Mengenal Sosok Singa Betina dari Banten, Nyimas Gamparan hingga Maria Ulfah

Navaswara.com – Banten tak hanya dikenal dengan jawara prianya yang tangguh. Sejarah mencatat, Tanah Jawara ini juga melahirkan deretan perempuan perkasa yang berdiri di garis depan melawan penjajah. Dari pedang di medan pertempuran hingga diplomasi di meja perundingan, para pahlawan wanita ini punya cerita yang luar biasa.

Siapa saja mereka? Simak rangkuman sosok inspiratif pahlawan perempuan asal Banten berikut ini.

Nyimas Gamparan (Panglima Perang Penakluk Cikande)

Jika bicara soal keberanian di medan tempur, nama Nyimas Gamparan tak boleh dilewatkan. Ia adalah pendekar sekaligus panglima perang dari keluarga Kesultanan Banten yang memimpin perlawanan rakyat di Cikande sekitar tahun 1829-1830.

Lawan yang dihadapinya bukan sembarang, melainkan kebijakan kejam Tanam Paksa (Cultuurstelsel) milik Belanda. Bersama puluhan pendekar wanita lainnya, Nyimas Gamparan menggunakan taktik gerilya yang membuat pasukan VOC kocar-kacir. Semangatnya membuktikan bahwa perempuan Banten punya taji untuk meruntuhkan dominasi penjajah.

Nyimas Melati (‘Singa Betina’ dari Tangerang)

Bergeser ke arah Tangerang, ada sosok legendaris bernama Nyi Mas Melati. Ketangguhannya dalam pertempuran Pabuaran pada tahun 1918 membuatnya dijuluki sebagai “Singa Betina dari Tangerang” oleh pihak Belanda.

Anak dari Raden Kabal ini mewarisi darah pejuang sang ayah. Menggunakan senjata keris dan pedang, ia menjadi simbol kemandirian dan perlawanan rakyat Tangerang. Meski kisahnya banyak berbaur dengan legenda lokal, pengaruh Nyi Mas Melati tetap abadi sebagai tokoh sentral bagi masyarakat Tangerang hingga saat ini.

Maria Ulfah (Pejuang Diplomasi dan Hak Perempuan)

Berbeda dengan dua sosok sebelumnya yang bertarung dengan senjata fisik, Maria Ulfah berjuang lewat jalur pendidikan dan politik. Lahir di Serang pada 18 Agustus 1911, Maria adalah perempuan Indonesia pertama yang meraih gelar Sarjana Hukum dari Universitas Leiden, Belanda.

Putri dari Bupati Kuningan ini aktif dalam organisasi pergerakan setelah berkenalan dengan Sutan Syahrir. Meski berdarah ningrat, Maria tak segan mengajar di sekolah rakyat dan terlibat dalam aktivitas Liga Anti Kolonialisme. Karena kegigihannya membela kemerdekaan, pemerintah kolonial bahkan sempat memberikan tekanan pada keluarganya. Maria Ulfah adalah bukti bahwa intelektualitas adalah senjata yang mematikan bagi penjajah.

Perlawanan yang Tak Pernah Padam

Selain ketiga nama besar di atas, sejarah Banten juga mengenal sosok Ratu Hasanah, pejuang heroik yang meski detail kisahnya tak sebanyak Nyimas Gamparan, tetap menjadi bagian penting dari narasi perlawanan Bumi Banten.

Kehadiran para tokoh ini menunjukkan bahwa semangat juang perempuan Banten sangatlah beragam, mulai dari perlawanan fisik di medan perang hingga pergerakan budaya dan intelektual.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *