“Through Reverie”: Fragmen Emosi dalam Balutan Visual Playful

Navaswara.com – Whitestone Gallery Singapore resmi menghadirkan pameran bertajuk “Through Reverie: Love and Memory”. Digelar mulai 9 Mei hingga 28 Juni 2026, pameran duo-solo ini menghadirkan karya seniman asal Indonesia, Clasutta, bersama C.K. Koh seniman Malaysia.

Keduanya membawa pendekatan berbeda dalam membaca memori dan pengalaman emosional, namun bertemu dalam satu titik yang sama, yakni ruang sunyi tempat kenangan dan kerinduan terus hidup dalam bentuk fragmen-fragmen kecil.

Presentasi Clasutta bertajuk “Roommates?” menjadi pusat perhatian dalam pameran ini. Melalui karya-karyanya, Clasutta membahas perasaan manusia dengan pendekatan yang terasa ringan sekaligus mengandung kegelisahan emosional.

Ia memperlihatkan bagaimana cinta tidak selalu hadir dalam bentuk yang romantis dan stabil. Hubungan justru kerap dibangun dari kebiasaan kecil, kompromi yang tak terucap, hingga kesalahpahaman yang perlahan menjadi bagian dari keseharian. Dalam karya-karyanya, cinta digambarkan sebagai sesuatu yang cair, datang dan pergi, namun tetap meninggalkan jejak yang sulit dihapus.

Clasutta menggunakan figur-figur karakter yang ekspresif dan visual yang tampak playful untuk menyampaikan lapisan emosi yang lebih kompleks. Di balik tampilan yang sederhana, terdapat rasa cemas, keterikatan, hingga absurditas kehidupan modern yang terasa begitu dekat dengan pengalaman banyak orang.

Ia tidak mencoba merekonstruksi masa lalu secara utuh, melainkan menghadirkan potongan-potongan emosi yang terasa familiar namun sulit sepenuhnya dipahami. Dari sana, pengunjung diajak menyadari bahwa hubungan sering kali bertahan bukan hanya karena pilihan, tetapi karena kebiasaan dan kebutuhan emosional yang tumbuh perlahan.

Sementara itu, C.K. Koh menghadirkan presentasi bertajuk “Folded Glimpses” yang berasal dari arsip fotografi pribadinya. Berbeda dengan pendekatan dokumenter, Koh lebih tertarik menangkap momen-momen singkat yang berada di antara pengamatan dan ingatan.

Kehadiran figur Box Boy menjadi simbol kontinuitas memori yang terus berubah seiring waktu, jarak, dan pengalaman emosional. Karyanya memperlihatkan bagaimana ingatan tidak pernah benar-benar diam, melainkan terus bergerak dan membentuk cara seseorang memandang dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *