Boy Kelana Soebroto: Merawat Kepercayaan Lewat Komunikasi yang Tulus

Chief of Corporate Affairs PT Astra International Tbk. & Ketua Umum Perhumas

Navaswara.com – Kepercayaan adalah mata uang yang paling mahal di zaman ketika informasi berlimpah tapi kejujuran kerap dipertanyakan. Kata-kata bisa dengan mudah kehilangan makna jika tidak disertai ketulusan, apa lagi di era ini. Di titik inilah komunikasi diuji, bukan sekadar sebagai kemampuan berbicara, tetapi sebagai cermin integritas seseorang. Bagi Boy Kelana Soebroto, komunikasi adalah seni memahami dan menjaga kepercayaan, sesuatu yang harus dirawat dengan hati-hati, karena sekali rusak, sulit dipulihkan.

Pria yang kini menjabat sebagai Chief of Corporate Affairs PT Astra International Tbk. sekaligus Ketua Umum Perhumas ini memahami komunikasi sebagai tanggung jawab moral. Ia menekankan bahwa esensinya terletak pada kejujuran dan kredibilitas. “Komunikasi yang baik itu berkaitan dengan kepercayaan. Bukan siapa yang paling keras suaranya, tapi siapa yang paling bisa dipercaya,” ujarnya. Pandangan itu lahir dari pengalaman panjang di dunia korporat dan organisasi profesi, tempat ia melihat bagaimana satu pesan bisa membangun atau menghancurkan reputasi dalam sekejap.

Dari pengamatan itu, Boy memandang profesi humas sebagai garda depan penjaga kredibilitas, bukan sekadar penyusun siaran pers atau pengelola krisis. Ia menegaskan, kepercayaan publik adalah hasil kerja yang konsisten, bukan hasil kampanye sesaat. Pandangan inilah yang membentuk langkah-langkahnya di Perhumas. Di bawah kepemimpinannya, organisasi tersebut berfokus pada sertifikasi dan standarisasi profesi agar setiap praktisi memiliki kompetensi yang terukur dan diakui secara internasional. Sertifikasi itu menurutnya bukan selembar kertas. Itu jaminan bahwa kita bekerja dengan etika dan standar yang jelas.

“Di Perhumas, kami berupaya memperluas cakupan sertifikasi dan akreditasi nasional agar selaras dengan standar global melalui kemitraan dengan Global Alliance. Harapannya, ke depan akan ada mutual recognition agreement sehingga sertifikasi dan akreditasi praktisi Humas Indonesia juga diakui di tingkat internasional,” ucapnya. Langkah tersebut diharapkan memperkuat posisi Humas Indonesia, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di ranah global. Kepercayaan publik tumbuh dari profesionalisme yang bisa dipertanggungjawabkan.

Perjalanan Boy di dunia hubungan masyarakat memang tidak selalu mudah. Ia berusaha menempatkan profesi humas sejajar dengan pengambil keputusan strategis, bukan hanya sebagai pelengkap komunikasi perusahaan. Upayanya mendorong profesionalisasi menjadi langkah nyata untuk membangun kepercayaan publik secara berkelanjutan. Baginya, kredibilitas datang dari cara seseorang bertindak dan memegang prinsip, bukan dari jabatan yang disandang.

Puncak dari upayanya terlihat tahun lalu ketika Indonesia menjadi tuan rumah World Public Relations Forum 2024 di Bali. Lebih dari 1.400 peserta dari 22 negara hadir membahas masa depan komunikasi global. “Yang paling berkesan adalah melihat praktisi Indonesia berdiri sejajar dengan para pemimpin komunikasi dunia. Kita tidak lagi hanya jadi pendengar, tapi bagian dari percakapan global,” akunya.

Forum itu menghadirkan tokoh-tokoh besar seperti Retno Marsudi, Meutya Hafid, dan Justin Green. Mereka berbagi pandangan yang sejalan, komunikasi yang bertanggung jawab harus berpihak pada kebenaran dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Momen tersebut memperkuat keyakinan Boy untuk membawa Indonesia menjadi pusat pembelajaran komunikasi beretika di Asia Tenggara. “Kita punya perspektif yang khas. Komunikasi yang berakar pada budaya, tapi terbuka pada inovasi,” jelasnya.

Dalam pandangannya, masa depan profesi humas akan banyak ditentukan oleh generasi muda. Ia mengapresiasi kemampuan teknis dan literasi digital mereka, namun tetap mengingatkan agar teknologi tidak mengikis empati. “Teknologi seharusnya membuat kita lebih manusiawi, bukan sebaliknya. Empati tetap jadi inti dari profesi ini,” ujarnya. Baginya, di balik data dan algoritma, komunikasi tetap berakar pada kebutuhan manusia untuk dipahami dan dihargai.

Kesibukannya memimpin dua dunia, korporat dan organisasi profesi, membuat Boy harus bijak mengelola waktu dan energi. Ia lebih memilih mencari makna dalam setiap aktivitas ketimbang memisahkan hidup menjadi dua sisi antara pekerjaan dan pribadi. “Ketika setiap hal yang kita lakukan punya makna, energi itu datang dengan sendirinya,” katanya. Ia menemukan keseimbangan melalui keluarga, sahabat, serta kegiatan sosial dan spiritual yang menjadi sumber ketenangan.

Dari semua capaian yang pernah diraih, Boy menilai penghargaan terbesar justru datang dari hal yang sederhana. “Saat melihat orang-orang yang pernah bekerja sama dengan saya tumbuh jadi pemimpin baru, itulah pencapaian sesungguhnya,” ucapnya dengan nada tenang.

Ia juga kembali pada hal yang menjadi benang merah seluruh perjalanannya. Reputasi tidak dibangun dalam semalam, dan kepercayaan publik tidak lahir dari kampanye besar. “Komunikasi yang baik bukan yang paling lantang, tapi yang paling tulus. Dan pada akhirnya, yang paling dipercaya,” jelasnya.

Di tengah arus informasi yang kian bising, pandangan seperti itu terasa langka. “Bagi praktisi muda, penting melihat komunikasi lebih luas dari sekadar keterampilan teknis. Kunci utamanya ada pada kemampuan membaca konteks, berpikir strategis, dan memahami kepada siapa pesan disampaikan. Literasi digital dan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, harus digunakan dengan tanggung jawab dan empati agar tetap manusiawi. Di atas segalanya, komunikasi selalu tentang memahami, mendengarkan, dan menghubungkan hati. Jika nilai itu dijaga, masa depan Humas Indonesia akan terus tumbuh dengan cara yang bermakna,” katanya.

Pada tanggal 13-14 Desember 2025, Perhumas akan menyelenggarakan Konvensi Humas Indonesia 2025 di Surabaya dengan tema Inovasi Bersama untuk Indonesia Berdaya Saing Global, sebuah forum untuk berdiskusi, berbagi wawasan sekaligus memperkuat jejaring kehumasan di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *