Mengenal Prasasti Batutulis, Saksi Kejayaan Sri Baduga Maharaja di Pajajaran

Navaswara.com – Prasasti Batutulis merupakan salah satu peninggalan sejarah dari Kerajaan Sunda yang hingga kini masih berdiri di kawasan Batutulis, Bogor, Jawa Barat. Prasasti ini dibuat oleh Raja Surawisesa pada tahun 1533 M sebagai bentuk penghormatan kepada sang ayah, Sri Baduga Maharaja atau yang lebih dikenal sebagai Prabu Siliwangi.

Isi yang tertuang dalam Prasasti Batutulis mengisahkan Kota Pakuan yang resmi menjadi ibu kota Kerajaan Sunda pada tahun 1482. Pada masa itu Sri Baduga Maharaja dinobatkan sebagai penguasa di Pakuan Pajajaran.

Kepemimpinannya dikenal sebagai salah satu yang paling gemilang dalam sejarah Tatar Sunda. Ia berhasil mempersatukan kekuatan kerajaan, memperkuat pemerintahan, serta membangun fondasi yang membuat Kerajaan Sunda berkembang menjadi wilayah yang disegani.

Salah satu langkah besar Sri Baduga adalah memindahkan pusat kerajaan dari Kawali ke Pakuan. Keputusan ini bukan sekadar perpindahan administratif, melainkan strategi besar untuk membawa Kerajaan Sunda lebih dekat dengan jalur perdagangan internasional.

Dengan letaknya yang strategis dan berdekatan dengan pelabuhan-pelabuhan penting, terutama Pelabuhan Kalapa, Pakuan berkembang menjadi pusat ekonomi, politik, dan spiritual kerajaan.

Ramainya perdagangan rempah-rempah semakin memperkuat posisi Kerajaan Sunda dalam jaringan perdagangan internasional. Melihat pentingnya peran pelabuhan tersebut, Surawisesa kemudian melanjutkan hubungan diplomatik dengan bangsa Portugis untuk menjaga kepentingan ekonomi kerajaan.

Di sisi lain, kemajuan Kerajaan Sunda pada masa Sri Baduga tidak hanya terlihat dari aspek ekonomi. Ia juga dikenal sebagai pemimpin yang sangat memperhatikan pembangunan infrastruktur, lingkungan, dan kehidupan spiritual masyarakatnya.

Berbagai kawasan suci, tempat peribadatan, hutan larangan, serta telaga-telaga penting dipelihara dan dijaga dengan baik. Dalam berbagai naskah kuno, Sri Baduga digambarkan sebagai raja bijaksana yang menghormati nilai-nilai leluhur dan berusaha menciptakan keseimbangan antara pembangunan dengan kelestarian alam.

Ketika Surawisesa naik takhta pada tahun 1521, ia mewarisi kerajaan yang kuat, namun menghadapi tantangan yang tidak ringan. Masa pemerintahannya diwarnai berbagai peperangan dan konflik politik.

Selama bertahun-tahun ia harus menghadapi ancaman dari luar maupun pemberontakan yang muncul di berbagai wilayah. Tercatat, Surawisesa memimpin langsung banyak pertempuran demi mempertahankan keutuhan Kerajaan Sunda. Ia juga memperkuat benteng, parit pertahanan, dan sistem keamanan Kota Pakuan sehingga ibu kota tetap mampu bertahan menghadapi berbagai ancaman.

Meski harus menghadapi masa yang penuh gejolak, Surawisesa tetap berusaha menjaga warisan besar yang ditinggalkan ayahnya. Hingga menjelang akhir pemerintahannya, ia memerintahkan pembuatan Prasasti Batutulis sebagai monumen penghormatan kepada Sri Baduga Maharaja.

Dalam prasasti tersebut, berbagai keberhasilan dan jasa sang ayah diabadikan agar terus dikenang. Selain itu, prasasti ini juga menjadi pengingat tentang nilai-nilai kepemimpinan, pembangunan, dan kebijaksanaan yang pernah membawa Kerajaan Sunda mencapai puncak kejayaan.

Menariknya, bagian akhir prasasti memuat ungkapan yang sarat makna, yaitu “ngemban bumi” atau menjaga bumi Pajajaran. Pesan tersebut mencerminkan harapan agar masyarakat dan para penerus kerajaan terus merawat negeri, menjaga alam, memelihara warisan leluhur, serta mempertahankan nilai-nilai yang telah dibangun oleh Sri Baduga Maharaja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *