Navaswara.com — Ketersediaan energi yang stabil menjadi kebutuhan mendasar masyarakat di tengah dinamika geopolitik global dan fluktuasi harga energi dunia. Upaya menjaga kesinambungan pasokan energi nasional kembali mendapat penguatan melalui langkah transformasi bisnis yang dilakukan PT Pertamina Persero.
Pertamina resmi mengintegrasikan bisnis hilir energi dengan menyatukan PT Pertamina Patra Niaga, PT Kilang Pertamina Internasional, serta segmen bisnis PT Pertamina International Shipping ke dalam satu subholding downstream. Penggabungan berlaku sejak 1 Februari 2026 dengan PT Pertamina Patra Niaga sebagai entitas penerima penggabungan.
Langkah integrasi tersebut dilakukan melalui evaluasi mendalam termasuk benchmarking terhadap perusahaan minyak dan gas internasional. Penyatuan bisnis ini dirancang membangun ekosistem energi yang terintegrasi mulai dari pengolahan bahan bakar di kilang, distribusi energi ke seluruh wilayah Indonesia, hingga pemasaran produk yang menjangkau kebutuhan masyarakat.
Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menjelaskan integrasi ini bertujuan meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat kepastian pasokan energi nasional, serta meningkatkan daya saing perusahaan di tengah perubahan global. Menurutnya, sistem yang terintegrasi memungkinkan koordinasi lintas fungsi berjalan lebih cepat, pengambilan keputusan lebih efektif, serta investasi menjadi lebih optimal.
Ia menilai integrasi kilang, distribusi, logistik, dan pemasaran dalam satu sistem mampu menghilangkan proses berulang, mempercepat layanan, serta memperkuat keandalan pasokan energi nasional yang menjangkau seluruh wilayah Indonesia.
Melalui integrasi rantai pasok hilir, Pertamina menargetkan penguatan empat aspek utama penyediaan energi. Pertama ketersediaan pasokan energi yang lebih andal. Kedua akses distribusi yang menjangkau hingga wilayah terpencil. Ketiga produk energi yang sesuai kebutuhan masyarakat dan ramah lingkungan. Keempat harga energi yang lebih kompetitif.
Selain itu, integrasi bisnis hilir juga diarahkan mendukung transisi energi melalui pengembangan portofolio bahan bakar rendah karbon. Langkah ini sejalan dengan komitmen nasional dalam mendorong keberlanjutan energi sekaligus menjaga daya tahan ekonomi nasional.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina Muhammad Baron menyatakan integrasi tersebut menjadi bagian implementasi Asta Cita swasembada energi. Ia menegaskan penyatuan bisnis hilir bukan sekadar perubahan organisasi, melainkan penguatan fondasi Pertamina sebagai penyedia energi nasional.
Ia memastikan integrasi tidak akan mengganggu pelayanan kepada masyarakat, mitra usaha, maupun pekerja. Sebaliknya, langkah tersebut diharapkan meningkatkan kolaborasi lintas divisi sehingga pelayanan energi menjadi lebih tangguh dalam menghadapi tantangan global.
Integrasi subholding downstream juga diproyeksikan memperkuat stabilitas pasokan energi yang berperan penting dalam menjaga aktivitas industri, pertumbuhan ekonomi daerah, serta keberlanjutan usaha mikro dan menengah yang bergantung pada ketersediaan energi.

