Navaswara.com – Minat baca generasi muda menunjukkan arah yang menjanjikan dan membawa angin segar bagi ekosistem literasi nasional. Selama 2024, aktivitas membaca kembali menjadi bagian dari keseharian banyak anak muda di kota maupun daerah dan tren ini terus terlihat di berbagai ruang publik mulai dari taman, transportasi umum sampai komunitas belajar yang aktif membuat pertemuan rutin.
Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik, porsi Gen Z yang mengaku gemar membaca mencapai 76 persen. Angka ini dianggap sebagai perubahan perilaku yang cukup besar karena menunjukkan bahwa membaca sudah kembali dipandang sebagai aktivitas yang relevan, menyenangkan dan mampu menambah wawasan di tengah arus konten digital yang terus bergerak cepat. Lembaga survei itu mencatat bahwa peningkatan ini merata di berbagai wilayah.
Sejumlah judul kembali naik daun karena banyak dibicarakan pembaca muda. Novel seperti Laut Bercerita, Pulang, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, Di Tanah Lada, Teruslah Bodoh Jangan Pintar, Keajaiban di Toko Kelontong Namiya, Tanah Para Bandit, Cantik Itu Luka, dan lainnya menjadi deretan karya yang kerap muncul di daftar bacaan favorit Gen Z. Banyak di antara judul tersebut kembali diburu berkat ulasan di media sosial yang membuatnya mudah menyebar ke komunitas pembaca baru.
Lonjakan tersebut menimbulkan optimisme baru bagi pelaku industri buku di Indonesia. Penerbitan, toko buku, hingga penyelenggara festival literasi mulai merasakan peningkatan pengunjung dan keterlibatan komunitas anak muda sepanjang tahun. Yosef Adityo dari Penerbit Gramedia menilai perubahan ini sebagai sinyal positif yang layak diperhitungkan.

Ia mengatakan bahwa semakin banyak Gen Z yang membaca berarti semakin kuat pula fondasi budaya literasi di masa depan. “Kami melihat gairah baru dari pembaca muda dan ini memberi dorongan besar bagi dunia perbukuan,” ujarnya dalam konferensi pers bersama Lazada di kawasan SCBD Jakarta Selatan pada Kamis 26 November.
Fenomena meningkatnya minat baca juga berkaitan dengan tumbuhnya ekosistem digital yang mendukung kebiasaan tersebut. Platform peminjaman buku digital, komunitas diskusi daring dan konten ulasan buku di media sosial membantu memperluas jangkauan literasi sekaligus memudahkan Gen Z untuk menemukan bacaan yang sesuai minat mereka. Banyak dari mereka yang menganggap membaca menjadi cara untuk mengimbangi padatnya aktivitas sehari-hari dan menenangkan pikiran.
Para pelaku literasi menilai bahwa tren ini dapat menjadi momentum penting agar upaya penguatan kebiasaan membaca terus berlanjut. Komunitas, sekolah dan ruang publik memiliki peran besar untuk menjaga iklim positif tersebut melalui kegiatan yang konsisten dan mudah diakses. Yosef menambahkan bahwa meningkatnya antusiasme Gen Z patut dijaga agar tumbuh menjadi kebiasaan jangka panjang sekaligus memberi ruang bagi lahirnya lebih banyak penulis baru dari generasi muda.
Jika konsistensi ini bertahan, 2025 diprediksi menjadi tahun yang semakin ramai dengan inisiatif literasi yang melibatkan Gen Z sebagai motor penggerak dan menjadi bukti bahwa membaca tetap relevan dalam kehidupan modern.
