Asal Usul Nama Dayeuh Manggung dan Pertemuan Aki Panyumpit dengan Putri Rambut Kasih

Navaswara.com – Dayeuh Manggung merupakan sebuah desa yang berada di Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Selain dikenal sebagai salah satu pintu utama pendakian menuju Gunung Cikuray, wilayah ini juga menyimpan legenda yang diwariskan turun-temurun mengenai asal usul namanya.

Kisah tersebut berkaitan dengan tokoh legendaris Sunda, yakni Prabu Siliwangi dan seorang abdi setia yang bernama Aki Panyumpit. Pada masa lampau, wilayah yang kini dikenal sebagai Dayeuh Manggung masih berupa hutan lebat.

Suatu hari, Aki Panyumpit yang bertugas sebagai pemburu kerajaan merasa kebingungan menentukan lokasi perburuan. Hampir seluruh hutan di berbagai penjuru telah ia jelajahi. Akhirnya ia memutuskan untuk menuju hutan di sebelah timur yang sudah lama tidak didatanginya.

Dengan membawa sumpit dan panah andalannya, ia menempuh perjalanan panjang melewati bukit dan gunung. Namun sepanjang perjalanan, ia tidak menemukan seekor binatang pun. Keadaan hutan yang sunyi membuatnya terus melangkah hingga mencapai sebuah tempat yang lebih tinggi.

Saat berada di puncak kawasan tersebut, Aki Panyumpit mencium aroma yang sangat wangi. Rasa penasaran mendorongnya mengikuti sumber wewangian itu hingga sampai di sekitar Sungai Cipancar.

Di tempat itulah ia melihat seorang perempuan cantik yang kemudian diketahui bernama Putri Rambut Kasih. Kecantikan sang putri membuat Aki Panyumpit terpesona.

Usai melihatnya, Aki Panyumpit memutuskan untuk kembali ke kerajaan dan mengadukan hal tersebut pada paduka Prabu Siliwangi. Berkat penggambaran tersebut, Prabu Siliwangi merasa penasaran dan ingin meminang sang gadis. Ia lalu mengutus Gajah Manggala untuk mencari dan menyampaikan lamaran yang akhirnya diterima dengan baik.

Setelah menikah, pasangan tersebut menetap di kawasan hutan di sebuah dataran tinggi. Lambat laun, daerah itu mulai ramai oleh kedatangan penduduk yang membuka lahan dan membangun permukiman.

Kehidupan masyarakat berkembang pesat sehingga wilayah yang semula berupa hutan berubah menjadi kawasan yang hidup dan ramai. Melihat perkembangan tersebut, masyarakat kemudian menganggap tempat itu layak menjadi sebuah dayeuh atau kota.

Dalam bahasa Sunda, kata “dayeuh” berarti kota atau pusat permukiman. Sementara kata “manggung” memiliki makna menonjol, tinggi, atau tampak megah.

Nama Dayeuh Manggung kemudian diberikan untuk menggambarkan sebuah kota yang berdiri di kawasan dataran tinggi dan terlihat menonjol dibanding daerah sekitarnya. Nama tersebut sekaligus menjadi pengingat akan perjalanan Aki Panyumpit yang menemukan tempat itu dari puncak perbukitan sebelum akhirnya berkembang menjadi kawasan yang ramai dihuni.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *