Navaswara.com — Menjelang akhir 2025, suasana Kampus UPN Veteran Jakarta di Pondok Labu mulai melambat. Aktivitas akademik berkurang, sebagian sudut kampus terasa lebih sunyi. Di tengah suasana yang lazim dipenuhi refleksi itu, Prof. Dr. Anter Venus justru memilih berbicara tentang hal yang paling mendasar dalam kepemimpinan, yaitu niat.
Bukan jabatan, bukan capaian pribadi.
“Kepemimpinan itu bukan puncak karier. Ini fase pengabdian, kalau niatnya keliru, sehebat apa pun kebijakan yang dibuat, arah institusi bisa melenceng,” ungkap Prof. Venus saat berbincang dengan navaswara.com, Selasa (30/12/2025).
Bagi Prof. Venus, transformasi sebuah perguruan tinggi tidak selalu dimulai dari kebijakan besar atau perubahan struktur organisasi. Ia percaya, perubahan justru berangkat dari cara seorang pemimpin memandang amanah dan tanggung jawabnya. Jabatan hanyalah alat. Niat adalah fondasi.
“Tanpa niat baik, kepemimpinan kehilangan kompas,” katanya.
Cara pandang itu pula yang mewarnai langkahnya menakhodai perjalanan transformasi UPN Veteran Jakarta. Ia jarang berbicara tentang dirinya sendiri. Yang lebih sering ia tekankan adalah bagaimana seharusnya sebuah institusi pendidikan tumbuh dan memberi makna.
“Perguruan tinggi itu bukan pabrik ijazah, melainkan harus menjadi ruang berpikir, ruang dialog, dan ruang pembentukan karakter,” ujarnya.
Visi yang ia bawa menempatkan UPN Veteran Jakarta sebagai perguruan tinggi yang unggul secara akademik, berkarakter kuat, dan relevan dengan kebutuhan zaman. Keunggulan, menurutnya, tidak semata diukur dari peringkat atau reputasi.
“Yang paling penting justru kualitas manusia yang tumbuh di dalam kampus itu sendiri,” ujar Prof. Venus.
Dari visi tersebut, lahir misi yang bersifat sangat praksis. Salah satunya membangun budaya akademik yang sehat. Kampus, baginya, harus kembali menjadi ruang dialog ilmiah, tempat riset, pembelajaran, dan perdebatan rasional berlangsung secara terbuka dan beradab.
“Tanpa budaya akademik yang kuat, transformasi apa pun akan rapuh dan mudah runtuh. Berbeda pendapat itu wajar, tapi harus dijalankan dengan nalar dan etika,” urainya.
Ia juga menaruh perhatian besar pada tata kelola. Profesionalisme, menurut Prof. Venus, tidak cukup hanya diucapkan. Ia harus dihidupi. Karena itu, ia mendorong pergeseran cara pandang dari yang sebatas responsibility menuju accountability.
“Bukan hanya menyelesaikan tugas, tapi memastikan hasilnya benar-benar memberi dampak bagi institus. Kampus ini rumah bersama. Martabatnya dijaga secara kolektif,” tegasnya.
Sebagai perguruan tinggi negeri yang relatif muda, UPN Veteran Jakarta tidak memilih jalan pintas dalam meningkatkan daya saing. Internasionalisasi ditempuh secara bertahap, melalui kolaborasi akademik, pertukaran mahasiswa dan dosen, hingga upaya menuju akreditasi internasional.
“Ini bukan soal gengsi. Internasionalisasi adalah proses belajar dan pembuktian diri. Kita ingin tahu sejauh mana kualitas kita bisa dipertanggungjawabkan,” ujar Prof. Venus.
Dalam konteks itu, penguatan riset dan inovasi menjadi elemen kunci. Riset tidak diposisikan sebagai kewajiban administratif semata, melainkan instrumen untuk menjawab persoalan nyata masyarakat. Inovasi pembelajaran, pemanfaatan teknologi digital, dan keterlibatan dunia industri diarahkan agar lulusan UPN Veteran Jakarta tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga adaptif.
Namun transformasi yang ia bayangkan tidak berhenti pada angka dan kinerja akademik. Prof. Venus memandang kampus sebagai pusat peradaban. Lingkungan fisik yang bersih, tertib, aman, dan manusiawi bukan sekadar soal estetika, melainkan bagian dari pendidikan karakter.
“Pendidikan karakter itu tidak cukup diajarkan di kelas. Tetapi, harus dialami di kantin, di tempat parkir, bahkan di toilet sekalipun,” ia menggarisbawahi.
Upaya itu mulai menunjukkan hasil. Dalam penilaian Indikator Kinerja Utama (IKU) PTN-BLU, UPN Veteran Jakarta berhasil menembus peringkat kedua secara nasional. Capaian yang lahir dari pengelolaan target yang jelas, distribusi tanggung jawab yang terukur, pendanaan yang mendukung, serta pemantauan yang disiplin.
Meski demikian, Prof. Venus enggan menjadikan capaian kinerja sebagai tujuan akhir. “Angka itu penting, tapi hanya alat. Yang lebih penting adalah nilai yang kita bangun dan kita jaga bersama,” tandasnya.
Nilai itulah yang ia kaitkan dengan makna bela negara. Bagi Prof. Venus, bela negara bukan soal militerisme, melainkan ketangguhan berpikir. Di tengah arus disinformasi dan perang persepsi, kampus memegang peran strategis dalam menjaga kewarasan publik.
“Hari ini, bela negara itu soal nalar kritis. Mahasiswa harus mampu membaca informasi, mempertanyakan narasi, dan berani membela kebenaran dengan argumentasi,” ia menuturkan.
Seluruh visi dan misi itu dijalankan melalui gaya kepemimpinan yang membumi. Ia memilih hadir di tengah aktivitas kampus, mengamati detail, dan memastikan nilai benar-benar dijalankan. Ia percaya perubahan besar selalu dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten.
Ia ingin universitas yang dipimpinnya dikenal bukan karena usia atau popularitas, melainkan karena kualitas pendidikan, kekuatan karakter, dan keberpihakannya pada nilai kebangsaan.
“Kampus yang baik bukan hanya yang meluluskan mahasiswa. Tapi yang menumbuhkan manusia utuh, berpikir jernih, berkarakter kuat, dan siap mengambil peran bagi bangsa,” pungkasnya. (Editor Gia Putri)

