Gen Z Ramai-ramai Nabung Emas Digital di Aplikasi, Ternyata Ini Alasannya

Navaswara.com – Kenaikan harga emas hingga kemudahan investasi digital membuat semakin banyak anak muda mulai menyisihkan uang untuk membeli logam mulia.

Kalau masih menganggap Gen Z hanya sibuk menggulir media sosial dan menghabiskan uang untuk hiburan, data terbaru menunjukkan cerita lain. PT Pegadaian mencatat jumlah nasabah Tabungan Emas dari kelompok usia Gen Z melonjak 116 persen secara tahunan sepanjang 2025, melebihi kelompok usia lainnya.

Hingga akhir 2025, total pengguna Tabungan Emas Pegadaian telah mencapai 4,85 juta nasabah. Kenaikan minat tersebut turut mendorong pertumbuhan bisnis emas Pegadaian. Hingga akhir 2025, total ekosistem emas yang dikelola perusahaan mencapai 136 ton, termasuk 17,1 ton yang berasal dari Tabungan Emas dan 10,3 ton dari layanan Cicil Emas. Lalu, apa yang mendorong generasi kelahiran 1997–2007 ini semakin tertarik menabung emas?

1. Harga emas terus melesat, banyak yang tak ingin kehilangan peluang

Sepanjang 2025, harga emas batangan Antam naik dari sekitar Rp1,55 juta per gram pada awal tahun menjadi Rp2,5 juta per gram di penghujung tahun. Kenaikannya mencapai sekitar 61 persen hanya dalam waktu 12 bulan. Di tingkat global, emas juga mencetak lebih dari 50 rekor harga tertinggi sepanjang tahun.

Lonjakan tersebut membuat banyak anak muda mulai menghitung potensi keuntungan yang bisa diperoleh apabila membeli emas lebih awal. Kekhawatiran kehilangan peluang memang memicu minat awal. Namun, setelah mulai berinvestasi, banyak di antaranya memilih menabung emas secara rutin sebagai bagian dari rencana keuangan jangka panjang.

2. Konten finansial di media sosial, investasi emas semakin mudah dipahami

Generasi sebelumnya banyak mengenal investasi melalui seminar maupun buku. Kini, Gen Z memperoleh informasi dari TikTok, Instagram, hingga YouTube. Konten edukasi keuangan berkembang pesat, termasuk pembahasan mengenai emas sebagai aset safe haven yang relatif stabil dan mudah dipahami.

Peningkatan pengetahuan tersebut tercermin dalam Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025. Kelompok usia 18–25 tahun mencatat tingkat literasi keuangan sebesar 73,26 persen, tertinggi dibanding kelompok usia lainnya. Kondisi ini menunjukkan minat terhadap investasi ikut tumbuh seiring meningkatnya pemahaman mengenai pengelolaan keuangan.

3. Modal awal terjangkau dan prosesnya praktis

Dulu, investasi emas identik dengan modal besar dan proses yang cukup panjang. Kini, melalui aplikasi Tring! by Pegadaian, pembukaan rekening hingga pembelian emas dapat dilakukan dalam hitungan menit tanpa perlu datang ke kantor cabang.

Layanan digital seperti ini sesuai dengan kebiasaan Gen Z yang menyukai proses praktis dan cepat. Nominal pembelian yang terjangkau juga membuka peluang bagi mahasiswa maupun pekerja yang baru memperoleh penghasilan pertama untuk mulai menabung emas secara bertahap.

4. Emas dinilai mampu menjaga nilai aset saat ekonomi bergejolak

Ketidakpastian ekonomi global sepanjang 2025, mulai dari tensi geopolitik, pelemahan nilai tukar, hingga inflasi, membuat emas kembali dipandang sebagai aset pelindung nilai. World Gold Council mencatat permintaan investasi emas global meningkat 84 persen secara tahunan menjadi 2.175 ton, tertinggi sepanjang sejarah.

Di Indonesia, kesadaran untuk melindungi nilai aset juga semakin meningkat. Banyak anak muda mulai menyadari bahwa menyimpan dana di rekening tabungan belum tentu mampu menjaga daya beli dalam jangka panjang. Emas pun dipilih karena nilainya cenderung lebih tahan terhadap gejolak ekonomi.

5. Minat investasi Gen Z memang terus meningkat

Meningkatnya minat terhadap emas merupakan bagian dari tren yang lebih luas. Data OJK per September 2025 menunjukkan 54,20 persen investor pasar modal di Indonesia berasal dari kelompok usia di bawah 30 tahun. Sepanjang 2025, jumlah investor pasar modal bertambah sekitar 4,2 juta orang atau meningkat hampir 30 persen dibanding tahun sebelumnya.

Data tersebut menunjukkan Gen Z semakin aktif membangun portofolio investasi sejak usia muda. Emas dipilih banyak orang karena relatif stabil, mudah diakses secara digital, serta tidak membutuhkan pemahaman teknis yang terlalu kompleks dibanding beberapa instrumen investasi lain.

Lonjakan jumlah nasabah Tabungan Emas di beberapa aplikasi dari kalangan Gen Z bukan hanya dipengaruhi tren yang ramai di media sosial. Kenaikan harga emas, meningkatnya literasi keuangan, kemudahan layanan digital, serta kebutuhan menjaga nilai aset di tengah ketidakpastian ekonomi menjadi kombinasi faktor yang mendorong minat tersebut. Kondisi ini menunjukkan semakin banyak anak muda yang mulai menempatkan investasi sebagai bagian dari perencanaan keuangan sejak dini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *