Navaswara.com – Nama Alysa Liu mendadak jadi sorotan dunia. Di usia 20 tahun, ia memutus penantian 24 tahun Amerika Serikat di nomor tunggal putri dengan merebut emas free skate di Olimpiade Musim Dingin Milano Cortina 2026, Kamis (19/2) waktu setempat.
Skor totalnya 226,79 poin, terbaik sepanjang kariernya. Ia unggul atas dua skater Jepang, Kaori Sakamoto (224,90) dan Ami Nakai (219,16).
Emas ini menjadi yang pertama bagi AS sejak Sarah Hughes berdiri di podium tertinggi Olimpiade 2002 di Salt Lake City.
Namun, kisah Alysa tak hanya soal angka dan podium. Di balik gaun emas dan tepuk tangan meriah, ada cerita keluarga yang belakangan ikut menyita perhatian publik.
Ayahnya, Arthur Liu, mengungkap bahwa Alysa lahir melalui ibu pengganti (surrogate mother) dan donor sel telur anonim. Bukan hanya Alysa, empat saudara lainnya juga lahir lewat metode yang sama.
Menurut laporan NBC Sports, Alysa mengetahui fakta itu tanpa drama besar. Bahkan, ia hampir “memecahkannya” sendiri bersama seorang temannya.
“Alysa dan seorang temannya hampir berhasil memecahkannya sendiri. Jadi dia tidak terkejut ketika saya memberitahunya,” kata Arthur.
Keputusan menggunakan ibu pengganti diambil saat Arthur berusia 40 tahun dan ingin memiliki anak. Meski tak tumbuh dalam struktur keluarga konvensional, Alysa dibesarkan dengan penuh dukungan. Sosok Shu dan seorang teman keluarga turut membantu membesarkan ia dan saudara-saudaranya. Di situlah fondasi mentalnya terbentuk.
Bakat Alysa sudah terlihat sejak kecil. Di usia 10 tahun, ia rutin mengikuti kompetisi. Di atas es, ia dikenal sebagai atlet yang cerdas dan tahu apa yang diinginkannya.
“Alysa adalah gadis yang sangat cerdas, dan dia tahu apa yang cocok untuknya,” kata pelatih pertamanya, Lipetsky.
Hubungan kepercayaan antara Alysa, sang ayah, dan pelatihnya menjadi kunci. Ia tahu kapan harus didorong, kapan harus diberi ruang bernapas.
Menariknya, perjalanan Alysa tak selalu lurus. Usai Olimpiade Beijing 2022, ia sempat meninggalkan dunia seluncur es. Banyak yang mengira itu akhir kariernya. Namun, ia kembali dengan versi diri yang lebih matang.
Comeback itu berbuah manis di Milan.
Kemenangan Alysa bukan hanya soal teknik lompatan atau presisi putaran. Ia juga tentang generasi baru atlet perempuan yang tumbuh dalam dinamika keluarga modern, terbuka, jujur, dan penuh pilihan.
Wali Kota Oakland, Barbara Lee, menyebut Alysa sebagai inspirasi bagi anak-anak muda di kotanya.
“Kami sangat bangga atas kemenangan bersejarah ini,” pungkasnya.
