Navaswara.com – Pagi datang tanpa banyak suara. Cahaya perlahan menyelinap dari balik jendela, udara terasa lebih tenang, dan dunia seolah diberi kesempatan untuk memulai kembali. Bagi sebagian orang, pagi hanyalah rutinitas. Namun sesungguhnya, pagi adalah anugerah.
Sebab tidak semua orang masih bisa menyambut pagi ini.
Kita sering membuka hari dengan keluhan. Alarm terasa mengganggu. Tubuh masih lelah. Pikiran sudah lebih dulu penuh oleh pekerjaan dan tanggung jawab. Tanpa sadar, nikmat bernama hidup justru kita sambut dengan rasa berat.
Padahal, ada mereka yang semalam masih berjuang di ruang perawatan. Ada yang terbaring menahan sakit. Ada pula yang kemarin masih sempat berbincang, namun hari ini tak lagi membuka mata.
Bangun pagi bukan hal kecil. Ia adalah tanda bahwa waktu masih diberikan.
Bisa menarik napas dengan lega. Bisa berdiri dan melangkah. Bisa menyiapkan sarapan sederhana. Bahkan bisa mengeluh — semuanya adalah bentuk kehidupan yang masih menyala.
Namun manusia kerap lupa mensyukuri yang ada, karena terlalu sibuk mengejar yang belum dimiliki. Kita menunda bahagia sambil berkata, nanti jika sudah berhasil. Nanti jika hidup lebih mudah. Nanti jika semua sesuai rencana.
Padahal hidup tidak pernah menunggu kita siap.
Nikmat sering hadir dalam bentuk paling sederhana. Secangkir air hangat di pagi hari. Sapaan orang terdekat. Langkah kaki yang masih kuat menapak. Hal-hal kecil yang terasa biasa, sampai suatu hari tak lagi bisa dilakukan.
Allah berfirman:
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.”
(QS. Ibrahim: 7)
Syukur bukan berarti hidup tanpa masalah. Ia tidak menghapus lelah, tidak pula menghilangkan beban. Namun syukur mengajarkan hati untuk menerima hari apa adanya.
Dengan bersyukur, kita belajar berdamai dengan proses. Belajar berjalan meski belum sampai. Belajar tersenyum meski keadaan belum sepenuhnya baik.
Ada orang yang hidupnya tampak sederhana, namun wajahnya tenang. Bukan karena tak memiliki masalah, melainkan karena ia tak membiarkan masalah menguasai hatinya.
Ia memahami bahwa hidup bukan perlombaan siapa yang paling cepat, melainkan perjalanan siapa yang paling mampu menjaga hati.
Pagi mengingatkan kita bahwa hari ini masih ada kesempatan. Kesempatan untuk memperbaiki niat. Kesempatan untuk berbuat baik, meski kecil. Kesempatan untuk menjadi lebih sabar dari kemarin.
Tidak semua doa langsung terjawab. Tidak semua rencana berjalan mulus. Namun selama kita masih diberi waktu, harapan belum pernah benar-benar pergi.
Kadang, yang kita butuhkan bukan jawaban cepat, melainkan kekuatan untuk bertahan.
Maka jika pagi ini terasa berat, jangan buru-buru mengeluh. Berhentilah sejenak. Tarik napas perlahan. Sadari bahwa hari ini adalah kesempatan yang tidak semua orang dapatkan.
Mungkin hidup belum sempurna. Mungkin langkah masih tertatih. Namun selama mata masih terbuka dan hati masih mampu bersyukur, hari ini tetap layak dijalani.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki, melainkan seberapa lapang hati kita menerimanya.
Dan pagi ini, kita masih diberi kesempatan.
