Skrining Jantung Anak Serentak 24 Provinsi, PERKI Temukan 53 Kasus Jantung Bawaan

Navaswara.com – Upaya deteksi dini penyakit jantung bawaan pada anak kembali diperkuat secara nasional. Dalam peringatan Pekan Kesadaran Penyakit Jantung Bawaan, Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia melalui Pokja Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan menggelar edukasi publik sekaligus skrining gratis bagi anak di bawah 18 tahun pada 24 Januari hingga 14 Februari 2026.

Program ini menyasar siswa SD, SMP, SMA, sekolah luar biasa, serta pesantren di 29 kota dan kabupaten pada 24 provinsi, dari Banda Aceh hingga Jayapura. Selain menjaring kasus baru, kegiatan ini diarahkan untuk memotret gambaran awal prevalensi nasional dan mengumpulkan data registri PJB.

Pada malam puncak CHD Awareness Week di RS Harapan Kita, kegiatan ini mendapat pengakuan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia untuk kategori deteksi dini PJB serentak kepada anak terbanyak. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin hadir dan menegaskan setiap tahun puluhan ribu bayi lahir dengan kondisi tersebut.

Ia menyebut hingga 2025 skrining telah dilakukan pada hampir 1,7 juta bayi dan masih ditemukan banyak kasus belum tertangani optimal. “Ke depan kita harus lebih agresif menyelamatkan nyawa mereka dengan memperkuat kapasitas layanan serta menambah jumlah spesialis jantung anak dan bedah jantung anak,” ujarnya.

Ketua PERKI dr. Ade Median Ambari menjelaskan PJB menjadi salah satu penyebab kesakitan dan kematian anak di Indonesia maupun dunia. Prevalensi di Asia Tenggara mencapai 9 hingga 10 per seribu kelahiran hidup dan diperkirakan ada sekitar 45 ribu bayi lahir dengan PJB setiap tahun di Indonesia, sementara riset menunjukkan keterlambatan deteksi masih tinggi.

“Kegiatan ini juga dicatatkan dalam Rekor MURI sebagai deteksi dini PJB serentak kepada anak terbanyak. Ke depan kami ingin terus berkontribusi bagi bangsa di bidang pediatrik, karena setiap detak jantung adalah harapan,” ujarnya.

Ketua Pokja Kardiologi Pediatrik dan PJB PERKI dr. Oktavia Lilyasari menambahkan Indonesia belum memiliki data prevalensi nasional yang solid. “Program skrining serentak ini tidak hanya menjaring kasus lebih dini dan mengoordinasikan rujukan, tetapi juga menjadi langkah awal pengumpulan data registri nasional,” katanya.

Selama periode pelaksanaan, 2.702 murid menjalani pemeriksaan awal dan 2.478 di antaranya mendapatkan ekokardiografi. Dari hasil tersebut ditemukan 53 kasus PJB dengan prevalensi 2,14 persen, angka yang tercatat lebih tinggi dibanding rata-rata global maupun kawasan Asia Tenggara.

Pemeriksaan meliputi data antropometri, tekanan darah, nadi, saturasi oksigen, pemeriksaan fisik jantung, hingga ultrasonografi jantung. dr. Oktavia menyebut kecenderungan kasus lebih banyak ditemukan pada anak dengan berat badan rendah, stunting, faktor risiko tertentu, serta anak berkebutuhan khusus, sehingga edukasi kepada orang tua dan rujukan cepat menjadi kunci penanganan.

PERKI berharap skrining serentak ini tidak berhenti sebagai agenda tahunan, melainkan menjadi pijakan kebijakan yang lebih luas. Data yang terkumpul diharapkan mendorong lahirnya registri nasional yang kuat, memperluas akses pemeriksaan dini, serta mempercepat intervensi agar peluang hidup dan tumbuh kembang anak dengan PJB semakin terjaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *