Navaswara.com – Di sejumlah kampung di Maluku dan Papua, hubungan manusia dengan alam dijalani lewat aturan adat yang hidup bersama keseharian warga. Salah satu yang masih dijaga hingga hari ini adalah sasi. Tradisi ini menjadi penanda kapan laut dan hutan boleh dimanfaatkan, dan kapan keduanya perlu diberi jeda.
Sasi adalah larangan mengambil hasil alam tertentu dalam waktu yang telah disepakati. Selama masa itu, wilayah atau komoditas yang ditetapkan tidak disentuh. Tujuannya memberi ruang bagi alam untuk pulih sebelum kembali dimanfaatkan. Pola ini membuat pemanfaatan sumber daya tidak berjalan serampangan.
Bagi masyarakat adat, sasi berjalan sebagai kesepakatan bersama yang menyatukan aturan sosial, keyakinan, dan cara membaca tanda-tanda alam. Kepatuhan tidak lahir dari pengawasan ketat, melainkan dari kesadaran bahwa keberlanjutan alam menentukan keberlangsungan hidup kampung itu sendiri.
Ragam Praktik Sasi
Sasi laut mengatur waktu penangkapan ikan, teripang, lola, dan hasil laut lain di perairan tertentu. Masa penutupan bisa berlangsung beberapa bulan hingga lebih dari setahun. Selama periode ini, biota laut dibiarkan berkembang tanpa gangguan.
Sementara sasi darat berlaku untuk tanaman seperti kelapa, pala, cengkeh, serta berbagai buah-buahan. Warga menunggu waktu panen yang telah disepakati, sehingga hasil yang diambil lebih terukur dan kualitasnya terjaga. Di beberapa tempat, sasi juga berlaku untuk satu kampung atau dijalankan bersama lembaga keagamaan, mengikuti struktur sosial setempat.
Cara Kerja di Lapangan
Sasi dimulai melalui musyawarah adat yang melibatkan pemimpin kampung, tokoh adat, tokoh agama, dan warga. Setelah kesepakatan tercapai, dilakukan ritual sebagai penanda dimulainya masa penutupan. Di lokasi sasi biasanya dipasang tanda sederhana agar semua orang mengetahui wilayah tersebut sedang ditutup.
Pelanggaran terhadap sasi dikenai sanksi adat, mulai dari denda hingga kerja sosial. Di sejumlah kampung, sanksi sosial justru lebih terasa karena menyentuh rasa kebersamaan. Kepatuhan tumbuh dari relasi sosial yang kuat, bukan semata dari aturan tertulis.
Hasil bagi Alam dan Mata Pencaharian
Kampung yang konsisten menjalankan sasi cenderung memiliki laut dan hutan yang lebih terjaga. Populasi ikan lebih stabil, hasil laut kembali muncul dalam jumlah yang layak, dan tanaman darat bisa dipanen dalam kondisi lebih baik.
Bagi warga, dampaknya terasa langsung pada penghidupan. Saat sasi dibuka, hasil yang diperoleh biasanya lebih banyak dan bernilai lebih tinggi. Pola ini membuat warga tidak perlu terus-menerus mengambil dari alam, karena mereka tahu ada waktu panen yang lebih menguntungkan.
Di sisi lain, proses menjaga sasi juga memperkuat hubungan antarsesama. Pengawasan dilakukan bersama, keputusan diambil lewat musyawarah, dan ritual menjadi ruang berkumpul yang mempererat ikatan kampung.
Tetap Dijalankan di Tengah Perubahan
Di sejumlah wilayah, sasi masih dijaga hingga kini. Di Haruku, Maluku Tengah, Sasi Lompa tetap berlangsung sejak ratusan tahun lalu. Di Kaimana, Papua Barat, sasi Nggama diterapkan dalam periode panjang untuk melindungi lola dan teripang. Teluk Mayalibit di Raja Ampat juga masih menjalankan sasi, begitu pula Desa Batulei di Kepulauan Aru dengan sasi teripang yang berlangsung beberapa tahun.
Namun, menjaga sasi hari ini tidak selalu berjalan mulus. Perubahan struktur kampung, tekanan ekonomi, dan masuknya aktivitas skala besar sering membuat batas-batas adat semakin longgar. Di beberapa tempat, sasi masih ada di atas kertas, tetapi pengawasannya melemah.
Meski begitu, di kampung-kampung yang masih merasakan langsung manfaatnya, sasi tetap dipertahankan. Bagi mereka, tradisi ini bukan warisan yang disimpan, tetapi cara hidup yang terus diuji dan disesuaikan dengan keadaan. Di tengah perubahan iklim dan tekanan pada sumber daya alam, sasi memberi contoh bahwa menjaga alam bisa dimulai dari kesepakatan kampung, bukan menunggu aturan dari luar.
