk baru ini dapat memperluas jangkauan pasar dan memperkenalkan kekayaan lokal ke kancah global. “Dengan kurasi rasa ini, kami berharap Cublak Suweng bisa menjadi pintu bagi lebih banyak masyarakat domestik maupun internasional untuk menikmati kopi premium khas Indonesia,” tutur Felix saat berbicara di outlet Roemah Koffie PIK 2.

Pemilihan nama Cublak Suweng sendiri melanjutkan tradisi kebudayaan unik yang dijalankan oleh Roemah Koffie. Mereka konsisten meluncurkan produk premium baru setiap enam bulan sekali dengan penamaan yang terinspirasi dari lagu-lagu daerah yang telah berstatus domain publik.

Sebelumnya, mereka sukses merilis varian premium Rambadia dari Sumatra Utara dan Anak Daro asal Sumatra Barat. Melalui untaian melodi tradisional ini, Roemah Koffie ingin memicu rasa nostalgia sekaligus memperkenalkan warisan budaya Nusantara yang mulai terlupakan kepada generasi muda.

Lagu Cublak Suweng yang sarat makna kebersamaan dinilai selaras dengan konsep produk yang merangkul semua lidah konsumen. Daya tarik visual dari Cublak Suweng juga tampak pada kaleng kemasan klasiknya yang menampilkan ilustrasi kisah legenda kancil dan kura-kura. Pilihan visual tersebut membawa pesan moral dari falsafah Jawa kuno alon-alon asal kelakon yang mengutamakan nilai ketekunan serta kesabaran dalam berproses.

Langkah inovatif ini terbukti sukses memikat pasar internasional saat diperkenalkan dalam ajang pameran ekonomi kreatif di Singapura beberapa pekan lalu.

Roemah Koffie Group menjalankan bisnis kopi secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir, sehingga setiap tahap dapat dikendalikan untuk menjaga kualitas produk. Ryo menjelaskan, perusahaan melakukan pembelian langsung dari petani melalui skema direct sourcing, mengolah biji kopi, hingga memanggangnya di fasilitas produksi sendiri. Selain itu, Roemah Koffie juga memiliki Roemah Koffie Academy sebagai wadah edukasi bagi barista, karyawan, maupun masyarakat yang ingin mempelajari industri kopi.

Di balik kelezatan rasa, produk ini mengusung misi mulia A Cup of Meaning and Reflections. Semboyan ini merefleksikan prinsip teguh bahwa setiap cangkir kopi yang disajikan wajib memberikan kontribusi nyata yang berdampak positif bagi alam dan para petani hulu.

Langkah konkret diwujudkan melalui program pemberdayaan guna mengatasi dampak perubahan iklim dan penurunan regenerasi petani lokal. Dari setiap transaksi penjualan produk premium ini, sebagian margin keuntungan dikembalikan langsung untuk membantu menyokong ekosistem perkebunan perkopian di daerah asal.

Pada momentum peluncuran ini, Roemah Koffie mengumumkan penyaluran dana bantuan sebesar Rp120 juta bagi petani di Temanggung. Aksi sosial berkelanjutan ini diimplementasikan dalam bentuk program kerja nyata, bukan sekadar pemberian bantuan tunai langsung kepada perwakilan komunitas.

Aksi ini merupakan kelanjutan gerakan sosial terdahulu di Bali dan di Aceh. “Prinsip kami, whatever we take, we give back. Apa yang kita tabur, itu yang kita tuai,” pungkas Felix penuh rasa patriotisme.

Selain memperkuat pasar domestik, Roemah Koffie kini gencar mengepakkan sayap ke pasar internasional. Saat ini, mereka telah sukses mengekspor puluhan ton green bean ke mancanegara, seperti Yunani dan Melbourne, Australia.

Melalui perpaduan apik antara kurasi cita rasa premium, pelestarian melodi Nusantara, dan komitmen nyata menyejahterakan petani di hulu, Cublak Suweng bukan sekadar produk baru dari Roemah Koffie. Langkah ini menjadi pembuktian bahwa secangkir kopi lokal mampu membawa narasi budaya yang berkelas dan berdampak bagi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *