Navaswara.com – Persaingan pengembangan kecerdasan buatan (AI) global kini menunjukkan perbedaan strategi antara Amerika Serikat dan China.
Jika perusahaan AS fokus membangun teknologi tercanggih, raksasa teknologi China justru agresif menarik pengguna dengan promosi besar-besaran.
Sejumlah perusahaan seperti Moonshot AI dan DeepSeek berlomba “membakar uang” agar masyarakat menggunakan chatbot mereka dalam aktivitas sehari-hari.
Bakar Lebih dari Rp17 Triliun
Mengutip laporan NPR, Morgan Stanley memperkirakan aplikasi AI teratas menghabiskan lebih dari US$1,1 miliar atau sekitar Rp17 triliun untuk promosi selama libur Tahun Baru Imlek.
Alibaba menjadi salah satu yang paling agresif dengan menggelontorkan lebih dari US$430 juta.
Sementara itu, Tencent dan Baidu juga membagikan kupon dan hadiah bernilai jutaan dolar kepada pengguna.
Teh Susu Gratis Jadi Senjata
Strategi promosi ini terbukti menarik perhatian pengguna.
Salah satunya Li Hao (19), kurir pengiriman yang mencoba chatbot Qwen milik Alibaba karena tergiur hadiah teh susu gratis.
“Saya mencobanya dan mendapat teh susu. Setelah itu, saya tidak menggunakannya lagi,” ujarnya.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana perusahaan AI di China berusaha membiasakan pengguna melakukan transaksi langsung lewat chatbot.
Chatbot Jadi “Super App”
Di China, chatbot tidak hanya digunakan untuk mencari informasi, tetapi juga terintegrasi dengan layanan transaksi.
Lewat Qwen, pengguna bisa langsung memesan makanan, membeli tiket, hingga melakukan pembayaran dalam satu aplikasi.
Integrasi ini didukung oleh ekosistem digital seperti Alipay.
Sementara, chatbot lain seperti Doubao milik ByteDance terhubung dengan Douyin, dan Yuanbao milik Tencent terintegrasi dengan WeChat serta WeChat Pay.
Strategi Kuasai Ekosistem Digital
Pengamat dari Brookings Institut ion Kyle Chan menilai Alibaba ingin menjadikan AI sebagai pintu utama aktivitas digital.
“Mereka melihat AI sebagai antarmuka untuk hampir semua aktivitas online, bahkan hingga dunia nyata,” ujarnya.
Analis The Asia Group, George Chen menyebut kondisi ini mirip dengan perang platform pembayaran antara Alibaba dan Tencent satu dekade lalu.
Persaingan tersebut akhirnya melahirkan ekosistem “super app” di China.
“Sejarah sedang berulang,” kata Chen.
Pengguna Meledak, Tapi Sulit Bertahan
Lonjakan promosi sempat mendorong jumlah pengguna secara drastis.
Firma riset QuestMobile mencatat lebih dari 73,5 juta orang menggunakan Qwen dalam satu hari saat puncak promosi.
Sementara, Doubao mencatat lebih dari 144 juta pengguna harian.
Namun, setelah periode promosi berakhir, jumlah pengguna kembali menurun.
Kasus Li Hao menjadi gambaran umum bahwa pengguna datang karena insentif, tetapi belum tentu bertahan dalam jangka panjang.
Persaingan ini menandai pergeseran besar dalam fungsi AI.
Dari sekadar alat pencari informasi, chatbot kini didorong menjadi platform utama untuk bertransaksi dan menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari.
Ke depan, persaingan tidak hanya soal kecanggihan teknologi, tetapi juga siapa yang mampu menguasai ekosistem pengguna.
