Ketika Biaya Hidup Naik dan Proteksi Terabaikan, SiSuper Relevan sebagai Pilihan Realistis

Navaswara.com – Saat ini tak sedikit perempuan yang memegang peran sebagai pengatur keuangan keluarga berada pada fase yang serba serba sulit. Keinginan untuk hidup lebih stabil semakin besar, tetapi ruang gerak terasa makin sempit karena biaya hidup yang terus naik. Situasinya kerap membuat keputusan finansial berjalan di tempat. Kita tahu teori perencanaan keuangan, paham pentingnya menyiapkan masa depan, tetapi tetap bingung harus mulai dari mana.

Menurut Aline Wiraatmaja, seorang Certified Financial Planner, kondisi ini muncul karena terlalu banyak keinginan yang tidak sejalan dengan kapasitas finansial saat ini. “Kita ingin banyak hal, tapi resources terbatas. Di sisi lain, ada ketidaksinkronan antara apa yang sebenarnya dibutuhkan dan apa yang kita lakukan. Kita tahu teorinya, tapi tidak bergerak sama sekali,” ujarnya.

Aline menjelaskan bahwa kecenderungan untuk mengejar peluang cuan sering kali membuat orang lupa menyiapkan perlindungan dasar. Keinginan untuk cepat bertumbuh membuat aspek keamanan dianggap tidak mendesak. Padahal, tanpa perlindungan yang memadai, satu kejadian tak terduga bisa menghabiskan keuangan keluarga dalam sekejap.

Ia juga menyoroti dinamika sosial yang dekat dengan budaya perempuan Indonesia, yaitu kesulitan mengatakan tidak. Banyak yang mengalah demi menjaga kenyamanan hubungan, bahkan sampai mengorbankan kebutuhan keluarga sendiri. “Kita sering merasa tidak enak menolak permintaan orang terdekat. Boundaries jadi kabur, dan akhirnya pengeluaran yang semestinya bisa dihindari justru terus terjadi,” kata Aline.

Persoalan lain muncul ketika rencana-rencana penting seperti dana pendidikan atau proteksi kesehatan ditunda. Bonus kerja atau pendapatan tambahan lebih sering digunakan untuk kebutuhan jangka pendek yang terasa menyenangkan, sementara tujuan jangka panjang dibiarkan menunggu. Aline menegaskan bahwa pola ini membuat keluarga makin rapuh menghadapi tekanan ekonomi yang terus berubah.

“Banyak keluarga yang sebenarnya ingin menata masa depan, tapi kesulitan mengelola sumber daya yang makin terbatas. Living cost naik, kebutuhan bertambah, tetapi tidak ada sistem yang membantu mereka langsung bergerak,” tuturnya.

Di tengah berbagai dilema tersebut, kebutuhan akan solusi yang praktis dan tidak rumit semakin terasa. Banyak keluarga ingin mulai bergerak, namun sering terhambat oleh proses finansial yang terasa berat sejak langkah pertama. Situasinya membuat upaya membangun keamanan jangka panjang terasa jauh, sementara tekanan harian terus mendesak.

Perubahan ini terlihat jelas dalam temuan Financial Resilience Index 2025. Sebagian besar keluarga mulai mengurangi pengeluaran non-esensial, bahkan ada yang terpaksa menyesuaikan kebutuhan penting. Meski begitu, harapan jangka panjang tetap hidup. Pendidikan anak, kemandirian finansial, dan keinginan meninggalkan bekal untuk generasi berikutnya masih menjadi tujuan yang ingin digapai banyak keluarga.

Karena itu, hadirnya solusi finansial yang memberi ruang bernapas sejak awal polis menjadi relevan bagi perempuan yang menata keuangan rumah tangga. Kebutuhan ini melahirkan pendekatan yang menggabungkan keamanan, stabilitas arus kas, dan nilai jangka panjang dalam satu langkah yang mudah dimulai.

Pada momentum inilah Sun Life Indonesia memperkenalkan Sun Prosperity Prime (SiSuper), sebuah produk yang disusun untuk membantu keluarga mengambil aksi nyata tanpa menunggu kondisi ideal. Peluncurannya di Jakarta pada 3 Desember 2025 menjadi langkah penting bagi Sun Life dalam merespons perubahan lanskap keuangan keluarga Indonesia.

“Banyak keluarga berada di persimpangan antara kebutuhan hari ini dan cita-cita masa depan. Kami ingin menghadirkan pilihan yang membantu mereka tetap bergerak,” ujar Albertus Wiroyo, President Director Sun Life Indonesia. Ia menegaskan bahwa SiSuper dirancang dengan proses yang lebih sederhana agar keluarga bisa langsung memulai perjalanan finansialnya.

SiSuper hadir dengan kombinasi manfaat tunai tahunan sejak tahun pertama, perlindungan jiwa jangka panjang, dan nilai manfaat akhir kontrak yang tinggi. Struktur ini memberi rasa aman bagi keluarga yang membutuhkan kestabilan hari ini, namun tetap ingin menyiapkan ruang untuk rencana besar di kemudian hari.

“Banyak keluarga merasa sudah terlambat ketika ingin punya proteksi. Di beberapa asuransi lain, nasabah berusia 70–75 tahun sering tidak lagi memenuhi syarat, atau mereka yang punya kondisi kesehatan tertentu langsung ditolak. Di sini kami ingin memberi ruang yang lebih inklusif, karena kebutuhan perlindungan tidak hilang hanya karena usia bertambah atau ada riwayat penyakit,” ujarnya.

“Banyak keluarga berada di persimpangan antara kebutuhan hari ini dan cita-cita masa depan. Kami ingin menghadirkan pilihan yang membantu mereka tetap bergerak,” ujar Albertus Wiroyo, President Director Sun Life Indonesia.

“Kalau masuk sekarang, manfaatnya bisa langsung terasa. Bahkan kalau di tahun kedua terjadi sesuatu, keluarga sudah punya pegangan dari sisi cashflow. Tadi Bu Aline menyebutnya seperti bonus tahunan, dan itu memang bisa dipakai untuk kebutuhan jangka pendek. Kalau belum butuh dan sudah punya instrumen lain, manfaat itu bisa diarahkan untuk pendidikan anak ketika mereka masuk kuliah beberapa tahun lagi. Ada juga pilihan yang lebih panjang untuk kebutuhan saat pensiun anak nanti,” sambungnya.

Menurut Maika Randini, Chief Marketing Officer Sun Life Indonesia, fleksibilitas menjadi kunci. “Setiap keluarga punya ritmenya sendiri. SiSuper dibangun agar dapat mengikuti perjalanan mereka, baik saat baru memulai maupun ketika sedang menata warisan,” ujarnya.

Bagi banyak keluarga yang bingung mengatur arus keuangan rumah tangga, hadirnya opsi yang langsung memberi dampak terasa membantu. Ada pegangan jangka pendek, ada perlindungan, dan ada nilai yang terus tumbuh. Sebuah kombinasi yang memungkinkan keluarga tetap melangkah meski tekanan hidup terus berubah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *