Navaswara.com – Kopi sudah menjadi bagian dari rutinitas harian bagi banyak orang, baik untuk diminum di rumah sebelum beraktivitas atau diseduh ulang di sela pekerjaan. Kebiasaan ini tercermin kuat di e-commerce sepanjang Januari hingga November 2025. Data Compas Market Insight Dashboard mencatat nilai penjualan kopi melonjak 120 persen secara tahunan, dari Rp1,1 triliun menjadi Rp2,4 triliun.
Kenaikan ini terjadi bersamaan dengan perubahan harga yang cukup terasa. Harga rata rata kopi per unit naik dari Rp46.000 menjadi Rp81.000, atau meningkat 75 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Meski begitu, minat beli tidak surut. Jumlah unit kopi yang terjual justru meningkat dari 23 juta pada 2024 menjadi 29 juta unit di 2025.

Jika dilihat lebih spesifik, dominasi kopi terlihat jelas di platform Shopee. Berdasarkan data Compas.co.id untuk periode November 2024 hingga November 2025, subkategori kopi muncul sebagai pendorong utama lonjakan pasar F&B daring. Produk kopi mencatatkan nilai penjualan hingga Rp2,4 triliun dengan pertumbuhan tahunan 120 persen, menjadikannya kategori dengan performa paling kuat di antara produk konsumsi lainnya.
Namun kopi bukan satu satunya kategori yang mencerminkan perubahan kebiasaan belanja. Subkategori makanan ringan kering mencatatkan penjualan Rp2,3 triliun dengan pertumbuhan 59 persen. Produk susu bubuk serta makanan segar dan beku olahan menyusul dengan nilai penjualan masing masing Rp1,5 triliun. Pola ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin terbiasa memenuhi kebutuhan konsumsi harian, dari camilan hingga bahan pangan pokok, langsung melalui kanal digital.

CEO Compas.co.id Hanindia Narendrata menilai tren kopi berkaitan erat dengan perubahan cara konsumen mengatur belanja. “Konsumen mulai terbiasa membeli kopi dalam kemasan besar, baik untuk konsumsi rumah tangga maupun kebutuhan stok jangka panjang,” ujarnya. Pola ini membuat kopi tidak lagi dibeli sekadar untuk kebutuhan sesaat atau didominasi pembelian kecil dengan frekuensi tinggi, tetapi direncanakan sebagai persediaan.
Perubahan tersebut terlihat jelas pada format kemasan. Data Compas.co.id menunjukkan penjualan kopi dalam kemasan karton tumbuh 563 persen secara nilai, jauh melampaui format lain yang hanya naik sekitar 53 persen. Bagi konsumen, kemasan besar dinilai lebih efisien dari sisi harga per sajian dan frekuensi belanja.
Secara keseluruhan, data ini mencerminkan ekosistem e-commerce F&B di Indonesia yang semakin matang. Pertumbuhan juga terjadi pada subkategori lain seperti teh yang naik 54 persen dan minuman bubuk sebesar 66 persen. Melihat kopi sebagai motor penggerak utama, perubahan kebiasaan belanja ini membuka ruang baru bagi pelaku industri untuk menyesuaikan strategi penjualan daring dalam beberapa tahun ke depan.
