Navaswara.com – Dahulu langit malam jadi bagian dari keseharian. Duduk atau berbaring menatap hamparan bintang tanpa gangguan merupakan pemandangan yang lazim ditemui. Namun, pemandangan tersebut kini kian sulit ditemukan di sejumlah kota besar di Indonesia.
Langit perkotaan saat ini cenderung berwarna oranye pucat. Warna tersebut bukan lagi sisa cahaya senja, melainkan pantulan dari lampu jalan, papan reklame, serta gedung bertingkat yang menyala sepanjang malam. Fenomena ini dikenal sebagai polusi cahaya.
Menurut World Atlas of Artificial Night Sky Brightness, lebih dari 80 persen populasi dunia hidup di bawah langit yang terpapar cahaya buatan. Di Asia Tenggara, angkanya lebih tinggi. Kondisi ini berlangsung lama hingga malam yang terang terasa biasa. Padahal, gelap adalah bagian penting dari siklus hidup yang selama ini bekerja tanpa banyak disadari.
Malam Buatan Mengganggu Ekosistem
Serangga nokturnal menjadi kelompok yang paling cepat terdampak. Ngengat dan kumbang malam mengandalkan cahaya alami untuk navigasi. Saat lampu buatan jauh lebih terang, arah mereka berubah. Banyak yang terus berputar di sekitar lampu sampai kelelahan. Studi dalam Philosophical Transactions of the Royal Society B mencatat populasi serangga nokturnal di area berlampu bisa turun hingga 50 persen dibanding wilayah yang masih gelap.
Dampaknya menjalar ke rantai ekosistem. Penyerbukan terganggu dan jumlah pakan bagi hewan lain ikut berkurang. Burung nokturnal juga menghadapi tekanan serupa. Cahaya berlebih mengganggu kemampuan berburu dan pola migrasi. Burung yang bergantung pada bintang untuk navigasi bisa tersesat atau kehilangan energi sebelum mencapai tujuan.
Ekolog dari University of Exeter, Kevin Gaston, menilai persoalan ini tidak bisa lagi dianggap ringan. Selama lebih dari satu dekade, ia meneliti dampak cahaya buatan terhadap satwa liar. Dalam makalah di Nature Ecology & Evolution pada 2023, ia menulis bahwa cahaya buatan di malam hari kini menjadi pendorong besar perubahan lingkungan yang selama ini kurang mendapat perhatian dibanding polutan lain. Ia menekankan dampaknya bersifat kumulatif dan sering tidak terlihat sampai populasi suatu spesies mendekati titik kritis.

Tubuh Manusia Juga Butuh Gelap
Tubuh manusia bekerja mengikuti siklus terang dan gelap. Kelenjar pineal memproduksi melatonin saat kondisi minim cahaya. Hormon ini berperan dalam kualitas tidur dan daya tahan tubuh. Paparan cahaya di malam hari, termasuk dari layar ponsel, dapat menekan produksinya.
Penelitian dalam Environmental Health Perspectives menemukan hubungan antara paparan cahaya malam dengan peningkatan risiko gangguan kesehatan seperti obesitas, diabetes tipe 2, hingga gangguan suasana hati. Pekerja malam menghadapi tekanan paling nyata karena ritme tubuh berjalan tidak selaras dengan aktivitas harian.
Langkah perbaikan sebenarnya cukup jelas. Lampu yang tidak perlu bisa dimatikan, intensitas cahaya diturunkan, dan arah pencahayaan difokuskan ke bawah. Sejumlah kota di Eropa sudah mulai menerapkan pendekatan ini tanpa mengganggu aktivitas warganya. Langit malam tetap terjaga dan kehidupan kota tetap berjalan.
Langit malam sejatinya memiliki peran krusial dalam menjaga keseimbangan ekosistem kehidupan. Namun, peningkatan intensitas cahaya atau polusi cahaya di malam hari secara perlahan memicu pergeseran ritme biologis tanpa disadari.

