Passiliran, Tradisi Pemakaman Bayi di Tana Toraja

Navaswara.com – Tana Toraja, Sulawesi Selatan, dikenal luas dengan tradisi pemakaman unik dan ritual adat yang masih terjaga. Selain upacara Rambu Solo dan makam tebing batu, terdapat tradisi lain yang tak kalah menarik, yakni Passiliran, praktik pemakaman bayi di dalam batang pohon yang dapat ditemukan di Desa Kambira, kawasan Sangalla.

Di lokasi tersebut berdiri sejumlah pohon tarra berukuran besar yang menjadi bagian dari tradisi lama masyarakat Toraja. Pohon ini bukan sekadar tumbuhan, melainkan memiliki makna simbolis dalam sistem kepercayaan tradisional setempat, khususnya yang berkaitan dengan filosofi kehidupan dan kematian.

Tradisi Passiliran biasanya diperuntukkan bagi bayi yang meninggal sebelum tumbuh gigi. Dalam kepercayaan lokal, bayi pada fase tersebut dianggap masih suci. Karena itu, pemakaman dilakukan dengan cara menempatkan jenazah di dalam lubang batang pohon hidup, lalu lubang tersebut ditutup dengan serat ijuk.

Pemilihan pohon tarra juga memiliki alasan tersendiri. Pohon ini dikenal memiliki getah berwarna putih yang oleh sebagian masyarakat dimaknai sebagai simbol air susu ibu. Filosofi tersebut menggambarkan upaya mengembalikan bayi ke alam dalam kondisi yang tetap “dipelihara”.

Selain aspek spiritual, tradisi ini juga mencerminkan struktur sosial masyarakat Toraja pada masa lalu. Posisi lubang pada batang pohon konon berkaitan dengan status sosial keluarga, meski interpretasi ini bisa berbeda menurut sumber sejarah dan penuturan lokal.

Seiring perkembangan waktu dan perubahan praktik budaya, tradisi Passiliran kini sudah jarang dilakukan. Namun pohon-pohon tarra di Desa Kambira masih terawat sebagai situs budaya dan menjadi destinasi wisata edukasi bagi pengunjung yang ingin memahami tradisi Toraja lebih dekat.

Bagi wisatawan, kawasan ini biasanya dikunjungi bersamaan dengan objek wisata lain di Tana Toraja, seperti Lemo, Londa, atau Kete Kesu. Selain menyaksikan lanskap alam yang khas, pengunjung juga dapat melihat bagaimana tradisi lokal membentuk cara pandang masyarakat terhadap kehidupan, kematian, dan hubungan manusia dengan alam.

Foto: Indonesia Kaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *