Tren Hunian 2026 Harga Rumah Terkendali, Pencarian di Tangerang dan Jakarta Naik

Navaswara.com – Memasuki awal 2026, pasar properti Indonesia menunjukkan tanda-tanda bergerak lebih tenang dan terarah. Pilihan hunian tidak lagi sekadar soal lokasi premium atau tren harga, tetapi lebih dipengaruhi kebutuhan nyata dan gaya hidup pembeli. Dari rumah keluarga di kota penyangga hingga apartemen menengah di ibu kota, masyarakat mulai menyesuaikan preferensi dengan kenyamanan, akses, dan nilai jangka panjang. Situasi ini memberi gambaran bahwa pasar properti kini bergerak lebih stabil, rasional, dan selaras dengan realitas sehari-hari.

Harga rumah sekunder nasional tercatat naik tipis 0,7% secara tahunan, masih di bawah laju inflasi sebesar 2,92%. Tren ini menunjukkan daya beli masyarakat yang masih tertekan, namun pasar tidak menunjukkan kenaikan harga agresif. Seluruh kota yang masuk dalam indeks Flash Report mencatat pertumbuhan harga di bawah inflasi, menandakan kondisi yang moderat dan terkendali.

Dari sisi permintaan, Tangerang memimpin dengan kenaikan pencarian properti hingga 13,9%, diikuti Jakarta Selatan 11,4% dan Jakarta Barat 9,7%. Sementara itu, kota-kota seperti Tangerang Selatan, Depok, dan Batam mencatat lonjakan popularitas bulanan terbesar. Data ini menandakan minat masyarakat tidak hanya terpusat di ibu kota, tetapi juga di wilayah penyangga yang berkembang pesat.

Beberapa kota menunjukkan dinamika menarik di awal 2026. Bekasi mencatat pertumbuhan permintaan 2,4% secara tahunan, sementara Makassar juga menunjukkan pergerakan positif. Fenomena ini menegaskan adanya pemulihan berbasis end-user dan meningkatnya kebutuhan lintas segmen, dari rumah keluarga hingga apartemen menengah. “Permintaan yang meningkat di kota-kota penyangga menandakan masyarakat mulai menyesuaikan pilihan hunian sesuai kebutuhan, bukan hanya mengikuti tren harga,” ujar sumber Rumah123.

Di sisi suplai, jumlah rumah sekunder turun 1,0% dibanding bulan sebelumnya dan 9,1% secara tahunan. Penurunan ini menunjukkan ketersediaan properti yang lebih terbatas di awal tahun, namun tidak memicu gejolak harga. Kondisi ini menegaskan pasar yang sehat, dengan keseimbangan antara ketersediaan rumah dan minat pembeli yang tetap terjaga.

Secara keseluruhan, Flash Report Januari 2026 menggambarkan pasar properti yang mulai stabil, rasional, dan berorientasi pada kebutuhan. Meskipun tekanan inflasi masih membayangi, masyarakat menunjukkan preferensi yang lebih selektif dalam memilih hunian, baik di kota besar maupun wilayah penyangga. Tren ini memberi sinyal positif bagi pelaku pasar bahwa dinamika properti Indonesia mulai menemukan ritme baru di awal 2026, berlandaskan keputusan pembelian yang lebih matang dan realistis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *