Navaswara.com – Stigma seringkali mendefinisikan seorang penyandang down syndrome dengan keterbatasan. Namun, Namira Zania Siregar telah lama merobek definisi usang itu. Di usianya yang menginjak 28 tahun, ia berdiri tegak sebagai penari profesional, model catwalk Jakarta Fashion Week, hingga bintang panggung internasional. Bagi Namira, kondisi spesialnya adalah kelebihan, bukan penghalang, sebuah prinsip yang ia tunjukkan melalui setiap langkahnya.
“Kekuranganku bukan menjadi penghalangku, kekuranganku menjadi kelebihanku,” tegas Namira, sebuah kutipan yang menjadi mantra hidupnya.
Ketertarikan Namira pada dunia tari bukanlah kebetulan. Ibu Namira, Nini Andrini, bercerita bahwa bakat putrinya pertama kali terendus oleh gurunya di sekolah. Sang guru memperhatikan Namira amat gemar menonton video tari, lalu mempraktikkannya sendiri dengan penuh gairah.
“Kalau anak-anak disabilitas intelektual ini kita tidak bisa berharap dari sisi akademis, ya. Kita bisa mengembangkan kemampuannya itu di bakatnya atau di talentanya,” ujar Nini, mengenang momen tersebut.
Berbekal informasi itu, Nini tak ragu mengambil langkah. Pada 2013, di usianya yang ke-15, Namira mulai secara serius mengasah bakatnya di sanggar tari, Gigi Art of Dance. Konsistensi Namira tak main-main. Hingga kini, sudah 13 tahun Namira setia menari.
Namira sendiri punya alasan yang kuat mengapa ia begitu mencintai seni gerak. “Suka banget sama dance, karena mengalir dari yang kupunya,” jelasnya. Setiap kali ia mendengar ketukan musik, seolah ada dorongan kuat dari dalam dirinya, memicu aliran darahnya untuk menari.
Ketekunan Namira membawanya melenggang jauh. Bersama grup penari berkebutuhan khusus dari sanggar tarinya, G-Star, Namira sudah merasakan beragam pementasan. Bukan hanya di pusat perbelanjaan, tetapi juga panggung internasional, seperti tampil di ASEAN Youth Theatre Festival di Singapura, menari di ASEAN Para Games 2018, hingga tampil di World Down Syndrome Conference di Australia dan Busan World Disability Conference.
Tak puas di lantai dansa, bakat Namira juga merekah di dunia modeling. Ia mulai dicari oleh berbagai jenama fesyen dan kecantikan. Puncaknya, ia sukses melakoni audisi dan tampil memukau di panggung bergengsi Jakarta Fashion Week (JFW) pada 2018 dan 2019. Ia bahkan pernah menjadi model video klip beberapa musisi Tanah Air.
Momen di JFW 2019 adalah yang paling berkesan. Namira harus bersaing dengan 15 peserta down syndrome lainnya. Sebelum naik panggung, rasa cemas sempat menyergap.
“Bismillah ya Dek, Adek pasti bisa. Anggap aja itu semua orang yang nonton Adek nggak ada. Adek harus yakin, Adek pandangan lurus aja. Bismillah ya Dek, Adek bisa,” kenang Nini, mengulang pesan penguatan yang ia berikan pada Namira kala itu.
Ketika Namira akhirnya muncul di catwalk, Nini tak kuasa menahan haru. Putrinya tampil penuh percaya diri di antara peragawati bertubuh jangkung.
“Orang-orang di sekitar saya tuh langsung ngasih selamat sama saya, terutama Namira mematahkan stigma bahwa seorang anak down syndrome itu bisa,” tutur Nini dengan bangga.
Namira Zania Siregar tak hanya menorehkan prestasi, ia juga telah menerima penghargaan RA Kartini Awards. Lebih dari semua medali dan panggung, keberadaannya adalah simbol nyata bahwa disabilitas intelektual bukan berarti ketidakmampuan.
Namira kini sadar, ia adalah lentera bagi banyak orang. Kepada teman-teman senasibnya di luar sana, ia menitipkan pesan yang kuat. “Buat anak-anak di luar sana, kakak harap kalian punya percaya diri. Jadilah anak yang baik, percaya dirilah bahwa kita bisa untuk raih kesempatan yang ada, dan jangan pernah menyerah.”
Tulisan dari berbagai sumber | Foto: Instagram Namira Zania Siregar

