Navaswara.com – Terletak di lereng Gunung Lawu tepatnya pada ketinggian sekitar 1496 meter di atas permukaan laut (mdpl), Candi Cetho merupakan destinasi wisata yang menawarkan paket lengkap. Mulai dari lanskap alam yang megah, suasana tenang, hingga catatan sejarah yang menarik untuk dipelajari.
Dalam bahasa Jawa, nama Cetho sendiri memiliki arti “jelas”. Penamaan ini merujuk pada pemandangan nan luas yang bisa dinikmati dari pelataran candi. Jika hari sedang cerah, pengunjung dapat melihat panorama kota Solo dan sekitarnya dengan latar belakang Gunung Merbabu, Merapi, dan Gunung Sumbing. Sedangkan bila kita memalingkan wajah ke arah Selatan, maka kita akan diperlihatkan punggungan dan gugusan anak Gunung Lawu yang berdiri megah.
Keindahan visual Candi Cetho akan semakin memesona saat matahari mulai terbenam di ufuk barat. Cahaya keemasan akan menyinari dinding-dinding batu dan siluet gapura yang megah, menciptakan pemandangan yang sangat ikonik bagi para pencinta fotografi. Tidak mengherankan jika banyak orang yang rela menempuh perjalanan jauh untuk merasakan momen tersebut sambil menikmati semilir angin pegunungan yang segar.
Dibangun sekitar tahun 1451- 1470 atau pada zaman Kerajaan Majapahit, arsitektur Candi Cetho memiliki karakteristik yang sangat unik dan berbeda dari candi-candi lain di Jawa Tengah, karena strukturnya berundak-undak. Saat tiba di gerbang utama, kita akan disambut oleh kemegahan candi yang sering dijuluki sebagai “candi di atas awan”.
Julukan ini bukan diberikan secara asal, kabut tipis yang sering kali turun menyelimuti candi menciptakan efek dramatis seolah candi ini melayang di udara. Terlebih, Candi Cetho ternyata menduduki urutan ketiga sebagai candi paling tinggi di Indonesia setelah Candi Dieng dengan ketinggian 2.000 mdpl dan Candi Kethek (1.500 mdpl) .
Keunikan lain dari Candi Cetho terletak pada relief dan deretan arca yang visualnya masih dipengaruhi kuat oleh budaya lokal. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah relief berbentuk burung garuda dan simbol-simbol lingga-yoni yang memiliki makna filosofis tentang asal-usul kehidupan.
Selain keindahan arsitektur dan lanskap alam yang memukau, suasana di Candi Cetho juga sangat kental dengan nuansa spiritual. Hingga kini, tempat ini masih digunakan sebagai lokasi ibadah umat Hindu dan sering dijadikan tempat meditasi maupun pertapaan. Hal ini membuat suasana di sekitar candi terasa hening dan damai.
Di sisi lain, daya tarik Candi Cetho juga tidak terlepas dari mitos dan legenda yang menyertainya. Setiap sudut candi menyimpan cerita tentang kejayaan masa lalu dan kearifan lokal yang tertanam dalam setiap pahatan arca. Wisatawan yang datang biasanya akan mengenakan kain kampuh bermotif catur sebagai bentuk penghormatan terhadap kesucian tempat ini.
Seiring dengan populernya Candi Cetho sebagai wisata sejarah, fasilitas di sekitarnya pun kian berkembang tanpa merusak keaslian situsnya. Tak jauh dari candi, pengunjung dapat menemukan kedai-kedai kecil yang menyajikan teh hangat khas Karanganyar yang bisa dinikmati sambil memandang lembah yang luas nan indah. Tak hanya itu, fasilitas dasar seperti tempat parkir dan toilet umum pun sudah disediakan demi kenyamanan pengunjung.
