Astra Dorong Komoditas Lokal Desa Tembus Pasar Global, Pendapatan Warga Lombok dan Bandung Meningkat

Navaswara.com — Di hamparan lahan hortikultura yang hijau, para petani memetik hasil panen dengan wajah penuh harap. Dari tangan-tangan yang dulu hanya mengandalkan pasar lokal, kini lahir optimisme baru bahwa komoditas desa mampu bersaing lebih luas. Harapan itu kian nyata setelah Astra memperkuat program pengembangan komoditas unggulan lokal melalui Desa Sejahtera Astra yang berdampak langsung pada peningkatan pendapatan masyarakat.

Astra mendorong kemandirian ekonomi desa melalui pengembangan komoditas unggulan berbasis potensi lokal di berbagai wilayah, termasuk Kabupaten Bandung Barat dan Lombok Utara. Program ini menjadi bagian dari kolaborasi strategis berbasis pendekatan One Village One CEO (OVOC) yang mengintegrasikan ekosistem bisnis desa dari hulu hingga hilir.

Chief of Corporate Affairs Astra, Boy Kelana Soebroto, menegaskan bahwa desa memiliki potensi besar sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru. “Kami ingin memastikan masyarakat desa tidak hanya mampu memproduksi, tetapi juga memiliki daya saing dan akses pasar yang berkelanjutan,” ujarnya dalam keterangan resmi.

Di Bandung Barat, program yang telah berjalan sejak 2020 mencakup analisis potensi produksi, transfer teknologi, hingga penguatan pemasaran. Dengan pengelolaan lahan seluas 20 hektare dan melibatkan sekitar 650 masyarakat di enam desa, kapasitas produksi mencapai 15 ton per siklus panen. Komoditas yang dikembangkan meliputi selada air, labu, tomat, buncis kenya, cabai, kol merah, hingga paprika.

Hasilnya, pendapatan petani meningkat signifikan dari sekitar Rp1,2 juta menjadi Rp2,5 juta per bulan. Peningkatan ini tidak hanya mencerminkan keberhasilan produksi, tetapi juga efektivitas integrasi akses pasar yang lebih luas.

Sementara itu, di Lombok Utara, Astra mendorong pengembangan komoditas seperti porang, sorgum, kemiri, mete, kelor, dan cabai melalui pelatihan komprehensif dari budidaya hingga pascapanen. Program yang telah berjalan sejak 2019 ini melibatkan 432 masyarakat dari 16 desa dan turut membuka peluang kerja baru.

Kolaborasi di Lombok juga diperkuat melalui kerja sama dengan Kementerian Sosial, Universitas Mataram, dan mitra industri sebagai offtaker produk. Pendapatan masyarakat di wilayah ini meningkat dari di bawah Rp1 juta menjadi sekitar Rp3 juta per bulan.

Secara nasional, hingga 2025 program Desa Sejahtera Astra telah menjangkau 1.533 desa di 180 kabupaten. Rata-rata peningkatan pendapatan masyarakat mencapai 56,85 persen, dengan lebih dari 3.700 lapangan kerja tercipta. Sebanyak 492 desa bahkan telah menembus pasar ekspor ke 26 negara dengan total valuasi mencapai sekitar Rp411 miliar.

Langkah ini menunjukkan bahwa pemberdayaan desa berbasis komoditas unggulan tidak hanya berdampak sosial, tetapi juga memiliki nilai ekonomi strategis dalam memperkuat daya saing nasional. Program ini sekaligus menjadi bagian dari kontribusi sektor swasta dalam mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif dan berkelanjutan.

Ke depan, Astra menegaskan komitmennya untuk terus memperluas dampak program, memperkuat kolaborasi lintas sektor, serta menghadirkan model pemberdayaan desa yang mampu menjawab tantangan global sekaligus mengakar pada potensi lokal Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *