Inayah Wahid Menikah di Sumenep, Sosok Kiai Mamak Jadi Sorotan

Navaswara.com — Suasana hangat dan sederhana menyelimuti sebuah prosesi pernikahan di lingkungan pesantren. Tanpa kemewahan berlebih, momen sakral itu justru terasa intim dan penuh makna, dengan senyum bahagia terpancar dari kedua mempelai di tengah keluarga dan sahabat terdekat.

Putri bungsu Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid, Inayah Wulandari Wahid, resmi menikah dengan KH Muhammad Shalahuddin A Warits di Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Raya, Sumenep, Jawa Timur, Minggu 5 April 2026. Pernikahan ini menarik perhatian publik karena berlangsung tanpa banyak sorotan sebelumnya.

Kabar bahagia tersebut menyebar melalui media sosial dan langsung mendapat beragam ucapan selamat dari warganet. Sejumlah unggahan memperlihatkan suasana pernikahan yang berlangsung sederhana, dengan nuansa kekeluargaan yang kental.

Selain momen pernikahan, sosok mempelai pria yang dikenal dengan sapaan Kiai Mamak turut menjadi perhatian. Ia merupakan pengasuh di Pondok Pesantren Annuqayah, salah satu pesantren besar di Madura, serta putra dari ulama KH A Warits Ilyas.

Dalam tradisi Madura, sebutan “lora” yang melekat pada dirinya merupakan gelar kehormatan bagi putra kiai atau tokoh agama yang memiliki kedudukan penting di masyarakat.

Dari sisi pendidikan, Kiai Mamak memiliki rekam jejak akademik yang kuat. Ia merupakan lulusan Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, kemudian melanjutkan studi magister di Universitas Indonesia, serta menempuh pendidikan doktoral di Universitas Gadjah Mada. Latar belakang ini memperkuat posisinya sebagai figur pesantren yang memiliki wawasan keislaman sekaligus akademik yang luas.

Selain aktif di dunia pendidikan pesantren, ia juga memiliki pengalaman di bidang literasi dan organisasi, termasuk keterlibatannya dalam media mahasiswa serta aktivitas intelektual di kalangan muda. Di ranah publik, ia juga pernah terlibat dalam dinamika politik lokal di Kabupaten Sumenep.

Sementara itu, Inayah Wahid dikenal sebagai pegiat sosial dan budaya. Ia aktif di lingkungan Nahdlatul Ulama melalui Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia, serta mendirikan gerakan sosial yang fokus pada isu kemanusiaan, tenaga kerja, dan hak asasi manusia. Ia juga dikenal sebagai bagian dari jaringan Gusdurian yang mengusung nilai toleransi dan keberagaman.

Pernikahan ini tidak hanya menjadi kabar bahagia bagi keluarga besar, tetapi juga mencerminkan pertemuan dua latar kuat antara tradisi pesantren dan generasi muda yang aktif di ruang publik.

Di tengah dinamika kehidupan modern, momen ini menghadirkan pesan bahwa kesederhanaan, nilai keluarga, dan akar tradisi tetap memiliki tempat penting dalam perjalanan hidup seseorang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *