Senin yang Basah, Hati yang Kembali Belajar Sabar

Navaswara.com – Hujan turun sejak pagi. Langit kelabu menggantung rendah, seolah enggan memberi semangat pada siapa pun yang harus berangkat bekerja. Klakson bersahutan, jalanan mengular, dan Senin kembali datang dengan seluruh bebannya.

Namun di balik kaca jendela yang basah, hujan selalu membawa pesan yang sama: melambatlah sejenak.

Di kota yang terus berlari, hujan memaksa kita berhenti, menepi, dan menata ulang niat. Barangkali itulah rahmat yang sering kita lupakan. Allah berfirman: “Dan Dialah yang menurunkan air dari langit, lalu dengan air itu Kami tumbuhkan segala macam tumbuh-tumbuhan.” (QS. Al-An’am: 99)

Air yang sama, yang pagi ini membuat sepatu kita basah, sejatinya sedang menumbuhkan kehidupan di tempat lain.

Senin sering terasa berat bukan karena pekerjaannya, melainkan karena hati kita belum sepenuhnya pulang dari akhir pekan. Kita datang ke meja kerja dengan tubuh, tetapi meninggalkan jiwa di tempat istirahat.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka mungkin yang perlu kita perbaiki bukan cuaca, melainkan niat saat memulai hari.

Di tengah hujan, secangkir kopi hangat di pojok kantor, doa singkat sebelum membuka laptop, atau senyum kecil pada rekan kerja yang sama-sama lelah, adalah bentuk syukur yang sederhana. Tidak mengubah dunia, tetapi cukup menenangkan batin.

Hujan akan berhenti. Macet akan terurai. Senin pun akan berlalu.

Namun bila kita belajar bersabar di hari yang paling basah, barangkali kita sedang menyiapkan diri untuk pekan yang lebih jernih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *