Navaswara.com – Nama Sally Giovanny kini identik dengan BT Batik Trusmi, merek yang membawa batik Cirebon menembus panggung dunia dan meraih rekor MURI sebagai toko batik terbesar seluas 12.000 meter persegi. Namun di balik pencapaian itu, ada perjalanan panjang seorang perempuan yang tak pernah berhenti belajar.
Sally tumbuh dari rasa ingin tahu yang besar dan keberanian untuk melangkah di luar zona nyaman. Ia belajar langsung dari pengalaman, dari pertemuan dengan banyak orang, dan dari keyakinan bahwa setiap kegigihan selalu membawa hasil.
“Kesuksesan itu datang pada orang yang siap. Alhamdulillah, sejak 2006 aku sudah mulai mempersiapkan,” ujarnya. Kalimat yang terdengar sederhana, namun menggambarkan perjalanan panjang sebelum orang mengenal BT Batik Trusmi sebagai destinasi batik yang modern dan mendunia.
“Saya suka mengamati kebiasaan orang sukses, lalu saya pelajari dan praktikkan. Walaupun cuma lulusan SMA, saya senang belajar dari pengalaman orang lain.”
Sally menjalani prinsip itu dengan tekun. Sejak awal membangun bisnis, ia tidak tergoda untuk viral sekejap, melainkan menanam akar yang kuat. Maka ketika peluang datang, ia siap berdiri tegak. Batik yang dulu dianggap kuno, di tangannya bertransformasi menjadi pernyataan gaya yang relevan dan digemari generasi muda.
Bagi ibu enam putra ini, batik bukan sekadar produk dagang, melainkan warisan budaya yang hidup. Motif Mega Mendung, kebanggaan Cirebon yang sarat makna dan menggambarkan percampuran budaya, menjadi simbol yang ia bawa dengan rasa hormat sekaligus pembaruan. Ia memahami bahwa agar batik terus dicintai, ia harus membuatnya diinginkan, bukan sekadar dihargai karena sejarahnya.

Kepeduliannya juga tampak dari cara ia menjalankan bisnis. Sally memberdayakan pengrajin batik rumahan, sebagian besar perempuan yang menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga. Bagi Sally, ini bukan bentuk amal, melainkan kemitraan yang setara. Para pengrajin memperoleh penghasilan yang layak, ia mendapat hasil kerja terbaik, sementara tradisi batik terus hidup di tangan-tangan yang terampil. Sebuah ekosistem yang tumbuh dengan empati.
Langkah Sally tak selalu mulus. Ia sempat kecewa ketika kesepakatan penamaan Stasiun Kereta Api Cirebon dengan nilai puluhan miliar rupiah dibatalkan dua hari sebelum peluncuran. Perjanjian yang sudah ditandatangani dengan PT KAI urung dijalankan karena tekanan dari pihak luar yang menilai kerja sama itu monopolistik. Yang membuat Sally kecewa bukan kehilangan nilai kontrak, melainkan terhambatnya niatnya untuk mengangkat Cirebon sebagai destinasi wisata budaya.
“Hal ini bukan cuma tentang BT Batik Trusmi, tapi juga menyangkut Cirebon,” tegasnya. Ia melihat proyek tersebut sebagai bentuk investasi bagi kota kelahirannya. Namun ia juga sadar, dunia bisnis di Indonesia kerap berhadapan dengan birokrasi dan persepsi publik yang tidak sederhana. Dari situ, Sally pun belajar banyak hal.

Meski demikian, ia mengaku tak berhenti bergerak. Kini, ia memperluas bisnis ke Bali dan Labuan Bajo, dua wilayah yang ia nilai memiliki potensi besar dalam pariwisata budaya. Ia percaya, Indonesia menyimpan kekayaan luar biasa, dan dibutuhkan orang-orang yang mau berinvestasi jangka panjang untuk mengangkatnya.
Dalam berbagai perbincangan, Sally kerap menekankan pentingnya visi jangka panjang dibanding kesuksesan instan yang ditawarkan tren. Ia melihat banyak bisnis muncul cepat lalu tenggelam lebih cepat lagi karena tidak punya fondasi yang kokoh. Sementara dirinya sudah hampir dua dekade berjalan, belajar, jatuh, bangkit, dan terus tumbuh. Disiplin dan konsistensi menjadi bagian dari dirinya.
Soal belajar, Sally punya caranya sendiri. “Saya ini visual banget, kalau baca buku sering jenuh,” katanya jujur. Ia lebih senang menonton diskusi atau mendengarkan podcast, lalu langsung mempraktikkan. Setelah itu, ia evaluasi dan melangkah lagi. Cara sederhana yang baginya jauh lebih efektif.
Di antara semua pencapaian itu, satu hal tetap ia pegang teguh. “Saya cinta Indonesia banget,” ucapnya tulus. Kalimat yang terdengar ringan, namun menjadi sumber kekuatannya untuk terus berjuang. Seorang Sally tidak berhenti di zona nyaman. Ia terus belajar, bergerak, dan mencintai Tanah Air lewat caranya sendiri.

