Navaswara.com – Masjid bukan hanya ruang spiritual tetapi juga ruang publik dengan lalu lintas tinggi. Setiap hari ada pola kerja yang berulang dan disiplin agar kebersihan terjaga.
Apalagi selama Ramadan, masjid kembali menjadi ruang yang hidup hampir sepanjang hari. Jamaah datang lebih awal dan pulang lebih larut. Namun ada satu sosok yang ritmenya jarang berubah, marbot yang memastikan lantai bersih dan air wudhu mengalir. Mereka menjalankan peran itu dengan konsistensi yang jarang dibicarakan.
Isu kebersihan masjid sering dibahas dari sisi fasilitas. Padahal kenyamanan itu bergantung pada tenaga yang bekerja setiap hari. Di titik inilah Wipol membawa kembali Gerakan Masjid Bersih memasuki tahun kesepuluh.
Program yang dijalankan bersama Dewan Masjid Indonesia dan Unilever Indonesia ini telah menjangkau lebih dari 324.000 masjid. Tahun ini kegiatan difokuskan pada 54.000 masjid di 12 provinsi dengan separuh alokasi donasi diarahkan ke wilayah terdampak bencana di Sumatra.
Data dan distribusi penting, namun percakapan tahun ini bergerak ke arah lain. Gerakan Masjid Bersih menempatkan marbot sebagai pusat perhatian. Mereka membuka pintu sebelum subuh dan memastikan keamanan saat jamaah pulang, sering kali dengan penghasilan terbatas serta jauh dari keluarga.
Nurdiana Darus, Director of Communication, Corporate Affairs & Sustainability Unilever Indonesia, menyebut konsistensi satu dekade ini sebagai komitmen jangka panjang. “Masjid yang bersih dan nyaman tidak terlepas dari peran marbot yang bekerja dengan penuh dedikasi setiap hari. Melalui kampanye #BerikanWaktuUntukKebaikan, kami mengajak masyarakat memberi perhatian dan dukungan nyata,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Dr. H. Rahmat Hidayat, Sekretaris Jenderal DMI. Ia menilai menghargai marbot berarti menjaga kehormatan dan fungsi masjid. Apresiasi, menurutnya, perlu hadir dalam bentuk konkret agar kesejahteraan penjaga rumah ibadah tidak lagi luput dari perhatian.
Dukungan itu diterjemahkan dalam distribusi 54.000 paket kebersihan, pemberangkatan dua pasang marbot untuk umroh, serta THR mudik bagi 20 marbot. Tahun sebelumnya, 100 marbot difasilitasi pulang kampung bersama BAZNAS. Skema tahun ini juga mengalokasikan 2,5 persen keuntungan penjualan untuk kesejahteraan marbot.
Figur publik Fadil Jaidi yang terlibat mengaku baru memahami besarnya peran marbot setelah turun langsung. “Kita sering menikmati masjid yang bersih tanpa memikirkan siapa yang menjaganya,” katanya. Pengalaman itu mendorongnya mengajak generasi muda untuk peduli.
Pendekatan kepada anak muda dilakukan melalui platform Roblox dengan konsep gim interaktif membersihkan masjid. Strategi ini memperluas percakapan tentang kebersihan dari ruang fisik ke ruang digital. Nilainya tetap sama, merawat tempat ibadah sebagai tanggung jawab bersama.

