Vino G Bastian Menelusuri Versi Diri yang Tersesat di Lupa Daratan

Navaswara.com – Momen ketika seorang aktor berada di puncak popularitas selalu memancarkan pesona tersendiri bagi para penggemarnya. Namun bagaimana jika kemampuan yang membuatnya dicintai publik tiba-tiba hilang begitu saja. Pertanyaan itu menjadi pemantik bagi Ernest Prakasa dalam menghadirkan film terbarunya Lupa Daratan, sebuah drama komedi yang menempatkan kebingungan dan keangkuhan seorang bintang layar lebar sebagai pusat cerita.

Di film ini, Vino G Bastian memerankan Vino Agustian, seorang aktor terkenal yang mendadak tidak mampu berakting. Publik menertawakannya dan kariernya terancam runtuh. Ernest menyebut ide awalnya muncul dari rasa iseng yang justru berkembang menjadi eksplorasi kreatif. “Awalnya hanya ide jahil yang terasa menggelitik,” ujar Ernest. Ia mengaku proses penulisan naskah berlangsung lebih bebas karena film ini tidak bertolak dari keresahan personal seperti karya-karyanya terdahulu. “Saya merasa lebih leluasa berekspresi dan itu terasa sampai proses produksi,” tambahnya.

Di Lupa Daratan, Vino G Bastian meresapi karakter yang terasa dekat dengan dirinya namun tidak pernah benar-benar ia sangka akan ia perankan. Ia menggambarkan Vino Agustian sebagai sosok yang terseret ambisinya sendiri, seorang bintang yang kehilangan arah setelah pencapaian demi pencapaian membuatnya lupa titik awal.

“Kadang seorang aktor akan diuji ketika ia sukses,” ucapnya. Ia menyadari karakter itu memantulkan hal yang sama sekali tidak asing dari dunia profesional mana pun. “Ego bisa mengalahkan segalanya. Ketika mimpi kita tidak lagi dijalankan pakai hati, kita bisa berubah menjadi orang yang bahkan tidak kita kenali,” lanjutnya. Bagi Vino, kisah itu terasa menampar karena ia ingat bagaimana setiap orang memulai perjalanan karier dengan ketulusan yang sering kali terkikis seiring sorot lampu semakin terang.

Bagi Vino, pengalaman ini menjadi tantangan yang berbeda dari proyek-proyek sebelumnya. Ia seperti diminta bermain di cermin yang merefleksikan kehidupan profesionalnya. “Biasanya saya datang sebagai karakter yang berada di luar dunia saya. Di film ini saya harus masuk ke dunia yang sangat dekat. Itu yang membuat prosesnya terasa jauh lebih sulit,” ungkapnya.

Lupa Daratan tidak hanya mengikuti perjalanan Vino Agustian mencari penyebab hilangnya kemampuan aktingnya. Film ini menelusuri sisi manusiawi seorang bintang yang kerap luput dari perhatian publik. Ada kerja keras, ada keluarga yang menjadi sandaran pertama, dan ada hubungan dengan para sahabat yang kerap dipinggirkan ketika sorotan kamera terlalu terang. Vino mengaku beberapa adegan membuatnya reflektif. “Keluarga selalu berada di fase paling awal, sebelum publik mengenal kita. Terkadang saat sudah sukses kita lupa siapa yang menopang kita dulu,” tuturnya.

Secara visual, Lupa Daratan menyajikan kontras antara kesombongan dan kerendahan hati lewat permainan warna. Penata kamera Bella Panggabean menghadirkan warna-warna terang untuk menggambarkan ego sang tokoh, kemudian beralih ke gradasi yang lebih tenang saat Vino mulai menelusuri dirinya. Sementara penata artistik Tepan Kobain merancang bentang ruang yang menegaskan dualitas itu melalui ballroom megah dan rumah sederhana sang kakak.

Pertemuan pertamanya dengan Ernest Prakasa menjadi titik yang membuatnya tak ragu menerima peran ini. Konsep filmnya terasa jujur dan dekat, membuatnya ingin ikut membongkar dinamika yang kerap tersembunyi di dunia film. “Seru banget bermain di dunia yang kami geluti sehari-hari,” katanya.

Ia menyebut Ernest memahami betul lanskap industri yang mereka jalani bersama, sehingga keduanya bisa melihat refleksi diri dari berbagai sisi. “Lupa Daratan menceritakan hal-hal yang mungkin saja terjadi kalau kami tidak bisa mengontrol diri,” ujarnya. Menurut Vino, keseruan film ini muncul dari caranya mengemas kegagalan dan ego dalam humor yang menggigit, sekaligus memberi ruang bagi penonton untuk melihat bagaimana manusia bisa tersesat tanpa menyadarinya.

Dari sisi komedi, Ernest mencoba pendekatan baru. Ia tidak lagi mengandalkan karakter pendukung sebagai sumber kelucuan. Drama dan komedi berpadu sebagai satu kesatuan naratif. Komedian Ardit Erwandha yang menjadi penasihat komedi melihat perubahan itu sebagai bentuk pendewasaan. “Di sini komedi bukan sekadar selingan. Ia ikut menggerakkan cerita,” ujarnya.

Lupa Daratan menjadi proyek paling ramai dari sisi pemain dalam jajaran produksi Imajinari, menjadi salah satu film yang dinantikan berkat kombinasi drama dan momen komedi yang dekat dengan realitas industri film. Penampilan spesial dari Lukman Sardi, Sheila Dara Aisha, Kristo Immanuel, Arie Kriting, Ardit Erwandha, Indra Jegel, Morgan Oey, dan sejumlah cameo menambah lapisan hiburan bagi penonton yang ingin melihat sisi lain dunia yang biasanya tampak glamor di permukaan.

Dengan penayangan di Netflix pada 11 Desember, para produser berharap kisah ini bisa menjangkau penonton yang lebih luas. Mereka percaya perjalanan seorang aktor yang tersandung oleh egonya sendiri bisa berbicara pada banyak orang yang pernah tersesat lalu berusaha menemukan dirinya kembali.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *