Survei di Momen Imlek, 90 Persen Pekerja RI Tanggung Dua Generasi

Navaswara.com – Lampion merah, meja makan penuh hidangan, dan angpao yang berpindah tangan selalu menghadirkan suasana hangat saat Tahun Baru Imlek. Perayaan ini lekat dengan harapan akan keberuntungan dan awal yang lebih baik. Namun di balik keriuhan itu, banyak keluarga di Indonesia kini terjebak dalam siklus beban finansial antargenerasi yang jarang dibicarakan secara terbuka, namun terus berlanjut di dalam rumah tangga. Isu keuangan menjadi semakin relevan ketika satu orang harus berdiri di dua sisi sekaligus.

Survei terbaru dari Sun Life Indonesia menunjukkan 90 persen pekerja Indonesia saat ini menopang orang tua sekaligus anak. Tekanan tersebut berdampak pada rencana jangka panjang. Sekitar 40 persen responden menurunkan ekspektasi gaya hidup saat pensiun dan 23 persen memperkirakan harus menunda atau tetap bekerja setelah memasuki usia pensiun. Situasi ini menegaskan bahwa perayaan keluarga sering berjalan beriringan dengan realitas finansial yang tidak ringan.

Tradisi mendukung orang tua merupakan nilai yang mengakar kuat di banyak keluarga Asia. Data yang sama mencatat 71 persen responden masih membutuhkan tambahan penghasilan demi menjaga stabilitas keuangan pribadi. Artinya, semangat berbagi perlu diiringi batas yang sehat. Menjaga keseimbangan antara bakti dan rencana masa depan menjadi langkah rasional agar dukungan kepada keluarga tidak berubah menjadi beban berkepanjangan.

Soal pensiun pun bergeser maknanya. Sebanyak 77 persen responden memperkirakan akan tetap bekerja setelah usia pensiun. Sebagian melihatnya sebagai pilihan aktif untuk tetap produktif, sementara sebagian lain menjalaninya karena kebutuhan. Momentum tahun baru dapat menjadi waktu yang tepat untuk menilai ulang, apakah keputusan bekerja lebih lama lahir dari strategi yang matang atau karena belum ada persiapan yang cukup.

Masalah lain muncul pada perencanaan yang tertunda. Sekitar 24 persen responden mengaku belum memiliki rencana pensiun sama sekali dan 34 persen baru mulai merencanakan dua tahun sebelum berhenti bekerja. Waktu yang sempit membatasi ruang gerak ketika terjadi perubahan situasi. Perencanaan yang dimulai lebih awal memberi peluang lebih besar untuk mengatur risiko dan menyesuaikan target hidup.

Perkembangan digital turut memengaruhi cara orang mencari jawaban. Penggunaan generative AI untuk mencari informasi finansial meningkat dari 13 persen menjadi 30 persen. Akses yang cepat membantu memahami pilihan, namun keputusan jangka panjang tetap membutuhkan pertimbangan yang menyeluruh dan terukur. Literasi finansial yang lebih kuat dapat menjadi resolusi yang relevan di awal tahun.

Kesehatan juga memegang peran penting dalam optimisme menghadapi masa pensiun. Sebanyak 58 persen responden yang merasa lebih optimistis menyebut kondisi fisik yang baik sebagai alasan utama.

Albertus Wiroyo, Presiden Direktur Sun Life Indonesia, mengatakan, “Semakin banyak orang Indonesia yang umurnya lebih panjang. Namun, terlalu banyak yang masih tidak yakin apakah mereka bisa pensiun dengan nyaman. Itulah mengapa peran institusi keuangan semakin penting untuk menyediakan panduan dan solusi yang mengubah ketidakpastian menjadi pemberdayaan serta membantu masyarakat membangun masa depan di mana pensiun dibentuk oleh peluang dan bukan tekanan.”

Perayaan Imlek tahun ini kembali mengingatkan bahwa harapan akan kemakmuran perlu ditopang langkah yang terukur. Data menunjukkan tantangan generasi sandwich tidak lagi bersifat personal, melainkan fenomena luas yang memerlukan kesiapan finansial dan kesehatan yang terjaga. Perencanaan yang disiplin sejak dini memberi ruang lebih lapang bagi keluarga untuk tetap saling mendukung tanpa mengorbankan masa depan. Optimisme di tahun baru pun dapat berdiri di atas fondasi yang lebih realistis dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *