Navaswara.com – Serangan udara yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada pagi 28 Februari memicu reaksi luas dari berbagai negara dan organisasi internasional.
Kementerian Luar Negeri Indonesia mengungkapkan “penyesalan mendalam” atas kegagalan negosiasi antara AS dan Iran yang berujung pada eskalasi militer.
“Indonesia menyerukan kepada semua pihak untuk menahan diri dan memprioritaskan dialog dan diplomasi,” demikian pernyataan resmi Kemlu RI melalui media sosial.
Pemerintah Indonesia juga menegaskan pentingnya menghormati kedaulatan dan integritas wilayah setiap negara serta menyelesaikan perbedaan secara damai. Presiden Prabowo Subianto disebut siap bertindak sebagai mediator apabila diminta oleh pihak-pihak yang terlibat.
Rusia Minta Sidang Darurat DK PBB
Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, mengkritik proses negosiasi antara Barat dan Iran yang dinilainya tidak serius.
“Konfrontasi ini menunjukkan bahwa tidak ada yang benar-benar ingin bernegosiasi,” ujarnya.
Rusia juga menyerukan pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB untuk membahas eskalasi tersebut. Selain itu, Moskow menangguhkan penerbangan ke Iran dan Israel serta menyarankan warganya meninggalkan wilayah tersebut jika memungkinkan.
Uni Eropa hingga Norwegia Soroti Hukum Internasional
Uni Eropa menyatakan keprihatinan mendalam dan menyebut situasi di Timur Tengah sebagai “berbahaya” dengan risiko serius terhadap perdamaian regional.
Kepala kebijakan luar negeri UE, Kaja Kallas, mengumumkan pertemuan darurat dengan mitra-mitra Arab serta langkah evakuasi personel non-esensial dari kawasan.
Beberapa negara anggota seperti Prancis dan Italia menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan penahanan diri. Swiss juga menyerukan kepatuhan terhadap hukum internasional dalam setiap tindakan militer.
Menteri Luar Negeri Norwegia, Espen Barth Eide, menilai serangan tersebut tidak sejalan dengan hukum internasional.
“Meski digambarkan sebagai tindakan pencegahan, tidak ada ancaman yang jelas dan mendesak,” ujarnya.
Australia Dukung AS
Berbeda dengan sejumlah negara Eropa, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyatakan dukungan terhadap langkah AS. Ia menuding Iran sebagai kekuatan yang telah lama mendestabilisasi kawasan.
Pemerintah Australia juga mengeluarkan peringatan “jangan bepergian” ke Iran, Israel, dan Lebanon, serta mengaktifkan pusat krisis untuk membantu warganya di Timur Tengah.
Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, menyatakan kekhawatiran atas risiko eskalasi lanjutan yang dapat mengancam keamanan dan stabilitas negaranya.
Maskapai Ubah Rute Penerbangan
Selain reaksi politik, dampak langsung juga terasa di sektor penerbangan global. Sejumlah maskapai membatalkan atau mengalihkan rute penerbangan akibat penutupan sementara wilayah udara di sebagian kawasan Timur Tengah.
Eskalasi ini menambah ketidakpastian di kawasan yang sebelumnya telah diwarnai ketegangan geopolitik berkepanjangan.

