Navaswara.com – Sebagai rangkaian perayaan Hari Kemerdekaan RI ke-80 dan bulan penghormatan bagi para pahlawan nasional, Keana Production menghadirkan sebuah karya pertunjukan yang terasa relevan sekaligus monumental. Bertajuk “Monoplay Melati Pertiwi: Merajut Sejarah Perjalanan Bangsa”, produksi ini menghidupkan kembali kisah enam pahlawan perempuan dari lintas zaman, S.K. Trimurti, Nyi Ageng Serang, Ratu Kalinyamat, Rasuna Said, Christina Martha Tiahahu, dan Laksamana Malahayati—figur-figur yang kerap hadir di buku sejarah, namun jarang benar-benar kita dengar suaranya.
Tidak seperti teater biografi yang biasanya berdiri sendiri, Monoplay Melati Pertiwi disusun sebagai rangkaian cerita yang saling bertaut. Setiap tokoh dipresentasikan tak hanya melalui fakta sejarah, tetapi juga pergulatan batin, strategi, hingga keteguhan mereka dalam menghadapi zamannya.
Pertunjukan yang diproduseri Marcella Zalianty dan disutradarai Wawan Sofwan ini di Gedung Kesenian Jakarta, belum lama ini.
Marcella menyebut proyek ini sebagai perjalanan personal dan universal. “Melati Pertiwi menggali kekuatan para pahlawan perempuan, pergulatan batin mereka, identitas, dan tekanan era yang mereka hadapi. Kami ingin penonton merasakan perjalanan introspektif itu,” ujarnya.
Wawan Sofwan menambahkan, mereka tak ingin membuat pementasan yang sekadar merangkum biografi. “Kami membongkar sisi terdalam tiap karakter, membawa penonton ke momen-momen yang membentuk sejarah,” kata Wawan. Kombinasi elemen panggung, multimedia, dan akting intens menjadi fondasi untuk pengalaman teater yang emosional.
Usai proses kurasi panjang, enam nama lintas generasi bergabung, yakni Isyana Sarasvati, Maudy Koesnaedi, Tika Bravani, Hana Malasan, Marcella Zalianty, dan Glory Hilary, masing-masing memerankan tokoh ikonis yang mereka bawa dengan interpretasi personal.
Isyana, yang memerankan S.K. Trimurti, melihat benang merah antara musik dan jurnalisme sang tokoh. “Semangat beliau dalam menyuarakan kebenaran lewat tulisan mengingatkan saya bahwa musik dan kata-kata juga bisa jadi alat perubahan,” ujarnya.
Tika Bravani, pemeran Rasuna Said, justru menemukan kekuatan pena sang pahlawan sebagai sumber inspirasi. “Keberanian bersuaranya menunjukkan betapa kuatnya pendidikan dan pikiran tajam,” kata Tika.
Maudy Koesnaedi menyoroti kebijaksanaan Nyi Ageng Serang di usia senja. “Beliau mengajarkan bahwa kontribusi bisa hadir dalam banyak bentuk. Saya ingin menggunakan panggung saya untuk hal-hal yang memberdayakan,” ujarnya.
Bagi Hana Malasan, memerankan Ratu Kalinyamat adalah tentang merayakan kepemimpinan perempuan jauh sebelum zamannya. “Beliau simbol ketegasan dan visi besar. Semangat untuk ‘tampil beda’ itu relevan sekali hari ini,” katanya.
Marcella yang memerankan Laksamana Malahayati menyebut peran itu sebagai kehormatan besar.
“Beliau legenda. Memimpin Inong Balee bukan cuma soal strategi, tapi keberanian hati. Peran ini paralel dengan tantangan memimpin produksi sebesar ini,” ujarnya.
Sementara itu, Glory Hilary meresapi api perjuangan Christina Martha Tiahahu. “Semangat juangnya membara bahkan di saat-saat terakhir. Saya berharap bisa menyalurkannya ke penonton,” ucapnya.
Pertunjukan ini didukung penuh oleh Kementerian Kebudayaan RI, sebagai bagian dari upaya memperkuat nilai kepahlawanan dan peran perempuan dalam kebudayaan Indonesia. Selain menjadi ruang seni, Monoplay Melati Pertiwi juga diharapkan menjadi medium edukasi yang menumbuhkan identitas dan kebanggaan generasi muda.
Perjuangan di Balik Panggung
Di balik gemerlap panggung, para pemain Monoplay Melati Pertiwi ternyata menghadapi proses latihan yang super ketat. Marcella mengakui persiapannya berjalan dalam waktu yang sangat terbatas.
“Persiapannya singkat sekali, super singkat,” ujarnya.
Para pemain merasa waktu yang mereka punya belum cukup untuk mematangkan setiap detail. Namun, ruang latihan terbatas dan jadwal yang padat membuat mereka harus bergerak cepat.
Tantangan paling berat datang dari kondisi fisik. Tika Bravani bahkan harus latihan sambil menjalani perawatan medis. “Saya bolak-balik masuk rumah sakit. Bolak-balik diinfus, terus anak juga sakit, tapi saya harus tetap latihan,” kenangnya.
Selain kesehatan, para pemain juga dihadapkan pada desain panggung yang tidak rata. Hal ini sempat membuat Maudy Koesnaedi panik. “Pas dicobain tuh, aku harusnya bersila, tapi malah ‘rosot’. Enggak bisa stay,” ungkapnya sambil tertawa.
Untuk beberapa pemain, riset karakter menjadi proses yang tak kalah menantang.
Isyana beruntung karena ayahnya pernah mewawancarai langsung S.K. Trimurti. “Aku sempat nanya ke Ayah, minta diceritakan seperti apa vibe-nya waktu itu,” katanya. Ia juga meminta ibunya membacakan naskah demi menangkap logat Jawa Tengah yang pas.
Berbeda dengan itu, Hana Malasan harus mengandalkan imajinasi karena minimnya referensi tentang Ratu Kalinyamat. Ia menggali karakter melalui diskusi intens dengan penulis.
Dari panggung miring yang “melorot”, tubuh yang dipaksa kuat, hingga riset sejarah yang tak mudah, setiap aktris membawa perjuangan masing-masing. Semua perjalanan itu berpadu di atas panggung dan membuat enam sosok pahlawan perempuan hadir begitu hidup.
Monoplay Melati Pertiwi menjadi ruang untuk kembali mendengar suara para perempuan yang membentuk wajah bangsa.

