Navaswara.com – Babak final Festival Storytelling Cerita Rakyat Suara Nusantara Banten 2026 resmi berlangsung di Pendopo Gubernur Banten, Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), Kota Serang, Minggu (17/05/2026). Festival yang mengusung tema “Menghidupkan Legenda Banten, Menginspirasi Masa Depan” ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk kembali mengenal cerita rakyat khas Banten yang sarat nilai sejarah dan kearifan lokal.
Acara yang diinisiasi oleh Navaswara ini mendapat apresiasi besar dari berbagai pihak, termasuk Ketua DPRD Provinsi Banten, Fahmi Hakim. Dalam sambutannya, ia menilai festival storytelling bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan bagian penting dari upaya menjaga identitas budaya Banten di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital.
Menurutnya, Banten memiliki sejarah panjang yang harus terus diwariskan kepada generasi muda. Ia menyebut, “Banten itu memiliki budaya dan sejarah yang cukup panjang. Mulai dari turunnya siar keislaman di Provinsi Banten, sampai cerita bagaimana Banten telah memiliki uang sendiri.”
Fahmi juga memberikan apresiasi kepada Ketua Panitia sekaligus penggagas kegiatan, Cahaya Manthovani yang dinilai berhasil menghadirkan ruang kreatif bagi anak-anak Banten untuk mengekspresikan kemampuan mendongeng. Ia menyebut kegiatan ini menjadi bukti bahwa generasi muda Banten masih memiliki kecintaan terhadap budaya daerahnya sendiri.
“Selamat kepada Cahaya sebagai Ketua Panitia Suara Nusantara khususnya pada Legenda Provinsi Banten. Dongeng yang ada merupakan sebuah budaya dan sejarah yang selalu diceritakan oleh orang tua kepada kami. Hari ini diimplementasikan melalui literasi proses lomba kepada seluruh anak-anak Provinsi Banten dari mulai tingkat SD, SMP, SMA, bahkan Universitas. Tentu ini memaknai bahwa budaya cerita Banten menjadi bagian sejarah yang diteruskan kepada masa depan Banten hari ini,” tambahnya.
Fahmi Hakim bahkan mendorong agar Festival Storytelling Cerita Rakyat Suara Nusantara dijadikan agenda tahunan Pemerintah Provinsi Banten, khususnya dalam rangkaian Hari Jadi Provinsi Banten setiap 4 Oktober. Ia berharap Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dapat menjadi leading sector dalam pengembangan program tersebut agar pelestarian budaya dan literasi sejarah daerah dapat berjalan secara berkelanjutan.
Menurutnya, di tengah era digitalisasi saat ini, budaya asing begitu mudah masuk melalui media sosial dan teknologi. Karena itu, masyarakat Banten harus tetap menjaga sejarah dan budaya daerah agar tidak tergerus perkembangan zaman. Ia menegaskan bahwa modernisasi boleh terus berkembang, namun sejarah dan identitas budaya tidak boleh hilang.
Melalui festival ini, diharapkan cerita rakyat Banten tidak hanya menjadi dongeng masa lalu, tapi juga menjadi inspirasi bagi generasi muda dalam membangun masa depan daerah. Festival storytelling pun menjadi bukti nyata bahwa budaya lokal masih memiliki tempat penting di hati masyarakat.

