Navaswara.com – Banyak orang tua merasa waswas ketika anak mulai aktif di gim daring dan berinteraksi dengan orang yang tidak mereka kenal. Percakapan yang tampak ringan bisa berubah menjadi pintu masuk bagi risiko yang tidak terlihat. Di tengah meningkatnya waktu bermain anak di ruang digital, pertanyaan soal siapa yang berada di balik akun dan seberapa aman komunikasi itu menjadi kegelisahan di banyak keluarga.
Selama beberapa tahun terakhir, Roblox kerap dipersepsikan sebagai ruang bermain digital yang berisiko bagi anak, terutama karena fitur interaksi terbukanya yang memungkinkan komunikasi dengan pengguna lintas usia. Namun, kekhawatiran tersebut kini dijawab Roblox melalui kebijakan baru yang berdampak langsung pada pengalaman anak dan orang tua. Mulai 14 Januari 2026, Roblox mewajibkan seluruh pengguna melakukan verifikasi usia untuk dapat mengakses fitur chat.
Kebijakan ini diterapkan secara global, termasuk di Indonesia, dengan memanfaatkan teknologi Estimasi Usia Wajah atau Facial Age Recognition. Langkah ini ditujukan untuk memastikan interaksi sesuai umur sekaligus membatasi komunikasi antara orang dewasa dan anak di bawah umur.
Roblox menyebut kebijakan ini sebagai standar baru dalam industri gim dan kreasi imersif. Untuk Indonesia, penerapannya disesuaikan dengan regulasi perlindungan anak yang berlaku. Pengguna berusia di bawah 13 tahun diwajibkan memperoleh persetujuan orang tua sebelum menjalani proses verifikasi usia dan membuka akses chat. Dengan skema ini, peran orang tua ditempatkan sebagai bagian penting dalam pengambilan keputusan digital anak.

“Kami berkomitmen menghadirkan keamanan maksimal bagi para pengguna,” ujar Matt Kaufman, Chief Safety Officer Roblox. “Melalui pembatasan berbasis usia yang proaktif, kami ingin memastikan Roblox tetap menjadi ruang yang aman dan menyenangkan untuk berkarya dan saling terhubung.”
Proses persetujuan orang tua dimulai saat anak memilih opsi “Minta Izin Orang Tua” di pengaturan akun. Orang tua akan menerima notifikasi untuk meninjau permintaan tersebut dan melakukan otorisasi menggunakan identitas resmi seperti KTP atau kartu kredit yang valid. Setelah izin diberikan, barulah anak dapat melanjutkan proses verifikasi usia sesuai ketentuan yang berlaku di Indonesia.
Isu privasi data menjadi perhatian penting dalam kebijakan ini. Roblox menegaskan bahwa seluruh data visual yang digunakan untuk Estimasi Usia Wajah diproses oleh mitra tepercaya, Persona, dan langsung dihapus setelah proses selesai. Roblox menyatakan pendekatan ini sepenuhnya tunduk pada peraturan pemerintah terkait perlindungan data pribadi.
Sebelum diterapkan di Indonesia, kebijakan serupa telah diuji di Australia, Selandia Baru, dan Belanda sejak Desember lalu. Hasilnya, lebih dari 50 persen pengguna aktif harian di negara-negara tersebut telah menyelesaikan verifikasi usia. Secara global, Roblox mencatat puluhan juta pengguna telah mengikuti proses ini.
Setelah verifikasi, pengguna dikelompokkan ke dalam enam rentang usia, mulai dari di bawah 9 tahun hingga 21 tahun ke atas. Fitur chat hanya dapat digunakan dengan pengguna seusia atau satu tingkat usia di atas dan bawahnya. Untuk anak di bawah 9 tahun, fitur chat dinonaktifkan secara otomatis dan hanya bisa diaktifkan kembali dengan izin orang tua.
Sebelumnya, fitur verifikasi usia untuk menggunakan chat sudah diuji coba sejak awal Desember. Lewat kebijakan ini, pengguna akan diminta melakukan pengecekan usia di aplikasi agar bisa berkomunikasi dengan aman dan sesuai kelompok umur, sekaligus membatasi interaksi antara orang dewasa dan anak di bawah 16 tahun.
Melalui Parental Control dan Safety Center, orang tua juga dapat memantau status verifikasi, memperbarui data usia, dan mengatur pengawasan lain. Dengan kebijakan ini, Roblox menegaskan komitmennya membangun ruang bermain digital yang lebih aman, sekaligus memberi orang tua kendali yang lebih jelas atas interaksi anak di dunia gim.
