BI Tahan Suku Bunga 4,75% di Tengah Tekanan Global

Navaswara.com – Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan di tengah gejolak global.

Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 16–17 Maret 2026 menetapkan BI-Rate tetap di level 4,75%. Suku bunga Deposit Facility juga ditahan di 3,75%, dan Lending Facility di 5,50%.

Keputusan ini diambil untuk menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan inflasi di tengah memburuknya kondisi global akibat perang di Timur Tengah.

Rupiah jadi Perhatian Utama

BI menilai tekanan eksternal meningkat seiring konflik global yang mendorong penguatan dolar AS dan arus modal keluar dari negara berkembang.

Nilai tukar rupiah tercatat melemah ke Rp16.985 per dolar AS pada 16 Maret 2026. Untuk meredam tekanan, BI memperkuat intervensi di pasar valas, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Langkah ini dilakukan melalui transaksi spot, DNDF, hingga Non-Deliverable Forward (NDF).

Selain intervensi, BI juga menyiapkan sejumlah langkah, yakni mnarik aliran modal asing ke pasar keuangan domestik, menjaga likuiditas perbankan tetap cukup, membeli Surat Berharga Negara (SBN) secara terukur, dan menyesuaikan aturan transaksi valas mulai April 2026.

BI juga menurunkan batas transaksi valas tertentu dan memperbesar batas transaksi derivatif untuk menjaga stabilitas rupiah.

Ekonomi Global Memburuk

BI melihat perang di Timur Tengah berdampak luas ke ekonomi global. Harga minyak melonjak, inflasi meningkat, dan pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan melambat menjadi 3,1% pada 2026.

“Di sisi lain, inflasi global naik ke 4,1%, membuat ruang penurunan suku bunga global semakin sempit. Kondisi ini mendorong investor global beralih ke aset aman seperti dolar AS,” ungkap Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, kemarin.

Di tengah tekanan global, ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan. Pertumbuhan ekonomi pada awal 2026 ditopang konsumsi rumah tangga, terutama selama Ramadan dan menjelang Lebaran.

Investasi juga tetap berjalan, didukung belanja pemerintah dan berbagai program strategis. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada di kisaran 4,9%–5,7%.

Inflasi Masih Terkendali

Inflasi Februari 2026 tercatat 4,76% (yoy), dipengaruhi faktor sementara. Sedangkan, inflasi inti tetap terjaga di 2,63%.

BI optimistis inflasi 2026–2027 tetap dalam target 2,5±1%, meski ada tekanan dari harga komoditas global.

Kredit dan Perbankan Tetap Kuat

Kinerja perbankan masih solid.Betapa tidak, kredit tumbuh 9,37% (yoy), rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 25,87%, serta kredit bermasalah (NPL) tetap rendah di angka 2,14%. Likuiditas juga memadai, memberi ruang bagi perbankan untuk terus menyalurkan kredit.

Transaksi Digital Melonjak

Aktivitas ekonomi digital juga terus tumbuh pesat. Pada Februari 2026 tercatat transaksi digital mencapai 4,67 miliar transaksi, QRIS tumbuh hingga 133,20% (yoy), dan BI-FAST memproses transaksi Rp1.092 triliun.

BI juga akan meluncurkan QRIS antarnegara Indonesia–Korea Selatan, Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI), hingga BI Siaga Jelang Lebaran.

“Menjelang Idulfitri 2026, Bank Indonesia memastikan sistem pembayaran tetap aman dan lancar. Ketersediaan uang tunai juga dijaga melalui program SERAMBI 2026. Kami mengimbau masyarakat tetap memantau kondisi ekonomi global dan kebijakan ke depan,” pungkas Perry.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *