Budaya Menjamu Tamu saat Lebaran Ternyata Picu Pemborosan Makanan

Navaswara.com – Tradisi menyajikan hidangan dalam jumlah banyak saat Lebaran kerap dianggap sebagai bentuk penghormatan kepada tamu. Namun di sisi lain, kebiasaan ini juga memicu pemborosan makanan dalam jumlah besar.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University Meti Ekayani menilai fenomena ini sebagai sebuah paradoks dalam budaya konsumsi masyarakat.

Menurutnya, keinginan untuk memuliakan tamu justru sering berujung pada makanan yang terbuang. Banyak keluarga memilih menyiapkan hidangan berlebih agar tidak dianggap kurang menghargai tamu.

Budaya ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga banyak ditemukan di negara-negara Asia dan Timur Tengah. Dalam konteks sosial, menyajikan makanan berlimpah memang identik dengan keramahan dan penghormatan.

Namun, tanpa perencanaan yang matang, kebiasaan tersebut justru menciptakan masalah baru.

Salah satu penyebab utama adalah minimnya perencanaan konsumsi di tingkat rumah tangga. Banyak orang memasak atau membeli makanan tanpa memperhitungkan jumlah yang benar-benar dibutuhkan.

Kondisi ini semakin terlihat selama bulan Ramadan hingga Lebaran. Saat berbuka puasa, misalnya, banyak orang membeli berbagai jenis makanan karena tergoda secara visual.

Fenomena yang sering disebut “lapar mata” ini membuat makanan dibeli dalam jumlah banyak, tetapi tidak semuanya dikonsumsi.

Selain itu, perubahan aktivitas selama Ramadan juga ikut berpengaruh. Tidak jarang anggota keluarga berbuka puasa di luar rumah, sementara makanan sudah terlanjur disiapkan di rumah.

Akibatnya, makanan yang tidak tersentuh akhirnya terbuang begitu saja.

Masalah ini tidak berhenti pada pemborosan makanan. Dampaknya juga terasa pada meningkatnya volume sampah yang harus dikelola.

Menurut Meti, sistem pengelolaan sampah di Indonesia saat ini masih belum efektif untuk mendorong pengurangan sampah dari sumbernya. Pola yang masih dominan adalah kumpul, angkut, dan buang, tanpa insentif bagi masyarakat untuk mengurangi produksi sampah.

Berbeda dengan beberapa negara maju yang sudah menerapkan sistem berbasis volume, di mana jumlah iuran ditentukan oleh banyaknya sampah yang dihasilkan. Skema ini membuat masyarakat lebih terdorong untuk mengurangi limbah sejak dari rumah.

Selain itu, kebiasaan memilah sampah juga masih menjadi tantangan. Sampah makanan yang tercampur dengan sampah kering seperti plastik atau kertas akan sulit didaur ulang.

Padahal, jika dipisahkan, sebagian limbah tersebut masih memiliki nilai ekonomi.

Meti menjelaskan bahwa limbah makanan sebenarnya masih bisa dimanfaatkan, misalnya diolah menjadi kompos atau pakan melalui budidaya maggot.

Karena itu, ia mendorong masyarakat untuk mulai mengubah kebiasaan, mulai dari merencanakan konsumsi dengan lebih bijak hingga membiasakan memilah sampah.

Menurutnya, jika pemborosan tidak bisa sepenuhnya dihindari, setidaknya limbah yang dihasilkan masih bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Pada akhirnya, makna Lebaran bukan hanya soal berbagi makanan, tetapi juga bagaimana menjaga keseimbangan agar tidak berujung pada pemborosan yang merugikan lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *